Fotografi: Pembawa Pesan di Dunia Jurnalistik

Memotret, pada era kamera ponsel saat ini, seakan menjadi bagian tak terpisahkan dengan kehidupan kaum urban, termasuk jurnalis yang sehari-hari wajib mengambil gambar atas objek yang mereka liput.
Tapi pernahkah kamu bertanya-tanya, kenapa gambar hasil jepretan kamera itu disebut foto? Dan kenapa kegiatan potret-memotret itu disebut fotografi?
Kata “fotografi” berakar dari bahasa Yunani, yakni photos (cahaya) dan graphos (lukisan).
Dari situ, fotografi bisa diartikan sebagai kegitan melukis dengan cahaya --melalui perekaman unsur visual yang ditangkap berdasarkan bias cahaya pada sebuah benda-- menggunakan kamera film maupun digital.

Ketika fotografi ditemukan pada tahun 1839, hampir seluruh dunia merasakan emosi mendalam. Sebuah mimpi jadi kenyataan, untuk menjadikan kamera sebagai mata dunia.
Namun dengan kamera format besar, sistem diafragma (lubang untuk mengatur masuknya cahaya) kecil, dan pengoperasian kamera yang sangat sulit dimengerti, pekerjaan fotografer jadi lamban.
Perubahan signifikan terjadi 86 tahun kemudian. Kamera berkembang dalam format kecil, dengan lensa yang dapat merekam lebih bagus pada kondisi cahaya minim.
Kamera model baru tersebut membuat fotografi ikut tumbuh. Terbuka luas kesempatan untuk menampilkan kegiatan manusia secara apa adanya.
Terlebih pada era digital kini, fotografi semakin memanjakan orang dengan mudahnya program kamera yang dengan hanya menekan shutter, kamera bisa langsung menghasilkan sebuah foto yang bagus.
Alhasil, anak-anak sampai orang dewasa sekarang dapat menggunakan kamera untuk menciptakan gambar yang bagus.

Foto Jurnalistik
Fotografi menjadi bukti pencapaian peradaban manusia dengan menyebar berita secara akurat, dan karenanya turut berperan aktif dalam membentuk pengetahuan dunia baru --perkembangan dunia digital yang tak hanya mengisi ruang konservatif, tapi juga membuka mata masyarakat melalui cakrawala baru.
Fotografer harus memahami cara komunikasi yang akan disampaikan kepada masyarakat. Ia mesti sadar bahwa komunikasi adalah suatu tindakan tukar-menukar informasi atau pemikiran dari komunikator (penyampai pesan) kepada komunikan (penerima pesan), dengan menggunakan lambang atau simbol yang akhirnya akan membentuk pendapat atau sikap komunikan.
Saat seseorang memutuskan untuk belajar foto jurnalistik, dia akan masuk ke sebuah daerah di mana terdapat tradisi kuat untuk menyampaikan “sesuatu”, yakni berita, kepada orang lain --dalam hal ini publik.
Seperti dilakukan oleh fotografer seni, seorang wartawan foto harus memiliki sentuhan artistik untuk menghasilkan image yang nyata dan memenuhi unsur 5W1H (what, where, when, who, why, how).
Jadi, apa pengertian fotografi jurnalistik?
Oscar Motuloh, jurnalis foto terkemuka Indonesia, dalam makalahnya berjudul Suatu Pendekatan Visual dengan Suara Hati, menyebut foto jurnalistik adalah suatu medium untuk menyampaikan beragam bukti visual atas suatu peristiwa kepada masyarakat seluas-luasnya, bahkan hingga kerak di balik peristiwa tersebut, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Sementara Henri Cartier-Bresson, salah satu pendiri agen foto terkemuka Magnum yang terkenal dengan teori Decisive Moment, mengatakan foto jurnalistik adalah “Berkisah dengan sebuah gambar, melaporkannya dengan sebuah kamera, merekamnya dalam waktu --yang seluruhnya berlangsung-- seketika saat suatu citra tersembul mengungkap sebuah cerita.”

Dasar fotografi jurnalistik yang harus dipahami dari segi teknis adalah:
- Diafragma yang mengatur besar-kecil cahaya yang masuk ke dalam kamera dan menghasilkan efek ruang tajam.
- Rana tirai yang berfungsi membatasi cahaya yang akan membakar/mengekspos film yang geraknya diatur dengan bilangan shutter speed.
- Komponen pada kamera dan komposisi untuk membuat sebuah pesan secara visual.

Ada metode yang memudahkan fotografer untuk memperkaya komposisi foto. Metode yang dikenal dengan sebutan EDFAT ini diperkenalkan Walter Cronkite School of Journalism and Mass Communication, Arizona State University.
Metode tersebut dinilai tepat untuk membimbing seseorang dalam menjalani setiap penugasan ataupun mengembangkan konsep fotografi pribadi.
EDFAT adalah metode pemotretan untuk melatih cara pandang seseorang dalam melihat sesuatu dengan detail tajam. Dalam tahapan-tahapannya, metode EDFAT mengincar bentuk visual atas peristiwa bernilai berita.
Berikut rincian tahapan EDFAT:
- ENTIRE (E). Dikenal juga sebagai established shot, yaitu keseluruhan pemotretan yang dilakukan begitu melihat suatu peristiwa atau bentuk penugasan lain, untuk mengintai bagian-bagian guna dipilih sebagai objek.
- DETAIL (D). Yakni suatu pilihan atas bagian tertentu dari keseluruhan pandangan sebelumnya (entire). Tahap ini adalah suatu pilihan pengambilan keputusan atas sesuatu yang dinilai tepat sebagai “point of interest”.
- FRAME (F). Proses membingkai suatu detail yang telah dipilih. Fase ini mengantar seorang calon foto jurnalis untuk mengenal arti komposisi, pola, tekstur, dan subjek pemotretan dengan akurat. Rasa artistik semakin penting pada tahap ini.
- ANGLE (A). Tahap di mana sudut pandang menjadi dominan, misal memotret dari ketinggian, bawah, atau sejajar.
- TIME (T). Ini tahap penentuan penyinaran dengan kombinasi yang tepat antara diafragma dan kecepatan. Pada fase ini, pengetahuan teknis atas keinginan membekukan gerakan atau memilih ruang tajam adalah salah satu syarat yang sangat diperlukan.
Pemahaman dasar fotografi tersebut menjadi satu modal bagi setiap fotografer untuk menyampaikan dan menyajikan sebuah pesan visual kepada masyarakat secara bijaksana dan bertanggung jawab.

Banyak penugasan peliputan atas suatu peristiwa atau pembuatan ilustrasi yang memerlukan konsep foto agar kuat dengan rangkaian isi tulisan.
Saat ini, fotografi jurnalistik bukan hanya sebatas pelengkap dari sebuah konten berita yang tersaji di media cetak, online, bahkan media sosial.
Fotografi jurnalistik dengan keterangan foto (caption) pun sudah mampu disajikan menjadi sebuah konten yang diterima masyarakat tanpa perlu menyertakan tulisan panjang. Berikut contohnya.


Sajian foto pada media massa akan mengalami proses kurasi, yakni melalui beberapa tahap penyaringan --dari fotografer itu sendiri yang berada di jantung peristiwa, kemudian editor yang akan mengurasi sesuai halaman atau laman media yang digunakan dengan pertimbangan kepantasan, estetika, informatif atau tidak, dan etika yang disajikan pada masyarakat.
Sayangnya, suguhan foto peristiwa dan ilustrasi mengenai kekerasan masih saja tersaji di media massa tanpa memikirkan kepantasan etika, misal apakah foto tersebut mesti berwarna hitam-putih, menggunakan efek blur, menayangkannya dengan konsep lebih halus tanpa menghidangkan kekerasan secara frontal.
I have been a witness, and these pictures are my testimony. The events I have recorded should not be forgotten.
