FPI DKI: Penyerangan Restoran Manado Cempaka Putih Bentuk Provokasi

Kasus penyerangan restoran Manado di Cempaka Putih, Jakarta Pusat mengundang banyak perhatian. Bahkan ada yang mengaitkannya dengan isu SARA.
Merespons hal itu, Ketua FPI Jakarta Habib Muhsin Al Attas mengatakan kasus penyerangan itu hanyalah bentuk provokasi oknum yang tidak bertanggungjawab. Dari kabar yang berhembus sejumlah pelaku itu mengenakan peci.
"Ini ekses aja, provokasi, bisa saja orang ini beli sarung beli peci biar dianggap orang Islam, mereka melempar (batu). Ini diseret jadi etnis, jadi agama. Ini berbahaya," kata Muhsin setelah doa bersama lintas agama di lokasi penyerangan, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Rabu (17/0).
Menurut Muhsin, kasus ini bermotif mengadu-domba antar umat beragama untuk menciptakan konflik agama dan ras. Terlebih, saat ini tengah memasuki masa kampanye Pemilu 2019.
"Ini permainan politik kotor yang ingin mengadu-domba antar umat beragama," jelasnya.
Dia berharap masyarakat tetap dingin dan tidak terprovokasi pascapenyerangan ini. Selain itu, ia juga berharap pihak kepolisian bersikap tegas dan adil dalam penindakan kasus ini.
"Saya harapkan masyarakat baik umat Islam atau agama Nasrani dan yang lain jangan terprovokasi," tegasnya.
"Kalau ini tidak dibuka, penegak hukum tidak tegas menutup-nutupi maka bisa terjadi hal yang tidak kita inginkan," imbuhnya.
Dua restoran Manado sebelumnya dilaporkan diserang oleh sekelompok orang yang tak dikenal. Kejadian ini terjadi pada Selasa (16/10) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB.
"Benar hari ini tanggal serta jam tersebut di atas, telah terjadi tindak pidana pengrusakan restoran dan kaca mobil Daihatsu Xenia, warna hitam," kata Kapolsek Cempaka Putih Kompol Rosiana, dalam keterangannya, Selasa (16/10).
