Gadis Somalia Dipaksa Menikah demi Selamatkan Keluarga dari Kelaparan

Namanya Zeinab, gadis belia dari sebuah desa di Somalia yang terkena bencana kekeringan. Keluarga Zeinab dalam keadaan memprihatinkan, sumurnya kering dan ternaknya mati. Dengan keadaan seperti ini Zeinab dan keluarga terancam kelaparan.
Tahun lalu seorang laki-laki yang jauh lebih tua dari Zeinab melamarnya dengan mas kawin sebesar 1.000 dolar Amerika atau setara 13 juta rupiah. Angka yang lebih dari cukup untuk menyelamatkan kehidupan dua adik dan 20 keponakannya dari kelaparan dan membawa mereka ke Etiopia, tempat pengungsian yang disiapkan oleh organisasi internasional untuk korban kekeringan Somalia.
Tapi, Zeinab menolaknya.
"Saya memilih mati. Lebih baik saya berlari ke hutan dan dimakan singa," kata Zeinab, seperti dikutip Reuters, Senin (10/4).
Mendengar jawaban anaknya, ibunda Zeinab, Abdir Hussein geram, "lalu kita akan berdiam diri hingga mati kelaparan dan binatang akan memakan tulang-tulang kita," teriak Abdir Hussein.

Menikahkan putri mereka dengan laki-laki kaya memang terdengar lebih baik, dibanding tinggal di tenda darurat yang terbuat dari kain dan plastik seadanya, sambil menunggu semangkuk sagu yang hanya cukup untuk anaknya yang paling kecil.
Walaupun hal itu sama saja dengan menjual putri mereka, ini adalah jalan keluar yang paling mudah bagi orang Somalia untuk selamat dari kelaparan karena bencana kekeringan yang melanda negara mereka selama 2 tahun terakhir.
Begitu juga dengan Hussein, yang memilih menerima pinangan laki-laki tua untuk Zeinab yang masih berusia 14 tahun demi menyelamatkan hidup adik-adik dan sepupunya.
"Saya merasa jahat," kata Hussein. "Saya telah membunuh mimpi putri saya. Tetapi tanpa uang lamaran itu, kita semua akan mati," terangnya.
Zeinab mengatakan ingin membantu keluarganya keluar dari kesulitan, "Saya ingin melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan ini," kata Zeinab sambil menatap adik kecilnya yang sedang menangis.
Tapi Zeinab tidak ingin menikah, dia masih punya mimpi yang ingin dia capai. Zeinab hanya ingin menjadi guru, mimpi yang terdengar sederhana, tapi hampir tidak mungkin untuk anak Somalia.
Perkara ini menjadi beban berat yang menghalangi Zeinab menuju mimpinya, dia adalah satu-satunya harapan untuk menghidupi 1 kakak laki-lakinya yang mengenaskan, 1 adik perempuan, 20 keponakan dari 3 kakaknya yang telah menjanda dan kedua orang tuanya.
Zeinab bersikeras menolak lamaran itu, dia memilih untuk menyendiri dan kabur. "Sesungguhnya kami tidak mau memaksa," kata ibunya dengan nada letih, kerutan khawatir tergurat di keningnya.
Sebulan kemudian, Zeinab akhirnya menyerah, menyerah pada mimpinya dan memilih membantu keluarga dengan menikahi laki-laki yang melamarnya.

Mahar 1000 dolar Amerika telah diterima, janji pernikahan diucapkan, dan pesta dilangsungkan. Zeinab resmi menjadi istri. Tiga hari, Zeinab melarikan diri.
Zeinab kabur ke keluarganya di kota Dolo. Sayangnya, suami Zeinab mengikutinya. Dia mengatakan jika Zeinab menolak kembali menjadi istrinya, dia meminta uangnya kembali. "Atau saya akan membawanya dengan paksa," kata suami Zeinab mengancam.

Keluarganya Zeinab tidak bisa membayar kembali uang dari laki-laki itu karena telah habis untuk makan dan perjalanan ke pengungsian di kota Dolo Etiopia.
Melihat keadaan ini, seorang relawan yang menjadi guru di pengungsian Dolo, Abdeiweli Mohammed Hersi, turun tangan membantu mencari jalan keluar untuk Zeinab.
Hersi membawa Zeinab ke sebuah organisasi kemanusiaan lokal yang kemudian membawanya ke lembaga kemanusiaan internasional Italia bernama Cooperazione Internazionale. Koordinator lembaga itu lalu menemui donatur Uni Eropa dan memutuskan untuk ikut campur dalam masalah gadis malang ini.
"Kita harus melakukan sesuatu untuk gadis ini," kata Deka Warsame, koodinator Coorperazione internazionale. "Atau ini akan menjadi pemerkosaan setiap malam."
Warsame lalu mengatakan kepada Zeinab bahwa timnya akan berbicara dengan suami Zeinab. Dia akan menerima kembali uangnya dan mereka akan sah bercerai secara hukum.
Bola mata hitam Zeinab membelalak, "apakah saya akan benar-benar bebas?" tanya Zeinab.

Somalia terancam mengalami bencana kelaparan ketika musim kemarau panjang mendera. Menurut laporan PBB, setidaknya 6,2 juta orang atau setengah dari populasi Somalia membutuhkan bantuan.
