Ganjar Kumpulkan 11 Pakar Sebelum Susun Rencana Atasi Corona

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Wagub Taj Yasin.  Foto: Dok. Pemprov Jateng
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Wagub Taj Yasin. Foto: Dok. Pemprov Jateng

Guna menyusun rencana aksi untuk mengatasi merebaknya virus corona atau COVID-19 di Provinsi Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo mengumpulkan 11 pakar. Pertemuan bersama ahli virus, epidemolog, dokter gizi, klinisi, sampai ahli paru-paru itu digelar pada Kamis (19/3).

Ganjar bersama Wagub Taj Yasin Maimoen dan Ketua Gugus Tugas atau tim pelaksana tanggap Corona Jawa Tengah yang juga Penanggung Jawab Sekda Heru Setiadi mendengar paparan satu persatu dari para ahli. Usai paparan, Ganjar melanjutkan dengan diskusi serta menyusun rencana aksi menghadapi COVID-19 di Jawa Tengah.

Ganjar menegaskan bahwa pihaknya tengah mencari solusi yang tepat untuk mengatasi virus yang sudah jadi pandemi global ini. "Kita sedang mencari solusi yang tepat. Saya ingin kita melawan virus ini. Jangan ngumpet," Kata Ganjar.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo imbau Pegawai Pemprov Kerja dari Rumah Secara Online. Foto: Dok. pemprov jateng

Ia menganalogikan kehadiran virus tersebut seperti tentara Belanda yang dulu kala menyerbu Tanah Air. Mereka datang dengan bersenjata lengkap, ada senjata api, hingga membawa meriam. Sementara tentara Indonesia hanya memiliki bambu runcing. Bersembunyi pun, jika tidak ada kekompakan hanya akan menjadi bom waktu.

"Sekarang yang kita butuhkan adalah baju anti peluru. Untuk menghadapi virus corona ini, baju anti peluru-nya apa? Kondisi tubuh yang fit," ujarnya.

Ganjar menyebut yang diperlukan oleh para pakar saat ini yakni data valid persebaran COVID-19 di Jawa Tengah. Terkait hal itu, Ganjar menyampaikan pihaknya telah menyiapkan berbagai kanal yang siap menyajikan hal tersebut. Namun agar lebih detail, Ganjar meminta para pakar untuk komunikasi intens dengan Dinas Kesehatan Jateng.

"Mereka butuh data dan transparansi, menyiapkan siapa dirawat di mana. Akan kita kembangkan minimal sampai desa atau kelurahan mana. Apakah masyarakat siap untuk mengisolasi diri? Nah, masyarakat mesti teredukasi dengan baik," terangnya.

Pengecekan suhu badan oleh petugas Bandara Internasional Jendral Ahmad Yani Semarang di terminal kedatangan domestik sebagai antisipasi Corona. Foto: Afiati Tsalitsati/Kumparan

Agar edukasi kepada masyarakat tersebut berjalan efektif, Ganjar bakal menggandeng bupati dan wali kota untuk bergerak serentak. Nantinya mereka bisa menggerakkan kepala desa sampai tingkat RT.

"Kalau kita mau menggerakkan masyarakat saya meminta pakar, saya menggandeng dokter yang akan menerjunkan relawan," katanya.

Apa yang disampaikan Ganjar tersebut dibenarkan oleh Evi, pakar virus dari Universitas Diponegoro Semarang. Menurutnya sampai saat ini belum ada satu pun vaksin penangkal COVID-19, padahal perkembangan virus itu sangat cepat.

Karena satu virus bisa membuat seribu mutasi. Selain itu, virus ini juga bisa berubah sikap jika kita biarkan berkembang di masyarakat. Bisa melunak atau mengganas.

“Kalau saluran pernafasan atas yang diserang, maka virus ini bisa keluar dengan hanya bersin, batuk, atau bahkan hanya dengan bicara. Beda dengan SARS. Kalau SARS harus dengan batuk. Jadi COVID-19 ini lebih mudah menular. Tapi kebanyakan orang tidak sadar telah menularkan," katanya.

Tim medis mengevakuasi seorang pasien di dalam mobil ambulans saat simulasi penanganan wabah virus Corona di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (30/1). Foto: ANTARA FOTO/Aji Styawan

Evi menyarankan agar pemerintah mengedepankan langkah promotif dalam penangkalan. Pertama dengan memperkuat daya tahan tubuh dan menerapkan pola hidup sehat. Langkah selanjutnya dengan membunuh virus tersebut yang menempel di luar tubuh. Sehingga dia merekomendasikan agar masyarakat menjaga kebersihan dan rajin olahraga.

"Cara membunuh virus itu setidaknya dengan dua cara itu. Untuk yang poin kedua, artinya kita bunuh sebelum masuk atau bahkan menempel di tubuh kita. Caranya? Sering cuci tangan dan mengelap benda-benda yang dicurigai telah terjadi kontak dengan korban positif menggunakan alkohol atau air sabun," katanya.

Langkah promotif selain menjaga daya tahan tubuh dan menerapkan hidup sehat adalah dengan mengonsumsi makanan yang seimbang. Menurut dokter Elisa, yang merupakan seorang dokter gizi, makanan seimbang tersebut tercermin dalam tumpeng seimbang.

Dimulai dari olahraga, mengonsumsi karbohidrat, protein, buah dan sayuran, serta mencukupi konsumsi gula dan garam.

"Maka ini ada tumpeng keseimbangan untuk kita melawan," katanya.

kumparan post embed