Ganti Pelanggan Akibat Perang, Petani Ukraina Jual Gandum ke Rusia

23 Juli 2022 15:07
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi Tepung Terigu. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tepung Terigu. Foto: Shutterstock
Viktor Molotok mengelola pertanian seluas 5.500 hektar di Desa Kalmykivka, Luhansk, Ukraina. Rusia telah menaklukkan wilayah itu sejak awal Juli, tetapi realita tidak berubah bagi petani seperti Molotok. Satu-satunya hal yang telah berubah hanyalah pelanggan mereka.
Mengenakan kemeja kotak-kotak, manajer pertanian itu menepis obrolan seputar politik. Molotok mengatakan, bisnisnya tetap berjalan seperti semula, terlepas dari serangan Rusia.
Kini, dia hanya mengalihkan pengiriman biji-bijian dan biji bunga mataharinya kepada Rusia. Molotok mulai menjalin relasi baru dengan perusahaan-perusahaan negara tetangganya itu.
"Perusahaan kami bekerja seperti dulu," ujar Molotok, dikutip dari AFP, Sabtu (23/7/2022).
"Siapa yang memberikan harga terbaik, ke situlah kami akan menjual," sambung dia.
Sisa-sisa rudal balistik Tochka-U Rusia terlihat di ladang gandum di wilayah Chernihiv, Ukraina. Foto: Vladyslav Musiienko/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Sisa-sisa rudal balistik Tochka-U Rusia terlihat di ladang gandum di wilayah Chernihiv, Ukraina. Foto: Vladyslav Musiienko/REUTERS
Biji-bijian menumpuk dalam gundukan di sekitar Molotok. Dia berdiri dikelilingi hingga beberapa ton pasokan yang melimpah.
"Kami tidak akan kelaparan, itu pasti," ungkap pria itu sambil tertawa.
"Tetapi soal Eropa, saya tidak begitu yakin," tambahnya.
Sejak awal tahun, Molotok telah menjual 800 ton biji bunga matahari ke Rusia. Dia memanfaatkan jaringan perusahaan-perusahaan di wilayah yang dikuasai oleh kelompok separatis pro-Rusia di Ukraina.
Petani itu mengaku, dia tidak mengetahui ke mana biji-bijian itu akan pergi setelah mencapai Rusia. Molotok tidak menutup kemungkinan bahwa pasokannya dapat dijual kembali ke negara-negara lain.
"Kami menjual melalui pedagang ke Rusia. Saya tidak bisa memastikan ke mana produksi ini pergi," jelas Molotok.
"Mungkin mereka membawanya ke Afrika atau Asia, saya tidak tahu," imbuhnya.
Pekerja menyebarkan tanaman gandum untuk dikeringkan. Foto: Ajay Verma/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja menyebarkan tanaman gandum untuk dikeringkan. Foto: Ajay Verma/REUTERS
Pertanian tengah mengadang curah hujan yang rendah. Molotok memprediksi, produksi telah berkurang hingga 15 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Kendati demikian, sektor tersebut luput dari bentrokan bersenjata. Gempuran tidak menyentuh Kalmykivka ketika desa itu jatuh ke dalam cengkeraman Rusia.
Tanda-tanda kehancuran tidak tampak di daerah itu. Pertempuran sengit hanya terdeteksi dari beberapa puluh kilometer jauhnya.
Molotok mengungkap, para petani mendengar gema artileri selama pertempuran berminggu-minggu di Lysychansk. Rusia telah merebut kota itu pula pada awal Juli.
Salah satu saksinya adalah seorang pekerja musiman berusia 21 tahun di lahan tani, Alexander. Dia menjelaskan, kepanikan sempat menyelimuti Kalmykivka ketika invasi pertama kali meletus.
Namun, Alexander mengatakan, orang-orang telah terbiasa dengan kehadiran tentara Rusia. Dia berbicara kepada media selama tur pers yang dikontrol ketat oleh para serdadu.
Sebuah truk terlihat di terminal gandum selama panen jelai di wilayah Odesa, Ukraina. Foto: Igor Tkachenko/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah truk terlihat di terminal gandum selama panen jelai di wilayah Odesa, Ukraina. Foto: Igor Tkachenko/REUTERS
Ukraina memiliki reputasi sebagai 'keranjang roti' Eropa. Negara itu adalah salah satu produsen biji-bijian utama di dunia.
Serangan Rusia kemudian menyumbat ekspor biji-bijian dari Ukraina. Keadaan lantas memicu ketakutan akan ancaman kelaparan yang dapat melanda hingga ke seluruh dunia.
Sejak invasi, ribuan ton gandum terjebak di pelabuhan yang diblokir di negara itu. Ladang gandum terbentang sejauh mata memandang di Zaporizhzhia. Rusia telah mengendalikan sebagian besar wilayah tersebut.
Truk-truk juga terlihat membongkar muatan di Melitopol. Kota tersebut telah diambil alih pula oleh pasukan Rusia.
Bendera-bendera Rusia tampak memagari Melitopol. Spanduk bertuliskan '220 tahun Kegubernuran Taurida' turut menghiasi kota, mengingatkan penduduk bahwa wilayah itu sempat menjadi bagian dari kekaisaran Rusia.
Pekerja memanen gandum di ladang perusahaan pertanian. Foto: Shamil Zhumatov/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja memanen gandum di ladang perusahaan pertanian. Foto: Shamil Zhumatov/REUTERS
Sebuah pabrik di kota itu masih beroperasi sejak perang melanda. Mengenakan masker, karyawannya mengolah gandum menjadi tepung sebagaimana sebelumnya.
Kepala pemerintahan setempat yang pro-Rusia, Andrey Siguta, tampak puas dengan pekerjaan pabrik tepung itu. Siguta menyematkan lencana berhuruf Z, yakni simbol tentara Rusia yang berperang di Ukraina.
Pada Jumat (22/7/2022), Rusia dan Ukraina menandatangani perjanjian untuk membuka rute ekspor maritim.
Ukraina menuduh, Rusia telah mencuri hasil panennya di wilayah pendudukan untuk konsumsi sendiri atau untuk dijual kembali ke luar negeri. Rusia telah berulang kali membantah klaim-klaim tersebut.
Siguta mengatakan, para pengelola penyimpanan gandum lokal telah menandatangani kesepakatan dengan pihak berwenang Rusia. Menurut Siguta, prioritasnya sekarang adalah mementingkan ketahanan pangan di kawasan itu.
"Kami telah membuat perusahaan biji-bijian milik negara yang membeli dari semua penyimpanan di wilayah ini," terang Siguta.
"Setelah itu akan ditentukan kepada siapa dan dalam volume berapa kami akan menjualnya," lanjut dia.