Gara-gara Kelompok Agama, Tetsuya Yamagami Tembak Mati Shinzo Abe

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang pria, diyakini sebagai tersangka penembakan mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ditahan oleh petugas polisi di Stasiun Yamato Saidaiji di Nara, Prefektur Nara, Jepang, Jumat (8/7/2022). Foto: Kyodo/via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pria, diyakini sebagai tersangka penembakan mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ditahan oleh petugas polisi di Stasiun Yamato Saidaiji di Nara, Prefektur Nara, Jepang, Jumat (8/7/2022). Foto: Kyodo/via REUTERS

Tersangka pembunuhan eks Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe meyakini, Abe terlibat dengan kelompok agama yang menyebabkan kehancuran finansial ibunya.

Tetsuya Yamagami, seorang pengangguran berusia 41 tahun, mengatakan bahwa ibunya memberikan donasi besar kepada sebuah kelompok religius yang dipromosikan oleh Abe. Akibat donasi tersebut, ibu Yamagami pun mengalami kebangkrutan.

"Ibu saya terlibat dalam kelompok religius dan saya membencinya," papar Yamagami kepada polisi, dikutip dari Kyodo dan sejumlah media lokal lainnya.

Meski demikian, polisi menolak mengomentari rincian yang dilaporkan oleh media Jepang tentang motif aksi Yamagami. Mereka juga tidak menyebutkan nama kelompok religius yang dimaksud oleh Yamagami.

Yamagami menembak eks Perdana Menteri Shinzo Abe pada Jumat (8/7/2022) pukul 11.30 waktu setempat. Saat itu, Abe sedang berpidato dalam dalam kampanye pemilihan kandidat Partai Demokrat Liberal di dekat Stasiun Yamatosaidaiji di Kota Nara.

Polisi berhasil menangkap Yamagami di tempat kejadian. Sementara itu, eks-Perdana Menteri Abe dilaporkan tewas pada hari yang sama akibat pendarahan hebat.

Yamagami melakukan aslinya dengan menggunakan senjata yang ia rakit sendiri menggunakan peralatan yang dipesan secara online. Rekaman kejadian menunjukkannya melangkah ke belakang Abe saat ia berpidato sebelum melepaskan dua tembakan dari senjata yang terbuat dari pipa sepanjang 40 sentimeter yang dibungkus lakban.

Laporan media lokal mengatakan, Yamagami telah merencanakan aksinya selama berbulan-bulan. Ia bahkan menghadiri beberapa acara kampanye Abe, termasuk sebuah acara yang diadakan sehari sebelum ia melakukan aksinya.

NHK mengatakan, Yamagami sebelumnya juga sempat berencana untuk menyerang Abe menggunakan bom.

Sosok pendiam

Mantan perdana menteri Jepang Shinzo Abe terbaring di tanah setelah dia ditembak selama kampanye pemilihan untuk pemilihan Majelis Tinggi 10 Juli 2022 di Nara, Jepang barat, Jumat (8/7/2022). Foto: Kyodo/via REUTERS

Diberitakan Reuters, tetangga Yamagami mengatakan ia adalah seorang pendiam yang sering mengabaikan pembicaraan.

Yamagami tinggal di lantai delapan sebuah bangunan apartemen kecil. Lift di bangunan itu hanya berfungsi di tiga lantai bawah. Yamagami pun harus turun dan menaiki tangga untuk menuju unit apartemennya setiap hari.

Salah satu tetangganya, seorang wanita berusia 69 tahun yang tinggal satu lantai di bawahnya, melihat Yamagami tiga hari sebelum pembunuhan Abe.

"Saya menyapa tetapi dia mengabaikan saya. Dia hanya melihat ke bawah ke tanah. Dia tampak gugup," jelas perempuan itu.

"Itu seperti saya tidak terlihat. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggunya,” tambahnya.

Seorang wanita Vietnam yang tinggal dua pintu dari Yamagami mengatakan bahwa dia tampak sering menyendiri.

"Aku melihatnya beberapa kali. Aku memberi hormat padanya di lift, tapi dia tidak mengatakan apa-apa,” ujar wanita itu.

Pengalaman dengan senjata dalam Pasukan Maritim

Penyelidik bekerja di sekitar lokasi di mana mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ditembak saat kampanye pemilihan untuk pemilihan Majelis Tinggi 10 Juli 2022 di Nara, Jepang barat, Jumat (8/7/2022). Foto: Kyodo/via REUTERS

Seorang juru bicara angkatan laut Jepang mengatakan bahwa seseorang bernama Tetsuya Yamagami bertugas di Pasukan Bela Diri Maritim dari tahun 2002 hingga 2005. Namun dia menolak untuk mengatakan apakah ini adalah orang yang sama dengan tersangka pembunuh Abe.

Yamagami ini bergabung dengan unit pelatihan di Sasebo, pangkalan angkatan laut utama di barat daya Jepang. Ia ditugaskan ke bagian artileri perusak dan ditugaskan ke sebuah kapal pelatihan di Hiroshima.

"Selama dinas mereka, anggota Pasukan Bela Diri berlatih dengan peluru tajam setahun sekali. Mereka juga melakukan kerusakan dan pemeliharaan senjata," kata seorang perwira senior angkatan laut Jepang.

"Tetapi karena mereka mengikuti perintah ketika melakukannya, sulit dipercaya bahwa mereka memperoleh pengetahuan yang cukup untuk bisa membuat senjata sendiri," sambungnya.

Beberapa saat setelah meninggalkan angkatan laut, Yamagami mendaftar di perusahaan kepegawaian. Pada akhir 2020, ia mulai bekerja di sebuah pabrik di Kyoto sebagai operator forklift.

Dia tidak punya masalah sampai pertengahan April, ketika dia bolos kerja tanpa izin dan kemudian memberi tahu bosnya bahwa dia ingin berhenti. Dia pun menghabiskan masa cutinya dan berhenti pada 15 Mei.

Penulis: Airin Sukono.