kumparan
18 Oktober 2018 12:39

Garangnya Ribuan Pelanggar Lalu Lintas di Simpang Pasar Minggu

Spesial Content, Benang Kusur Pasar Minggu
Benang kusut Pasar Minggu (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)
Semrawut, macet, dan banyaknya pemotor yang melawan arus menjadi pemandangan sehari-hari di persimpangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
ADVERTISEMENT
Kondisi itu diperparah dengan JPO yang ambruk dan tak kunjung diperbaiki. Belum lagi trotoar di tepi jalan yang dipenuhi kendaraan roda dua serta pedagang buah, sehingga membuat para pejalan kaki terpaksa mengalah.
Kekacauan yang sudah terjadi bertahun-tahun itu, seakan menjadi identitas wilayah jantung kota Jakarta Selatan.
kumparan melakukan pemantauan dengan menghitung jumlah pelanggaran lalu lintas yang terjadi di persimpangan Pasar Minggu. Pemantauan dilakukan selama 4 hari sejak pukul 07.00 WIB hingga 20.00 WIB.
Video
52 jam pengamatan dilakukan, tercatat ada 24.604 pelanggaran. Penyumbang terbesar adalah para pemotor yang melawan arah dari dan ke Stasiun Pasar Minggu. Rata-rata para pengendara beralasan agar mereka bisa cepat sampai atau karena ikut-ikutan saja.
kumparan berbincang dengan Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna soal benang kusut Pasar Minggu ini. Menurut Yayat, kawasan Pasar Minggu menjadi salah satu pusat kegiatan masyarakat, ada pasar, terminal, stasiun, hingga rumah sakit.
Pengamat Tata Kota Yayat Supratna
Pengamat Tata Kota Yayat Supratna (Foto: Marissa Krestianti/kumparan)
Bila dilihat dari tata ruangnya, tidak ada yang salah dengan penataan Pasar Minggu. Hanya saja yang menjadi masalah yakni mental masyarakat yang tak peduli dengan aturan.
ADVERTISEMENT
"Enggak ada masalah ya dari tata ruang kota di Pasar Minggu. Sebetulnya, Pasar Minggu ada simpul transportasi itu betul. Ya artinya tinggal bagaimana mengaturnya saja," ujar Yayat saat ditemui kumparan, di Universitas Trisakti, Senin (15/10).
Lalu lintas tidak hanya persoalan persimpangan saja. Yayat menyebut peningkatan jumlah kendaraan pribadi yang semakin banyak juga menjadi salah satu faktor lalu lintas tidak lancar.
Ditambah lagi dengan kondisi masyarakat Jakarta yang tidak memiliki budaya berkota, yakni tertib aturan, tidak merusak dan mematuhi.
Pengendara Sepeda Motor, Pasar Minggu
Potret pengendara sepeda motor yang melawan arus di perempatan Pasar Minggu. (Foto: Rizki Baiquni/kumparan)
Hal tersebut yang menyebabkan kemacetan yang tak kunjung terselesaikan di kawasan tersebut. Banyak kendaraan yang tidak sesuai jalur, menerobos, parkir sembarangan hingga PKL berjualan di sepanjang trotoar.
Menurutnya, masyarakat Indonesia harus memiliki budaya berkota agar lalu lintas membaik.
ADVERTISEMENT
Tak hanya itu, lalu lintas yang semrawut ini juga disebabkan oleh masyarakat yang sering kali mengandalkan uang untuk menyelesaikan masalah. Misal saja, PKL yang berani membayar uang kepada preman demi bisa berjualan di sepanjang jalan trotoar.
Yayat menilai kawasan Pasar Minggu merupakan cerminan kultur yang buruk dalam berlalu lintas.
"Jadi lalin semrawut ini di situ persoalan menata, bukan persoalan tata ruang saja, karena di situ ada uang, jadi tata uang. Karena kepentingannya banyak, parkir dapat, premannya dapat. Kita diatur oleh uang, semua strukturnya dari uang. Uanglah yang menjadi persoalannya. Mereka melanggar karena alasan mencari uang," ucap Yayat.
Tatang Hidayat, Kepala Satuan Pelaksana (Kasatpel)
Tatang Hidayat, Kepala Satuan Pelaksana (Kasatpel) (Foto: Irish Tamzil/kumparan)
Kondisi ini diamini oleh Tatang Hidayat, Kepala Satuan Pelaksana (Kasatpel), Kecamatan Pasar Minggu. Tatang sehari-hari bertugas memantau lalu lintas di simpang Pasar Minggu. Menurutnya pelanggaran banyak dilakukan oleh tukang ojek, baik itu ojek pangkalan ataupun online.
ADVERTISEMENT
“Pelanggaran lalu lintas itu, yang terutama adalah opang (ojek pangkalan) dan ojol (ojek online) ya,” kata Tatang saat ditemui kumparan di Simpang Pasar Minggu.
Alasannya lagi-lagi karena praktis dan bisa menghemat waktu. Para pengendara memilih memotong jalan dengan melanggar aturan, dibanding putar balik sesuai arah dan jalurnya.
Menurut Tatang, lalu lintas semrawut di simpang Stasiun Pasar Minggu terjadi di jam-jam tertentu saja. Misalnya setiap pagi saat warga mulai beraktivitas, dan sore ketika warga pulang ke rumah.
Tatang dan petugas lainnya mengaku kewalahan mengatur para pengendara motor yang melanggar itu. Bahkan untuk ‘memaksa’ para pengendara agar tidak melanggar, petugas membuat rekayasa lalu lintas dengan Moveable Concrete Barrier (MCB) dan Plastic Cone.
ADVERTISEMENT
Tujuannya untuk mengurangi pelanggaran dan memperkecil ruang angkutan umum untuk ngetem. Dengan adanya rekayasa ini, menurut Tatang, angka pelanggaran berkurang 60 persen.
Meski dijaga oleh petugas, masih saja ada pengendara yang melanggar. Bahkan petugas pernah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari pengendara.
“Bandelnya mohon maaf nih, hambatan sudah dikasih tahu, jalan juga kita cegat dia masih nyelonong. Kadang kita juga ditendang sama mereka, demi untuk melanggar (lalu lintas), gitu kan,” pungkas Tatang.
Selain pengendara, tumpahan Pedagang Kaki Lima (PKL) di sepanjang jalan simpang Pasar Minggu juga menambah kesemrawutan.
“Pelanggaran di sini, jam 15.30 WIB itu sudah mulai berdatangan lagi PKL, sampai malam,” ucap Tatang.
Kondisi ini diakui oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Volume pemotor yang membludak dan PKL menjadi faktor utama penyumbang kesemrawutan di wilayah Pasar Minggu.
ADVERTISEMENT
"Hambatan simpang itu ada berbagai macam, yang pertama adalah adanya roda dua yang melawan arus, kemudian adanya tumpahan dari Pedagang Kaki Lima di kawasan Pasar Minggu," ujar Plt Kadishub DKI Jakarta, Sigit Wijatmoko, Senin (15/9).
Plt Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Wijatmoko
Plt Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Wijatmoko (Foto: Lolita Valda/kumparan)
Meski sudah belasan tahun, kondisi jalanan di area Pasar Minggu tak kunjung berubah, Sigit mengaku telah melakukan berbagai upaya. Mulai dari petugas berjaga di sekitar lampu merah, menilang pengendara yang melawan arus, hingga rekayasa lalu lintas.
"Sembari itu kami juga melaksanakan evaluasi terkait dengan manajemen dan rekayasa lalu lintas yang ada di sana, karena harapan dari pemerintah kita harus bisa melahirkan satu penyelesaian yang sifatnya komprehensif dan lebih permanen," lanjutnya.
Sedangkan menurut pengamatan kumparan pada hari Sabtu (13/10), petugas Dishub dan polisi hanya berjaga pada pukul 08.00 hingga 09.00 WIB dan pukul 16.45-17.00 WIB. Pelanggaran kembali dilakukan oleh pemotor setelah petugas menghilang.
ADVERTISEMENT
Menanggapi hal tersebut, Sigit mengungkapkan masih mencari solusi yang permanen, dia akan menambah satuan petugas keamanan di lokasi-lokasi yang rawan pelanggaran.
Spesial Content, Benang Kusur Pasar Minggu
Benang kusut Pasar Minggu (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)
Rencana-rencana pembangunan infrastruktur dicanangkan untuk mengubah wajah semrawut di simpang Pasar Minggu.
"Di Desember 2018 kita akan mengurangi semua hambatan samping, hambatan sebidang dengan manajemen dan rekayasa lalu lintas kemudian terkait dengan infrastruktur untuk memastikan dan menjamin integrasinya kita akan laksanakan di tahun 2019," tuturnya. " jelas Sigit.
Selain pembangunan infrastruktur, diperlukan juga komitmen dari pejabat yang berwenang. Misalnya aparat harus bertindak tegas dan siap bertugas meski bukan di jam-jam sibuk.
Sebab tata ruang yang tertib bergantung pada aparatur di dalamnya. Aparatur yang dapat bertindak tegas akan mengurangi permasalahan lalu lintas di Ibu Kota.
ADVERTISEMENT
“Peraturan parkirnya harus dibenahi, penataan PKLnya harus dibenahi, penatan angkutannya harus dibenahi, penataan stasiunnya harus dibenahi, ya itu harus ditata ulang. Jadi manajemen pengelolaan pun jadi penting,” kata Yayat.
Simak selengkapnya dalam konten spesial Benang Kusut Pasar Minggu.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan