kumparan
23 Januari 2019 16:20

Garut, Sang Penggoda Orang Eropa di Awal Abad 20

Situ Tjankuwang, Garut
Situ Tjankuwang di Leles, Garut tahun 1915. (Foto: Dok. KITVL 94254)
“Seandainya Pulau Jawa yang dianugerahi Tuhan tanah yang subur dan pemandangannya yang indah kita umpamakan seikat cincin zamrud, maka Garut adalah pusat dari cincin itu. Permata yang tiada bandingannya.” tulis Abdullah Assegaff dalam roman sejarah berjudul Gadis Garut Abad XX (2008).
ADVERTISEMENT
Kutipan itu rasanya tak berlebihan untuk menggambarkan Garut. Di masa itu, Garut merupakan primadona yang memikat wisatawan dari berbagai belahan dunia, khususnya Eropa.
Garut memang begitu istimewa saat itu. Bukan sekadar hawanya yang sejuk, tetapi juga menawan dengan banyak tempat wisata.
“Bak seorang gadis, ia bersih, cantik, santun, dan menenangkan. Sempurna,” tulis Assegaff.
kumparan mencoba mengajakmu bernostalgia dengan membayangkan suasana berjalan-jalan di Garut di awal abad 20. Tentunya berdasarkan dokumen sejarah.
Menaiki Kereta dari Batavia
Stasiun Gambir, Jakarta
Stasiun Gambir, Jakarta. (Foto: Dok. KITLV 82580)
Orang-orang Eropa yang ingin mengunjungi Garut mesti transit di Batavia. Mendarat di Bandara Cililitan (sekarang Halim Perdanakusuma) atau berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok kemudian menuju Stasiun Gambir.
Dari Gambir, mereka biasanya naik kereta ekspres. Tapi jangan bayangkan ekspres berarti imelaju sekencang kereta Shinkansen di Jepang yang mampu menembus kecepatan 235 km per jam.
ADVERTISEMENT
Kereta ekspres ini biasanya melaju dengan kecepatan 60 km per jam. Perjalanan Batavia-Garut, kira-kira membutuhkan waktu 7,5 jam.
Mereka yang naik dari Stasiun Gambir kebanyakan orang-orang mampu. Kalau tidak wisatawan Eropa, ya kaum bumiputera yang kaya.
Kereta ekspres itu tak berhenti di stasiun-stasiun lain Batavia seperti Jatinegara. Ia juga tak menaikkan penumpang di wilayah yang kini disebut Bekasi.
Kebanyakan dari penumpang, berbicara dengan teman sebangkunya. Apalagi kalau berangkat pagi hari, masih bersemangat habis sarapan.
Tiga jam berlalu, tak banyak pemandangan yang bisa dinikmati. Hanya pertanian, dan, pohon-pohon besar yang bisa dilihat ketika kita sudah masuk wilayah Purwakarta.
Kemudian kereta terus melaju, melewati beberapa jembatan menuju Stasiun Bandung. Salah satunya, Jembatan Cisemang.
ADVERTISEMENT
Di Bandung, kereta mengangkut penumpang, tetapi hanya sedikit. Justru lebih banyak yang turun di Kota Kembang itu.
Kereta kemudian melaju kembali….
Memasuki wilayah Cibatu, penumpang akan melihat dataran yang luas. Meliputi hamparan hijau. Selain itu, bukit tinggi yang ditutupi rerumputan mampu menenangkan hati dan menghilangkan kegundahan.
Gunung Guntur di Garut tahun 1900, Garut
Gunung Guntur di Garut tahun 1900, Garut. (Foto: Dok. KITLV 82580)
Kereta api bergerak naik ke kaki-kaki perbukitan yang hijau sampai puncak-puncaknya. Pemandangan itu semakin terlihat jelas dengan tampilannya yang sangat memesona. Tampak Gunung Papandayan, Gunung Cikuray, dan Gunung Guntur.
Kereta berhenti sejenak di Stasiun Cibatu yang masuk wilayah administrasi Limbangan.
“Apabila ada penumpang penumpang yang naik dari sini, mereka sangat tertib. Mereka sopan terhadap teman duduknya dan sangat menghormati orang yang sedang bicara dengan mereka,” tulis Assegaft.
ADVERTISEMENT
Tak lama, mereka akan tiba di Stasiun Garut. Kereta perlahan berhenti,dan penumpang turun dengan tertib. Tanpa harus dimaki petugas.
Stasiun, Garut
Stasiun Garut awal abad 20. (Foto: Dok. Buku 'Garut Kota Intan' karya Kunto Sofianto)
Menikmati Garut, Wisata Penggoda Orang Eropa
Setelah menaiki kereta selama 7,5 jam, penumpang dipastikan tak akan kecewa dan tak ingin berleha-leha. Garut sangat layak dinikmati, dibanding hanya beristirahat berlama-lama.
Garut yang termasuk daerah Priangan memiliki keistimewaan lain dibanding wilayah lainnya di Pulau Jawa. Bukit-bukitnya, lembah-lembahnya, dan datarannya bagai ditutupi kain sutera hijau yang ditenun oleh tangan-tangan alami. Setidaknya begitu gambaran yang ditulis Ali Assegaft dalam Gadis Garut Abad XX.
Merujuk catatan Encyclopeid van Nederlandsch Indische, jumlah penduduk kota Garut tahun 1915 mencapai 15.000 orang. Sementara pada 1930, naik dua kali lipat menjadi 33.612 orang.
ADVERTISEMENT
Penduduk Garut pun sangat heterogen. Terdiri dari 31.373 kaum bumiputra, 454 Eropa, 1.683 China, dan 102 orang Timur Asing (Arab, India, Jepang).
Jalanan, Garut (NOT COVER)
Suasana jalanan di Kota Garut. (Foto: Dok. Buku 'Garut Kota Intan' karya Kunto Sofianto)
Di Garut tedapat Situ Bagendit, Situ Cangkuwang, Sanotarium, bahkan alun-alun yang tepat berada di depan lanskap pemandangan yang menakjubkan. Karena berada di dataran tinggi, Garut juga terdiri dari kebun-kebun teh dan sungai yang mengalir bersih. Keindahannya bergema sampai mancanegara.
Bermula dari mulut orang-orang Eropa seperti Belanda, Inggris, Italia, dan Jerman yang membuka perkebunan di wilayah Cilawu, Cisurupan, Pakenjeng, Cikajang, Cisompet, Cikelet, dan Pamengpeuk pada periode 1900-1928.
Yang mereka ceritakan banyak. Mulai dari asrinya Gunung Papandayan. hebatnya pemandangan di Gunung Cikuray, hingga pengalaman berburu binatang di Gunung Guntur.
Gunung Papandayan, Garut (NOT COVER ), Garut
Gunung Papandayan, Garut. (Foto: Dok. KITLV 82583)
Pada 1920-1930-an, sekitar 20 mil dari Garut arah Selatan, memang masih ditemukan hewan-hewan seperti macan loreng, macan kumbang, badak, banteng, babi hutan, burung merpati liar, anjing hutan, dan buaya. Para wisatawan dengan dibantu warga lokal pun berbondong-bondong pergi ke wilayah itu untuk berburu.
ADVERTISEMENT
“Orang orang dari berbagai bangsa tampak bahagia,” tulis Assegaf dalam bukunya.
Sungai Cimanuk Garut tahun 1900 (NOT COVER), Garut
Sungai Cimanuk Garut tahun 1900. (Foto: Dok. KITLV 82582)
Banyak orang-orang Eropa yang menaiki kuda, bersantai sambil menikmati hijaunya rerumputan. Sambil mengisap cerutu, tak sedikit di antara mereka menghabiskan sore hari di pendopo dekat Kawah Kamojang. Mereka begitu menikmati momen saat matahari tenggelam.
Memang mereka kebanyakan orang berpenghasilan tinggi. Berbaju safari berwarna putih, menggunakan sepatu kulit, dan memegang tongkat khas negara masing-masing.
Gunung Papandayan, saat itu, banyak dikunjungi orang Inggris. Terutama bagi pendaki pemula. Gunung setinggi 2.665 meter di atas permukaan laut itu jadi pilihan utama dibanding Gunung Guntur yang lebih rendah dengan ketinggian 2.245 meter di atas permukaan laut (mdpl). Alasannya, mendaki Gunung Guntur lebih berisiko dengan jalur yang sulit dan banyak dihuni binatang buas.
ADVERTISEMENT
Seiring berjalannya waktu, perlahan hotel-hotel dibangun untuk menyambut para wisatawan. Beberapa di antaranya Hotel Papandayan, Belvedere, Vila Dolce, Van Hengel, dan yang juga melegenda yakni Hotel Ngamplang di Cilawu.
“Di Hotel Ngamplang itu ada pemandangan lapangan golf yang dulu sangat indah. Di sebelahnya ada sungai-sungai,” kata pemerhati sejarah lokal Jawa Barat Irfan Maulana kepada kumparan, Senin (21/1).
Hotel Papandayan, Garut
Hotel Papandayan di Garut awal abad 20. (Foto: Dok. Buku 'Garut Kota Intan' karya Kunto Sofianto)
Hotel Ngamplang, Garut
Hotel Ngamplang di Garut (1917-1942). (Foto: Dok. Buku 'Garut Kota Intan' karya Kunto Sofianto)
Di Hotel Ngamplang inilah. komedian legendaris asal Inggris, Charlie Chaplin menginap saat berkunjung ke Garut tahun 1932. Bagi Chaplin, Garut sangat istimewa.
Tak cuma alamnya yang indah, ia juga terpikat dengan atraksi adu domba. Di surat kabar ‘Indische Courant’ terbitan 27 Maret 1932, Chaplin disebut menonton adu domba di Garut.
Saking terpesonanya, Chaplin pun punya julukan khusus untuk Garut. “Swiss van Java".
Charlie Chaplin, Garut
Charlie Chaplin di Garut tahun 1932. (Foto: Dok. Buku 'Garut Kota Intan' karya Kunto Sofianto)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan