News
·
12 Juli 2021 11:54
·
waktu baca 3 menit

Gawat! Rata-rata 45 Kasus Corona di DKI Meninggal saat Isoman dalam Sehari

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Gawat! Rata-rata 45 Kasus Corona di DKI Meninggal saat Isoman dalam Sehari (312977)
searchPerbesar
Rumah milik warga yang dijadikan tempat isolasi mandiri bagi warga sekitar di RW 1 Kelurahan Kacapiring Kecamatan Batununggal, Bandung. Foto: Dok. Humas Pemkot Bandung
Lonjakan kasus corona usai Lebaran semakin intens, jauh dari prediksi. Banyak warga yang kelimpungan mencari ruang perawatan, ICU, hingga tempat isolasi mandiri (isoman).
ADVERTISEMENT
Belakangan, laporan pasien yang melakukan isolasi mandiri berujung meninggal pun makin marak. Di DKI Jakarta, salah satunya, pasien isoman akibat COVID-19 yang meninggal dunia dilaporkan mencapai 45 orang per harinya.
“Nah, ini data sementara kami sampai tadi malam hampir 450 pasien isoman yang terlacak dan dilaporkan meninggal di berbagai daerah di Indonesia. Kami yakin ini fenomena gunung es karena tidak semua diberitakan atau terlaporkan,” kata Co-Inisiator Lapor COVID-19 Ahmad Arif, dalam diskusi virtual di YouTube CISDI, Senin (12/7).
“Misalnya kami komunikasi dengan teman-teman di Dinkes Jakarta, ya, bahwa mereka rata-rata sehari itu menerima laporan ada 45 pasien isoman yang meninggal di rumah. Kami sekarang berkoordinasi dengan DKI Jakarta untuk meminta data per harinya yang untuk kemudian bisa kami integrasikan dengan data di Lapor COVID-19,” imbuh Redaktur Harian KOMPAS itu.
ADVERTISEMENT
Arif pun menjelaskan sejumlah faktor penyebab meninggalnya para pasien COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri di rumah. Faktor yang paling banyak ditemukan yakni mayoritas pasien isoman tidak terpantau hingga terlambat dibawa ke RS.
“Dari data-data kami menemukan bahwa pasien isoman ini meninggal karena tidak terpantau. Karena terlambat dibawa dan ditangani RS karena penuh. Jadi pasien isoman ini sebenarnya sudah berusaha dibawa ke RS, namun terlambat,” terang Arif.
Selain itu, ada pula pasien yang sengaja tak mau dibawa ke RS. Ini biasanya terjadi pada warga yang masih tidak percaya tentang kefatalan COVID-19.
“Kami juga menemukan yang ada pasien yang sengaja tidak mau ke rumah sakit dengan berbagai alasan. Salah satunya takut dicovidkan. Dan bahkan ada beberapa orang, misalnya, laporan di kabupaten Jawa Timur, mereka beranggapan bahwa sakit biasa gitu dan cenderung denial dengan COVID sehingga baru diperiksa dan kemudian dikonfirmasi positif setelah meninggal. Ini misalnya kasus yang kematian di Yogya yang di Gunung Kidul,” papar Arif.
ADVERTISEMENT
Arif pun menemukan hampir semua pasien yang isoman memiliki keluarga yang juga positif COVID-19. Ini menyebabkan mereka sulit melakukan mobilitas untuk menangani pasien yang keadaannya mulai memburuk, bahkan kesulitan dalam mengurus jenazah pasien berujung wafat.
“Sebagian pasien isoman ditemukan setelah meninggal juga banyak yang terlambat dalam proses pemakaman, ini ada persoalan juga di sini,” ucap Arif.

Isoman Terpusat Diperbanyak

Oleh sebab itu, Arif kemudian meminta tempat isolasi terpusat diperbanyak agar mereka bisa lebih terpantau sebelum makin memburuk. Masyarakat juga harus lebih diedukasi lagi tentang pentingnya penanganan dini COVID-19.
“Harus banyak tempat isolasi terpusat, misalnya dengan memanfaatkan sekolah, gedung pemerintahan, dengan dilengkapi tenaga kesehatan yang intens memantau. Kam juga mengusulkan diperkuatnya RS, ya, di antaranya optimalkan konsultasi jarak jauh dari juga untuk mencegah terjadinya membanjirnya pasien rumah sakit sehingga yang membutuhkan penanganan segera justru terlambat,” beber Arif.
ADVERTISEMENT
“Dukungan bagi pasien ini juga sangat penting, dukungan sosial ekonomi maupun medis karena banyak pasien ini tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, juga bagaimana mencegah agar tidak menjadi klaster keluarga atau klaster lingkungan dan seterusnya. Penting tentang edukasi bagi pasien yang menjalani isoman, harus ada upaya di level terkecil RT sampai kelurahan,” lanjut Arif.

Perlunya Transparansi

Di sisi lain, Arif pun berharap masyarakat termasuk pemerintah bisa kompak dalam membagikan informasi tentang keparahan situasi pandemi COVID-19.
Ia menekankan lonjakan kasus saat ini sudah sangat fatal, dan semua pihak perlu sadar agar semua faktor penanganan pandemi bisa berjalan dengan baik.
“Narasi kita mengenai situasi yang ada ini mau tidak mau harus disampaikan lebih transparan. Kita tidak bisa lagi menganggap bahwa sesuatu yang terjadi masih baik-baik saja,” tandas Arif.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020