kumparan
search-gray
News31 Mei 2020 1:46

Geger Kitab Suci Aceh di Play Store, Pemprov Aceh Protes ke Google

Konten Redaksi kumparan
Geger Kitab Suci Aceh di Play Store, Pemprov Aceh Protes ke Google (39503)
Kitab Suci Aceh di Google Play Store. Foto: Dok. Istimewa
Masyarakat Aceh dihebohkan dengan kemunculan aplikasi bernama Kitab Suci Aceh di Google Play Store. Aplikasi tersebut diunggah akun Faith Comes By Hearing.
ADVERTISEMENT
Aplikasi itu berisi Injil, Taurat, dan Zabur yang diterjemahkan menggunakan bahasa Aceh. Kemunculan aplikasi itu mendapat protes keras dari Pemprov Aceh.
Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengirimkan surat protes kepada Google Indonesia terkait keberadaan aplikasi tersebut yang dinilai sangat provokatif dan meresahkan masyarakat Aceh.
Melalui surat tertanggal 30 Mei 2020, Nova menyampaikan keberatan dan protes keras kepada Managing Director PT Google di Jakarta, sehubungan dengan munculnya aplikasi Kitab Suci Aceh di Google Play Store yang dipelopori Organisasi Kitab Suci Nusantara (kitabsucinusantara.org).
Pemprov Aceh berpendapat Google telah keliru dalam menerapkan prinsip General Code of Conduct yaitu Don’t Be Evil serta aturan-aturan yang tertuang dalam Developer Distribution Agreement yang sangat menjunjung tinggi hukum lokal.
Geger Kitab Suci Aceh di Play Store, Pemprov Aceh Protes ke Google (39504)
Kitab Suci Aceh di Google Play Store. Foto: Dok. Istimewa
"Karena itu, kami atas nama Pemerintah dan masyarakat Aceh menyatakan keberatan dan protes keras terhadap aplikasi tersebut," kata Nova dalam suratnya.
ADVERTISEMENT
Adapun poin-poin keberatan yang disampaikan Nova yaitu penamaan aplikasi yang tidak lazim secara bahasa. Sebab nama Kitab Suci Aceh menunjukkan bahwa kitab suci tersebut hanya milik masyarakat Aceh. Padahal, lazimnya sebuah kitab suci adalah milik umat beragama tanpa batas teritorial.
Sehingga nama aplikasi dinilai menggambarkan mayoritas masyarakat Aceh adalah penganut kitab suci yang ada dalam aplikasi tersebut.
"Padahal kitab suci mayoritas masyarakat Aceh adalah Al-Quran,” kata Nova.
Geger Kitab Suci Aceh di Play Store, Pemprov Aceh Protes ke Google (39505)
Kitab Suci Aceh di Google Play Store. Foto: Dok. Istimewa
Selanjutnya, aplikasi tersebut dinilai sangat provokatif karena semua penutur bahasa Aceh di Bumi Serambi Makkah beragama Islam.
Sehingga aplikasi Kitab Suci berbahasa Aceh selain Al-Quran pada Google Play Store dapat dipahami sebagai upaya mendiskreditkan Aceh, pendangkalan akidah, dan penyebaran agama selain Islam kepada masyarakat Aceh.
ADVERTISEMENT
Hal tersebut, kata Nova, bertentangan dengan Pasal 28E Ayat (1) dan (2) UUD 1945, Pasal 45A Ayat (2) UU ITE, Pasal 21 Qanun Aceh Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pedoman Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Tempat Ibadah, serta Pasal 3 dan 6 Qanun Aceh Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pembinaan dan Perlindungan Aqidah.
Lebih lanjut, kata Nova, aplikasi itu telah menimbulkan keresahan di masyarakat Aceh yang berpotensi membuat kekacauan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan dapat menimbulkan konflik horizontal.
"Munculnya aplikasi ini telah menuai berbagai bentuk protes di kalangan masyarakat dan media sosial, baik secara pribadi maupun kelembagaan yang dapat mengancam kerukunan umat beragama di Aceh dan NKRI," kata Nova.
ADVERTISEMENT
Untuk itu, Nova meminta pihak Google Indonesia untuk segera menutup aplikasi tersebut secara permanen.
Surat protes Nova juga ditembuskan kepada Mendagri, Menag, Menkominfo, Wali Nanggroe Aceh, Ketua DPR Aceh, Pangdam Iskandar Muda, Kapolda Aceh, Kajati Aceh, dan Ketua MPU Aceh.
Adapun saat kumparan mengecek Google Play Store, aplikasi tersebut sudah tidak tersedia.
Geger Kitab Suci Aceh di Play Store, Pemprov Aceh Protes ke Google (39506)
Kitab Suci Aceh di Google Play Store. Foto: Dok. Istimewa
MPU Aceh Minta Masyarakat Tak Ikut Sebarkan
Sementara itu, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh ikut menyikapi keberadaan aplikasi Kitab Suci Aceh tersebut. MPU Aceh meminta masyarakat mempercayakan penyelesaian kasus ini kepada Pemprov Aceh.
Wakil Ketua Majelis MPU Aceh, Tgk. H. Faisal Ali atau disapa Lem Faisal, meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan link aplikasi tersebut serta tidak menginstal atau mengunduhnya.
ADVERTISEMENT
"MPU Aceh mendukung segala upaya yang dilakukan Pemerintah dalam memprotes keberadaan aplikasi tersebut," ujar Lem Faisal.
Sementara terkait perlu tidaknya mengeluarkan fatwa khusus yang mengharamkan penyebaran maupun pengunduhan aplikasi itu, Lem Faisal mengaku butuh pengkajian lanjutan.
***
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white