Gejolak di Afghanistan: Presiden Kabur, Taliban Berkuasa
·waktu baca 6 menit

Situasi politik di Afghanistan saat ini tidak kondusif. Pemicunya, akibat pasukan Taliban menguasai Ibu Kota Kabul pada Minggu (15/8).
Sebelumnya kondisi di Afghanistan terus memburuk usai Amerika Serikat, Inggris, NATO menarik pasukannya dari Afghanistan.
Selama kurang lebih dua dekade, pasukan asing membantu menjaga keamanan Afghanistan dari gangguan Taliban dan milisi radikal seperti ISIS sampai Al-Qaeda.
Kini puncaknya, keadaan semakin tidak karuan setelah Presiden Afghanistan Ashraf Ghani kabur ke Tajikistan. Keputusan itu diambil tidak lama setelah pasukan Taliban masuk ke Kabul dari segala penjuru.
Tajikistan merupakan negara republik yang jaraknya sekitar 515 Km dari Kabul. Negara sempalan Uni Soviet ini berbatasan dengan Afghanistan di bagian selatan.
Kantor Kepresidenan Afghanistan tidak bersedia memberikan banyak keterangan terkait kepergian Ghani ke Tajikistan. Hal ini demi keselamatan Ghani.
"(Kami) tidak bisa mengatakan apa-apa tentang gerakan Ashraf Ghani karena alasan keamanan," kata Kantor Kepresidenan Afghanistan.
Menhan Afghanistan Kutuk Ashraf Ghani Kabur ke Tajikistan
Selang beberapa jam setelah Ashraf Ghani kabur ke Tajikistan, Menteri Pertahanan Afghanistan, Jenderal Bismillah Mohammadi, buka suara.
Bismillah tidak bisa menutupi kekecewaannya kepada Ghani. Bahkan ia menyebutnya sebagai orang kaya sialan.
"Mereka mengikat tangan kami di belakang punggung kami dan menjual tanah air, orang kaya sialan dan gengnya," tulis Bismillah.
Sementara Ketua Dewan Tinggi untuk Rekonsiliasi Nasional Afghanistan, Abdullah Abdullah, menyebut Ghani sudah bukan lagi Presiden Afghanistan.
"Fakta bahwa mantan Presiden Afghanistan meninggalkan negara itu dan menempatkan orang-orang dan negara dalam situasi yang buruk, Tuhan akan meminta pertanggungjawabannya dan orang-orang Afghanistan juga akan menghakiminya," kata Abdullah.
Abdullah meminta seluruh masyarakat Afghanistan tetap tenang. Ia yakin Tuhan akan segera memberikan pertolongan.
Taliban Tidak Ingin Ada Pemerintahan Transisi
Sementara seorang pejabat dari Kementerian Dalam Negeri, Abdul Sattar Mirzakawal, mengatakan kekuasaan akan diserahkan kepada pemerintahan transisi setelah Taliban menguasai Kabul.
Akan tetapi, dua pejabat Taliban mengatakan tidak akan ada pemerintahan transisi di Afghanistan. Mereka ingin pemerintah segera menyerahkan kekuasaan kepada mereka.
Taliban lalu membagikan foto-foto interior Istana -- tampaknya utuh, tetapi kosong dan ditinggalkan oleh pejabat Afghanistan -- di akun Telegram resmi.
Sebuah video juga diposting di media sosial beberapa jam sebelumnya menunjukkan para pejuang tiba di Istana Kepresidenan di Kabul.
Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid mengatakan, sebelumnya bahwa pasukan Taliban mulai memasuki daerah-daerah kota di mana pejabat pemerintah dan pasukan keamanan telah meninggalkan pos mereka.
"Pagi ini Imarah Islam mengeluarkan pernyataan bahwa pasukan kami berada di luar kota Kabul dan kami tidak ingin memasuki Kabul melalui cara militer," kata Zabihullah.
"Sekarang kami mendapat laporan bahwa kantor polisi distrik dievakuasi, polisi telah meninggalkan pekerjaan mereka untuk memastikan keamanan, juga kementerian dikosongkan dan personel keamanan pemerintah Kabul telah melarikan diri,” tambah dia.
Selain itu, posting media sosial dan akun saksi menunjukkan kehadiran Taliban di dalam kota semakin meningkat.
“Pasukan kami diam-diam memasuki kota, mereka tidak akan mengganggu siapa pun, pegawai pemerintah baik sipil maupun militer harus diyakinkan bahwa tidak ada yang akan menyakiti mereka, tidak ada Mujahid yang diizinkan memasuki rumah orang, atau menyakiti atau mengganggu siapa pun,” ujar Zabihullah.
Taliban Tegaskan Perang di Afghanistan Sudah Berakhir
Setelah menduduki Istana Kepresidenan di Kabul, Taliban juga mengumumkan perang telah berakhir di Afghanistan.
"Ini adalah hari yang luar biasa untuk warga Afghanistan dan Mujahidin. Mereka sudah menyaksikan buah dari upaya serta pengorbanan selama 20 tahun," kata jubir Taliban Mohammed Naeem.
"Terima kasih Tuhan, perang di negara ini sudah berakhir," sambung dia.
AS Evakuasi Seluruh Staf Kedutaan dari Afghanistan
Direbutnya Kabul oleh Taliban membuat kota itu kacau. Warga asing salah satunya Amerika Serikat kini berebut untuk segera meninggalkan Afghanistan.
AS telah mengevakuasi seluruh staf di Kedutaan Besar AS di ibu kota Kabul, Afghanistan, pada Minggu (15/8) waktu setempat. Mereka semua sudah berada di bandara Kabul dan segera melakukan penerbangan kembali ke AS.
"Kami mengkonfirmasi bahwa evakuasi atas seluruh staf Kedutaan Besar sudah selesai,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Ned Price.
“Seluruh staf Kedutaan Besar kini berada di Bandara Internasional Hamid Karzai, di mana perimeter lokasinya diamankan oleh Militer AS,” lanjut Price dalam keterangannya.
Evakuasi para diplomat AS ini menyusul pendudukan Taliban di ibu kota Kabul. Kelompok pemberontak itu memasuki Kabul dari seluruh penjuru kota.
Proses evakuasi disebut telah berlangsung mulai Minggu (15/8). Mereka diangkut ke bandara Kabul dari kedutaan yang berada di Distrik Wazir Akbar Khan. Tentara Amerika Serikat dikerahkan dalam proses evakuasi tersebut.
Inggris Akui Afghanistan Sudah Jatuh ke Tangan Taliban
Inggris memastikan mereka tidak akan melawan Taliban di Afghanistan. Sebagian besar wilayah Afghanistan kini sudah dikuasai oleh Taliban.
"Saya akui bahwa Taliban sudah menguasai negara (Afghanistan)," kata Menhan Inggris Ben Wallace.
"Yang saya maksud kalian tak perlu ilmuwan politik untuk memantau di mana kami akan berada," sambung dia.
Meski demikian, Wallace menegaskan Inggris dan pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tidak akan mengerahkan pasukan kembali ke Afghanistan.
"Kami akan kembali (pulang)," tegas Wallace.
JK: Taliban Masuk ke Kabul dengan Damai
Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla atau akrab disapa JK ikut menanggapi Taliban yang kini menguasai Afghanistan.
Bukan tanpa alasan JK ikut memberikan tanggapan. Sebab pada 27 Juli 2019, JK yang saat itu menjabat wakil presiden, sempat mengundang pemimpin Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar, ke rumah dinasnya di Jalan Diponegoro untuk makan malam.
Mereka juga sempat salat berjemaah di Masjid Sunda Kelapa yang bertetangga dengan rumah dinas JK. Hadir juga dalam kesempatan itu Menlu Retno Marsudi.
Menurut JK, pergerakan Taliban ini termasuk “damai” tanpa perseteruan.
“Peristiwa di Afghanistan itu hampir di luar perkiraan semua orang bahwa tidak secepat itu Taliban masuk ke Kabul. Karena malah saya kira baru 1-2 bulan baru masuk [ke Kabul],” ungkap JK.
“Ternyata sebelum akhir bulan ini mereka sudah masuk dengan damai, dengan damai saya katakan, karena saya belum ada laporan adanya korban, kelihatannya damai,” lanjut JK.
JK mengatakan, kedua pihak yang berseteru—Pemerintahan Presiden Ashraf Ghani dan pihak Taliban—tidak mau adanya korban yang berjatuhan.
Menurutnya, pemerintah di berbagai daerah telah menyerahkan diri tanpa syarat kepada Taliban. Ini disebut salah satu upaya strategi damainya masing-masing pihak.
“Semua Pemerintah Provinsi itu, begitu masuk Taliban, semua meninggalkan kota. Jadi tidak ada perang. Jadi kalau tidak ada perang, berarti tidak ceasefire (gencatan senjata), mereka surrender, menyerah kepada Taliban,” papar JK.
Jusuf Kalla menjelaskan, hal ini berhubungan erat dengan penarikan Amerika Serikat dari Afghanistan. Dengan AS meninggalkan Afghanistan, berakhirlah kemampuan pemerintah di bawah Ashraf Ghani untuk menjalankan negara.
JK yakni Indonesia Bisa Berhubungan Baik dengan Taliban
Terkahir, JK yakni Indonesia dan Afghanistan bisa tetap menjalin hubungan baik. Sebab, Indonesia melakukan hubungan diplomatik sesama negara, bukan sesama pemerintahan.
“Indonesia berhubungan diplomatik dengan Afghanistan sebagai negara, bukan pemerintahan siapa-siapa. Jadi, dan juga waktu Mujahidin, kedutaan kita tetap ada. Waktu Taliban juga kedutaan kita tetap ada. Waktu kemudian pemerintah Afghanistan yang terakhir ini, Indonesia punya kedutaan yang ada,” kata JK.
“Jadi hubungan diplomatik, saya kira, tidak terputus dengan pemerintahan siapa pun karena, seperti saya katakan tadi, hubungan kita antara negara, bukan antara pemerintahan,” lanjutnya.
JK menilai, Taliban akan menjaga hubungan baik antarnegara, melihat Taliban sudah banyak berubah dibandingkan dengan yang sebelumnya. Berubah, menurut JK, adalah cara pandang Taliban terhadap Islam yang kini lebih terbuka atau moderat.
“Saya yakin, pemerintah Taliban ke depan ini akan menjaga hubungan itu dengan baik. Dia banyak berubah, saya yakin Taliban itu banyak berubah dibandingkan waktu pemerintahan yang pertama, antara tahun 1996 sampai 2001,” jelas dia.
