Geliat Pedagang Pasar Slumpring Tegal Bangkit Usai Pandemi COVID

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pasar Slumpring Desa Wisata Cempaka Tegal. Foto: Fadelia Fauziah Rahma/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pasar Slumpring Desa Wisata Cempaka Tegal. Foto: Fadelia Fauziah Rahma/kumparan

Kasus COVID-19 yang mulai melandai dibarengi dengan peningkatan aktivitas ekonomi. Masyarakat kembali menggeliat untuk berkegiatan, tidak terkecuali tempat wisata.

Para pedagang hingga perajin di tempat wisata sudah kembali beraktivitas. Wisatawan lokal maupun internasional sudah mulai datang lagi ke berbagai objek wisata.

Pasar Slumpring Desa Wisata Cempaka Tegal. Foto: Fadelia Fauziah Rahma/kumparan

Geliat bangkitnya ekonomi usai pandemi ini juga terasa di Desa Wisata Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal. Salah satu tempat yang jadi magnet di sini, adalah pasar kuliner.

Ya, Pasar Slumpring namanya. Pasar ini, hanya buka pada hari Minggu saja ya.

Nama Slumpring diambil dari letak pasar yang berada di tengah hutan bambu atau biasa disebut dalam Bahasa Jawa yaitu ‘’Pring”. Pasar ini buka dari pukul 07.00 pagi hingga 12.00 siang.

Pasar Slumpring berisi sekitar 40 pedagang dari berbagai UMKM yang semuanya merupakan warga asli Bumijawa. Mayoritas pedagang di Pasar Slumpring menjual berbagai aneka jajanan dan makanan tradisional yang dibungkus dengan daun pisang dan gelas rotan. Uniknya, para pedagang dan pegawai pasar menggunakan pakaian adat khas Tegalan.

Pasar Slumpring Desa Wisata Cempaka Tegal. Foto: Fadelia Fauziah Rahma/kumparan

Pola transaksinya juga berbeda dengan pasar pada umumnya. Pengunjung harus menukarkan uang sebesar Rp 2.500 dengan uang koin berbentuk bambu yang sudah disediakan pengelola. Ini merupakan ciri khas di Pasar Slumpring.

Jika pengunjung ingin membeli makanan dan minuman yang dijajakan, setidaknya harus menyiapkan 5 koin bambu. Kemudian, uang koin yang sudah didapat, ditukarkan sesuai harga jual makanan atau minuman yang ada. Harga makanan dan minuman yang dijual bervariasi. Salah satunya, jajanan tradisional seperti Gethuk. Pengunjung cukup menukarkan 2 koin bambu atau jika dirupiahkan sebesar Rp 5.000.

Aneka kuliner yang tersedia di Pasar Slumpring bermacam-macam. Mulai dari jajanan tradisional hingga makanan khas, seperti pecel atau kerap disebut lalaban dan tahu aci. Untuk minuman sendiri, yang paling banyak diminati pengunjung adalah es dawet segar dan kopi khas dari penggilingan asli yang dibuat oleh warga setempat.

Pedagang Bangkit

Pasar Slumpring Desa Wisata Cempaka Tegal. Foto: Fadelia Fauziah Rahma/kumparan

Salah satu pedagang Pasar Slumpring, Wanifah, mengatakan, kondisi perekonomian sudah mulai membaik lagi. Dia yang sudah berjualan sejak 2018 itu mulai merasakan ada peningkatan pendapatan.

“Dulu pas pandemi, saya sulit buat berjualan lagi. Akhirnya, saya dagang keliling jajanan di rumah-rumah. Karena, sekarang sudah boleh kembali ke pasar, alhamdulillah omzet sudah naik kembali. Syukur, bisa buat balik modal sama mencukupi kebutuhan,” kata dia.

Pasar Slumpring jadi sarana warga untuk tetap bertahan hidup saat pandemi. Ini dirasakan oleh Khafiedz. Dia yang sebelumnya bekerja sebagai agen wisata banting setir menjadi pedagang tahu aci di sini.

Pasar Slumpring Desa Wisata Cempaka Tegal. Foto: Fadelia Fauziah Rahma/kumparan

Khafiedz mengatakan, Pasar Slumpring semakin ramai setelah ada pengunjung yang mengunggah tempat itu ke media sosial. Dia juga mengambil berkah dari ramainya pengunjung di sana.

“Sempat saya jadi travel agen, tapi saya arah ke sini (Guci) dan wilayah Tegal sekitarnya. Terus, sempat juga saya jualan kopi dulu tapi model lapak akhirnya saya balik lagi jualan tahu aci. Alhamdulillah, yang penting saya bisa jualan lagi,” tambahnya.

Dari penjualan tahu aci, dalam sehari Khafiedz bisa mendapatkan omzet Rp 1 juta-Rp 3 juta.. Ia juga berkelakar motto dari pedagang Pasar Slumpring adalah berdagang dalam satu hari untuk seminggu.

Karena, saking tingginya minat pengunjung dan besarnya omzet yang didapat meskipun hanya berjualan dalam satu hari.

Bertahan dari Pandemi

Pasar Slumpring Desa Wisata Cempaka Tegal. Foto: Fadelia Fauziah Rahma/kumparan

Ketua Pokdarwis Pasar Slumpring, Abdul Khayyi atau kerap disapa Pak Khayyi. Abdul Khayyi menjelaskan para pedagang Pasar Slumpring kini mulai menata kembali bisnis yang hancur karena pandemi.

“Sebelum pandemi, omzet yang diterima sama pedagang sini, bisa mencapai Rp 1 juta-Rp 2 juta sehari. Tapi, pas pandemi paling omzet Rp 300 ribu sehari,” kata Khayyi di lokasi.

Setelah kegiatan pasar mulai berangsur normal, Khayyi mencoba membuka komunikasi dengan pemerintah. Tujuannya untuk membuka jalan bagi para pedagang mengembangkan usahanya. Termasuk, memperbaiki infrastruktur pendukung menuju ke Pasar Slumpring terutama kondisi jalan.

“Kami usul mengenai kemudahan akses menuju tempat wisata Pasar Slumpring. Karena, banyak kritik dari pengunjung yang dirasa kesulitan jika ingin berpergian ke tempat wisata apalagi menggunakan kendaraan bermuatan besar,” kata Khayyi.

Cara Menuju ke Pasar Slumpring

Pasar Slumpring Desa Wisata Cempaka Tegal. Foto: Fadelia Fauziah Rahma/kumparan

Pasar Slumpring terletak di desa wisata Cempaka, kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal. Pasar ini identik dengan pepohonan bambu yang rimbun dan suasana pedesaan yang asri. Menuju tempat wisata ini diperkirakan membutuhkan waktu 2 jam dari pusat Kota Tegal.

Terbilang sebagai wisata anyar, hal ini tentu mempengaruhi akses jalan menuju Pasar Slumpring. Saat memasuki area desa Cempaka, terlihat jalan raya masih ditemui lubang-lubang besar. Hal ini sangat berisiko membahayakan pengguna jalan khususnya wisatawan.

Pasar Slumpring Desa Wisata Cempaka Tegal. Foto: Fadelia Fauziah Rahma/kumparan

Bagi pengunjung yang memiliki kendaraan pribadi seperti motor dan mobil dapat dengan mudah mengakses jalan menuju Pasar. Namun, jika wisatawan dengan jumlah yang banyak dan menggunakan kendaraan bermuatan besar disarankan oleh pengelola untuk memarkir sekitar jarak 3 meter dari pintu area wisata. Kemudian, pengelola menyiapkan kendaraan khusus menuju lokasi wisata.

Untuk akses angkutan umum menuju tempat ini cukup sulit ditemui. Lokasi yang dekat dengan rumah warga dan sempit menjadi alasan bagi beberapa penyedia jasa angkutan umum untuk enggan melewati jalur menuju Pasar Slumpring.

Pasar Slumpring Desa Wisata Cempaka Tegal. Foto: Fadelia Fauziah Rahma/kumparan

Terlihat pengunjung tampak meramaikan para penjual di sekitar Pasar. Meskipun padat pengunjung, protokol kesehatan tetap diterapkan di area wisata. Tersedia juga kelengkapan cuci tangan, dan terdapat banner imbauan untuk tetap mengenakan masker.

Sayangnya, nampak dari beberapa pengunjung tidak menggunakan masker dan atribut prokes yang ketat. Dengan berdalih, sudah melakukan vaksinasi. Tentu, hal ini perlu menjadi catatan pengelola agar tidak lengah dan membuat wisata menjadi nyaman.

Reporter: Fadelia Fauziah Rahma