Gelombang Migran Ilegal Serbu Spanyol dari Maroko

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para migran berkumpul di dekat pagar sambil menunggu kesempatan untuk menyeberang ke wilayah kantong Spanyol di Ceuta, di sisi perbatasan Maroko di Fnideq, Maroko, Jumat (31/7/2026). Foto: Ahmed El Jechtimi/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Para migran berkumpul di dekat pagar sambil menunggu kesempatan untuk menyeberang ke wilayah kantong Spanyol di Ceuta, di sisi perbatasan Maroko di Fnideq, Maroko, Jumat (31/7/2026). Foto: Ahmed El Jechtimi/Reuters

Puluhan ribu migran menyeberang dari Maroko menuju wilayah kantong Spanyol, Ceuta, di Afrika Utara, dalam beberapa hari terakhir. Gelombang kedatangan itu memicu krisis baru bagi pemerintah Spanyol.

Mengutip AFP, sumber kepolisian Spanyol pada Jumat (31/7) menyebut sekitar 40 ribu telah memasuki Ceuta yang hanya berpenduduk sekitar 80 ribu jiwa. Ribuan di antaranya menyeberang sepanjang Kamis malam hingga Jumat dini hari.

"Arus kedatangan berlangsung terus sepanjang malam. Mereka masih terus berdatangan hingga Jumat pagi," kata sumber kepolisian tersebut.

AFP melaporkan ratusan pria, perempuan, dan anak-anak terlihat berenang mengitari pagar pembatas yang memisahkan Maroko dan Ceuta. Mereka menggunakan pelampung sederhana sebelum membuangnya begitu berhasil mencapai daratan Spanyol.

Sejauh ini, sedikitnya 18 orang dilaporkan tewas saat berusaha mencapai wilayah tersebut.

Merespons situasi itu, pemerintah Spanyol telah mengerahkan pasukan tambahan untuk memperkuat pengamanan di Ceuta. Perdana Menteri Pedro Sanchez bersama Menteri Dalam Negeri dijadwalkan mengunjungi pos perbatasan Tarajal pada Jumat (31/7) untuk memantau langsung kondisi di lapangan.

Gelombang migran ini juga berdampak pada hubungan Spanyol dengan negara-negara Eropa lainnya. Prancis mengumumkan akan memperketat pemeriksaan di perbatasannya dengan Spanyol guna mengantisipasi pergerakan migran.

Sementara itu, Italia menyerukan agar Spanyol ditangguhkan dari kawasan bebas perbatasan Schengen. Pernyataan tersebut memicu protes dari Madrid yang kemudian memanggil Duta Besar Italia dan menuding Roma memanfaatkan krisis untuk kepentingan politik.

Hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab lonjakan migran dari Maroko tersebut.

Peristiwa serupa pernah terjadi pada 2021 ketika lebih dari 10 ribu migran memasuki Ceuta dalam dua hari setelah Maroko melonggarkan pengawasan perbatasan di tengah ketegangan diplomatik dengan Spanyol.

Perselisihan saat itu dipicu keputusan Madrid menerima pemimpin Front Polisario—kelompok yang memperjuangkan kemerdekaan Sahara Barat dari Maroko—untuk menjalani perawatan medis.

Ketegangan mereda pada 2022 setelah Spanyol mengubah kebijakan lamanya dengan mendukung rencana Maroko terkait Sahara Barat. Langkah itu sempat merenggangkan hubungan Madrid dengan Aljazair, yang selama ini mendukung Front Polisario.

Ceuta, bersama Melilla, merupakan dua wilayah enklave Spanyol di Afrika Utara yang menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Benua Afrika. Gelombang migrasi di kawasan itu telah lama menjadi salah satu tantangan utama bagi kebijakan migrasi Eropa.