Malam takbiran di Bogor

Gema Takbir di Tanah Rantau (3)

1 Mei 2022 12:05
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Takbir menggema di permukiman pekerja migran Indonesia di Klang Lama, Kuala Lumpur, Malaysia. Namun, hati Amiruddin hampa. Pekerja migran berusia 28 tahun itu menahan rindu kepada keluarganya. Malam Lebaran, 23 Mei 2020 itu, ia tak bisa pulang.
Padahal, bagi Amiruddin alias Udin, tanpa kerabat terdekat, suasana tak terasa hangat.
“Paling kangen suasana kampung dan keluarga,” ucap Udin kepada kumparan, Rabu (20/4). Ia masih ingat betul suasana sentimental yang melandanya dua tahun lalu.
Ilustrasi Warga menabuh bedug saat malam takbiran. Foto: Yulius Satria Wijaya/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Warga menabuh bedug saat malam takbiran. Foto: Yulius Satria Wijaya/Antara Foto
Udin mengadu nasib ke Malaysia sebagai tukang bangunan sejak 2014. Biasanya, setiap tahun dia mudik ke kampungnya di Desa Solokuro, Lamongan, Jawa Timur. Namun—seperti banyak orang lain—sudah dua Lebaran ia tak pulang gara-gara pandemi.
Ia terpaksa berlebaran di tanah rantau; bermalam takbiran bersama teman-teman senasib, dengan kerinduan membuncah ke kampung halaman.
Pagi harinya usai salat Idul Fitri di kompleks permukiman pekerja migran, Udin menghubungi ibunya di kampung. Lewat video call, Udin meminta maaf kepada keluarga. Bungsu tiga bersaudara itu tak kuasa membendung air mata saat sang ibu memintanya pulang. Udin betul-betul tak bisa memenuhi permintaan itu.
“Tiap Lebaran ya pasti [Ibu] suruh saya balik terus,” ujarnya terbata-bata.
Sejumlah umat Islam mengikuti shalat Tarawih di Masjid Darurat posko pengungsian korban awan panas guguran (APG) Gunung Semeru di Lapangan Desa Penanggal, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Rabu (6/4/2022). Foto: Seno/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah umat Islam mengikuti shalat Tarawih di Masjid Darurat posko pengungsian korban awan panas guguran (APG) Gunung Semeru di Lapangan Desa Penanggal, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Rabu (6/4/2022). Foto: Seno/ANTARA FOTO
Tahun 2020 itu, Udin bukan cuma sedih saat malam takbiran dan Hari Raya Idul Fitri. Ia pernah tiba-tiba meneteskan air mata saat sedang salat tarawih di musala kompleks kosannya di Klang Lama. Ketika itu, imam salat membaca doa puji-pujian yang menggerakkan hati Udin.
“Enggak tahu kok air mata muncul sendiri. Momen itu sangat kangen [rumah],” ujarnya.
Syukurlah, Udin tahun ini bisa berlebaran bersama keluarganya. Ia menganggap momen ini benar-benar tak ternilai. Ia dapat menyentuh kembali tangan ibundanya saat sungkeman, setelah penantian panjang dua tahun.
com-Ilustrasi sungkem ke orang tua Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
com-Ilustrasi sungkem ke orang tua Foto: Shutterstock
Beda lagi cerita Pandu Gumilar. Lelaki 30 tahun ini tak jua mudik meski tahun ini pandemi sudah mereda. Padahal, sudah tiga tahun ia tak mengunjungi rumah almarhum orang tuanya di Desa Gupit, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Bila tahun lalu Pandu batal mudik karena pandemi, tahun ini ia gagal mudik karena ongkos mudik yang melonjak plus harga barang-barang kebutuhan pokok yang ikut naik.
Kali terakhir Pandu mengunjungi Wonogiri adalah tahun 2018. Saat itu ia masih bujang. Kini setelah menikah dan punya anak, ia harus menimbang banyak hal sebelum merencanakan pulang kampung, termasuk soal ongkos mudik dan harga sembako.
Padahal, Pandu rindu berkumpul bersama sanak saudara. “Menyenangkan, walaupun di desa Wonogiri sana nggak ada sinyal,” katanya, tertawa.
Antrean kendaraan di jalur Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (30/4/2022). Foto: Novrian Arbi/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Antrean kendaraan di jalur Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (30/4/2022). Foto: Novrian Arbi/Antara Foto
Mahalnya tiket juga menjadi alasan Rina Anggraeni batal mudik. Perempuan 29 tahun itu kini tinggal di Jakarta bersama kedua orang tuanya, namun mereka berasal dari Aceh. Biasanya, mereka pulang ke Aceh tiap Lebaran. Namun ongkos tahun ini membuat Rina berpikir ulang.
Rina yang seorang karyawan swasta harus merogoh kocek Rp 3 juta rupiah untuk satu tiket pesawat Jakarta-Aceh di musim Lebaran. Padahal, biasanya tiket hanya Rp 1,2 juta.
“Rp 3 juta itu baru untuk berangkat, belum PP (pulang pergi),” kata Rina.
Seandainya bisa pulang ke Aceh, Rina akan tinggal di sana selama dua minggu. Suasana pasti meriah dan hangat.
“Kangen [kampung halaman] itu sering, karena kampung di sana masih asri,” ujarnya.
Pedagang kulit ketupat musiman menyelesaikan pembuatan kulit ketupat yang dijual di kawasan Palmerah, Jakarta, Minggu (9/5).  Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pedagang kulit ketupat musiman menyelesaikan pembuatan kulit ketupat yang dijual di kawasan Palmerah, Jakarta, Minggu (9/5). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
Rina menceritakan salah satu tradisi unik di kampungnya saat Lebaran, yakni para perempuan memasak bebek bersama. Daging bebek dimasak dengan kuah kuning dan bumbu rempah yang khas. Setelahnya, mereka berkumpul dan makan bersama.
Selain itu, setiap tamu yang berkunjung ke rumah saat Lebaran wajib dibuatkan sirup. Rupanya, suguhan minuman manis berwarna itu dianggap lebih menghargai tamu ketimbang air putih atau air kemasan.
Tradisi lain di kampung Rina adalah membelikan perhiasan emas kepada para keponakan dan sepupu. Tak ada batasan minimal dalam pemberian itu. Emas itu menjadi salah satu tanda perayaan kemenangan.
Tahun ini, meski Rina dan Pandu tak mudik, jutaan orang lainnya berbondong-bondong pulang kampung. Kementerian Perhubungan memperkirakan pemudik tahun 2022 ini mencapai 85 juta orang, melonjak seiring pelonggaran situasi pandemi. Tiket bus menjelang Lebaran pun habis terjual.
Selamat berlebaran. Selamat merayakan kemenangan.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten