Gempa NTT M 7,7: Barang Kolong Terdampak Parah, 1.400 Warga Mengungsi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Susana di tempat pengungsian Mata Air Barang Kolong, Reo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Senin (17/8/2026). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Susana di tempat pengungsian Mata Air Barang Kolong, Reo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Senin (17/8/2026). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

Sebanyak 1.400 warga mengungsi di Posko Barang Kolong, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8) dini hari.

Kasatgas Humas Ops Amanusa II Bencana Alam NTT Kombes Bayu Suseno mengatakan jumlah tersebut merupakan data pengungsi per Senin (17/8) dan masih berpotensi bertambah.

"Di sini merupakan salah satu titik di mana jumlah pengungsi merupakan yang paling banyak, yaitu total sekitar 1.400 orang. Data ini data hari ini, dan nanti mungkin bisa bertambah karena seiring dengan berjalannya waktu," kata Bayu saat ditemui di pengungsian Reok, Manggarai, Senin (17/8).

Di lokasi tersebut, Polri juga telah menempatkan sejumlah personel untuk membantu kebutuhan warga. Mereka terdiri dari petugas medis hingga petugas trauma healing untuk memberikan pendampingan psikologis kepada pengungsi.

Selain itu, satu peleton Brimob telah tiba di lokasi. Sejumlah tenda juga didirikan, termasuk tenda yang nantinya digunakan sebagai posko Polda NTT untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Sementara tenda yang lain telah digunakan oleh masyarakat pengungsi, sehingga nantinya masyarakat menjadi lebih nyaman untuk tinggal di tempat penampungan,” ujar Bayu.

Wilayah Terdampak Parah

Susana di tempat pengungsian Mata Air Barang Kolong, Reo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Senin (17/8/2026). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

Menurut Bayu, Barang Kolong menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah. Sebanyak 26 orang dilaporkan meninggal dunia di wilayah tersebut.

"Kemudian perlu diinformasikan juga bahwasanya di lokasi inilah merupakan salah satu tempat yang korban jiwanya paling banyak, yaitu 26 orang. Ya, data yang kami terima di sini adalah yang paling banyak. Artinya, daerah inilah yang terdampak sangat parah," katanya.

Akses menuju lokasi pengungsian juga sempat terkendala akibat longsoran dan batu-batu besar yang menutup jalan. Namun, akses tersebut dapat kembali dibuka berkat kerja sama pemerintah daerah dan sejumlah pemangku kepentingan.

"Tadi kita lihat di perjalanan ya, di perjalanan bahwasanya masih terjadi rontokan-rontokan batu-batu besar sehingga menghalangi perjalanan kita. Tapi untung dari pemda, dari berbagai stakeholder, telah bekerja sama secara terus-menerus sehingga dalam waktu yang singkat jalan akses menuju ke sini dapat dibuka dan kita dapat tiba tanpa ada halangan suatu apa pun," tutur Bayu.

Kapolri Akan Berkunjung

Bayu menambahkan, Kapolri dijadwalkan mengunjungi lokasi pengungsian tersebut pada Selasa (18/8). Dalam kunjungan itu, Kapolri juga direncanakan membawa bantuan bagi warga terdampak gempa.

"Beliau juga akan membawa bantuan untuk masyarakat yang harapannya dapat meringankan beban masyarakat yang terdampak sehingga ke depan, masa depan bisa disusun dengan lebih baik lagi," kata dia.

Sementara itu, berdasarkan data BNPB per Senin (17/8), tercatat sedikitnya 68 orang meninggal dunia akibat gempa 7,7 magnitudo yang mengguncang NTT. Gempa susulan juga masih dirasakan di sejumlah wilayah, khususnya Manggarai, NTT.