Gen Z Jadi Motor Demo Besar di Nepal: Kecam Nepo Baby & Korupsi Merajalela
ยทwaktu baca 5 menit

Gen Z menjadi motor penggerak demo di Kathmandu, Nepal. Pemblokiran media sosial hingga korupsi yang merajalela menjadi pemicu demo yang didominasi Gen Z pada Senin (8/9) kemarin.
Salah satu isu yang menjadi perhatian Gen Z di Nepal adalah gaya hidup mewah yang ditunjukkan oleh anak-anak politisi. Dikutip dari The Kathmandu Post, Selasa (9/9), Gen Z mempopulerkan "Nepo Kids" dan "Nepo Baby/Nepo Babies" di media sosial. Menurut mereka, anak-anak pejabat ini menikmati hak istimewa yang berasal dari dana korupsi.
Kampanye "Nepo Kids" ini akhirnya meraih daya tarik yang besar di platform seperti TikTok dan Reddit. Dalam postingan-postingan di kedua platform tersebut, Gen Z melabeli anak-anak pemimpin politik sebagai "Nepo Kids" dan mempertanyakan gaya hidup mereka.
Para pengguna kedua platform itu membagikan gambar dan video yang menunjukkan mobil mewah, pendidikan di luar negeri dan liburan mewah yang didapatkan anak pejabat. Hal itu sangat kontras dengan perjuangan warga yang sering bermigrasi ke luar negeri untuk mencari pekerjaan yang lain.
Istilah "Nepo Kids" atau "Nepo Baby" memang pertama kali digunakan secara luas di Hollywood dan Bollywood untuk menggambarkan anak-anak bintang film, yang kemudian diadopsi di Filipina dalam kampanye menyoroti anak-anak politisi.
Sementara di Nepal, istilah tersebut digunakan untuk menargetkan keluarga mantan perdana menteri, menteri, anggota parlemen, dan tokoh-tokoh berpengaruh lainnya.
Pengguna Reddit menuduh keluarga politisi menyalahgunakan uang pajak.
"Ketika kamu melihat anak-anak pejabat, rasa-rasanya uang pajak digunakan untuk membiayai mobil-mobil mewah, pendidikan luar negeri dan gaya hidup mereka, sementara anak muda biasa terpaksa bekerja keras di luar negeri," tulis salah satu unggahan di Reddit.
Video dengan tagar #PoliticiansNepoBabyNepal yang beredar di TikTok turut mempertanyakan apakah anak-anak politisi mencapai kesuksesan melalui usaha sendiri atau melalui kekuasaan dan kekayaan orang tua mereka. Sejumlah video menyoroti anak-anak diplomat dan anggota parlemen mendapat hak istimewa.
Postingan itu mencerminkan kemarahan publik atas korupsi yang merajalela dan kesenjangan yang semakin melebar.
"Nepo Kids memamerkan gaya hidup mereka di Instagram dan TikTok, tapi tidak pernah menjelaskan dari mana asal uangnya," kata seorang pengguna TikTok yang videonya dibagikan secara luas.
Dari Diskusi di Reddit dan TikTok, Gen Z di Nepal Turun ke Jalan
Diskusi di Reddit menilai bahwa kampanye tersebut kemungkinan akan meluas ke jalanan. Sejumlah pengguna menyerukan demonstrasi di Baneshwar dan wilayah lainnya, mengatakan Gen Z sedang bangkit dan kampanye daring harus diikuti dengan demonstrasi fisik.
Meski demikian, tidak semua orang setuju dengan kampanye ini. Ada yang mengatakan menargetkan anak-anak pejabat sama saja dengan perundungan siber.
"Tidak adil mereka dihukum karena kesalahan orang tua mereka. Ini akan berdampak negatif pada kehidupan pribadi mereka," kata seorang pengguna TikTok.
Terlepas dari ada yang tidak setuju, namun kampanye ini terus berkembang di media sosial dan para aktivis akan terus mempertanyakan keluarga politik dan gaya hidup mereka.
Untuk mengorganisir demonstrasi, akun media sosial bernama Gen.Z Nepal di Instagram mulai membagikan informasi seperti apa yang harus dan jangan dilakukan selama demo, meminta demonstran tetap menjalankan aksi dengan damai, dan memperingatkan kemungkinan orang luar yang akan menyusup selama demonstrasi.
Penekanan pada prinsip non-kekerasan bahkan dipuji oleh para aktivis dan kreator konten yang berulang kali menyebut bahwa gerakan Gen Z Nepal tidak berpihak pada partai politik atau agenda pro-monarki mana pun. Meski ada upaya dari tokoh seperti Durga Prasai dan Hridayendra Shah, cucu dari Raja Gyanendra yang digulingkan, untuk mengaitkan diri mereka dengan aksi tersebut.
Pada awalnya, aksi demonstrasi pun berjalan dengan lancar. Bahkan ada siswa-siswa sekolah kelas 9 dan 10 yang ikut dalam aksi dan menasihati pejalan kaki untuk tidak merusak tanaman dan pohon di sepanjang lokasi demo.
Motivasi Gen Z
Meski bersatu di bawah payung protes Gen Z, motivasi mereka yang ikut demo berbeda. Ada yang marah karena korupsi merajalela, ada pula yang marah karena pemerintah memblokir media sosial.
Banyak demonstran yang meneriakkan yel-yel, menuntut diakhirinya korupsi, menyelidiki mereka yang bertanggung jawab, dan hukuman yang setimpal sesuai hukum.
Demonstran muda, Taya Chandra Pandey, mengatakan demonstrasi ini menunjukkan keberadaan sesuatu yang sering dituduh tidak dimiliki oleh generasinya: daya tahan.
"Melihat tingginya partisipasi Gen Z, saya melihat harapan. Ini tidak dilakukan oleh partai politik mana pun; murni didorong oleh Gen Z. Kita telah menunjukkan bahwa kita memiliki kekuatan untuk mempertahankan gerakan ini," kata Pandey.
Demo Jadi Rusuh karena Polisi Represif
Namun, demonstrasi damai berubah rusuh ketika polisi mulai menembakkan water canon, gas air mata, hingga peluru karet untuk membubarkan massa. Media lokal mencatat jumlah korban tewas mencapai belasan orang.
"Ini terjadi karena kurangnya keseriusan pemerintah. Mereka mengeklaim menembakkan peluru karet, tapi di rumah sakit kami melihat peluru tajam. Ini menunjukkan tingginya niat untuk membungkam anak muda dan membungkam suara-suara yang menentang korupsi," kata salah satu demonstran, Priya Sigdel.
Blokir Medsos Dicabut dan Menteri Mundur
Pemerintah Nepal pada akhirnya memang mengabulkan salah satu tuntutan masyarakat, yaitu mencabut blokir media sosial. Namun, sejumlah menteri memutuskan mundur imbas dari demo tersebut.
Menteri Pertanian dan Peternakan Ramnath Adhikari memutuskan mundur dari posisinya. Ia memilih mundur karena pemerintah merespons demonstrasi dengan penindasan, pembunuhan, dan penggunaan kekerasan yang membawa negara ke arah otoritarianisme dibandingkan demokrasi.
Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak juga memilih mengundurkan diri dan mengajukan pengunduran dirinya ke Perdana Menteri K.P. Sharma Oli.
Sementara Sekjen Kongres Nepal, Gagan Thapa, meminta Oli untuk bertanggung jawab secara moral atas kematian 19 demonstran dan meminta Oli untuk mundur dari jabatannya.
"Pemuda tak berdosa telah dibunuh secara tidak perlu. Perdana menteri harus bertanggung jawab atas penindasan ini dan segera mundur," kata Thapa.
Nepal adalah negara yang terkurung daratan di Asia Selatan, terletak di Pegunungan Himalaya. Penduduknya ditaksir 31 juta jiwa dengan wilayah nyaris 4 kali lipat Provinsi Jabar. Hindu menjadi agama mayoritas, disusul Buddha.
