kumparan
14 Agustus 2019 7:05

Genderang Perang Melawan Pembunuh Briptu Hedar

Pelepasan jenazah Brigadir Polisi (Anumerta) Hedar di Bandara Mozes Kilangin Timika
Pelepasan jenazah Brigadir Polisi (Anumerta) Hedar di Bandara Mozes Kilangin Timika, Selasa (13/8). Foto: Dok. Sevianto
Seorang anggota Kepolisian RI, Briptu Hedar, gugur setelah disandera dan dianiaya kelompok bersenjata di Kampung Usir, Kabupaten Puncak, Papua. Saat disandera sekitar pukul 11.00 WIT, Senin (12/8), Hedar tidak sedang membawa senjata api.
ADVERTISEMENT
Kala itu ia bersama seorang polisi lainnya yang tengah bertugas sedang melintasi perkampungan dengan mengendarai sepeda motor. Tak berselang lama, Hedar ditangkap dan dianiaya.
Briptu Hedar merupakan anggota Ditreskrimum Polda Papua yang terlibat dalam penangkapan beberapa tokoh kelompok bersenjata, seperti Dona Wendi, Aloysius Kayami, Jeni, dan Dominikus Manggai, pada 2016 di Sentani.
Briptu Hedar, personel Ditreskrimsus Polda Papua yang gugur, KKB Papua
Briptu Hedar, personel Ditreskrimsus Polda Papua yang gugur saat upaya penegakkan hukum terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Puncak Jaya, Papua. Foto: Instagram @polresta_bandarlampung
Lalu penangkapan Yokor Telenggeng dan Punggatabuni pada 2018 di Lani Jaya, Puncak Jaya. Ia juga terlibat dalam penangkapan Rongko Tenggeng dan penyuplai senjata kelompok Fimelis Kumulon di tahun yang sama.
Atas sederet prestasinya, Polri merasa kehilangan salah satu anggota terbaiknya itu. Insiden ini membuat pemerintah geram.
“Apa, KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata)? Pemberontak! Saya enggak suka dengar KKB-KKB, pemberontak, ya,” ujar Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu saat dijumpai di UPN Veteran Yogyakarta, Selasa (13/8).
ADVERTISEMENT
“Itu harus dihantam, diselesaikan pemberontak, jangan seenak-enaknya, dia membunuh orang. Jangan didiam-diamin, adakan operasi, hajar betul. Saya tidak suka sama pemberontak,” ujarnya.
Ibu Briptu Hedar tertunduk menerima peti jenazah putranya
Ibu Briptu Hedar tertunduk menerima peti jenazah putranya. Foto: Dok. Istimewa
Pernyataan serupa disampaikan oleh Wapres Jusuf Kalla (JK). JK menegaskan, jika ada aparat TNI maupun Polri yang diserang kelompok bersenjata, pemerintah berhak mengambil tindakan tegas.
"Apabila ada yang menyerang aparat, polisi, negara harus diselesaikan, harus diserang balik. Itu harus. Kalau diterima begitu saja, itu salah," tegas JK.
Di sisi lain, Menkopolhukam, Wiranto, menilai penembakan tersebut merupakan hal yang biasa terjadi, terlebih sampai menimbulkan korban. Baginya, itu merupakan konsekuensi dari tugas operasi di lapangan.
"Kita 'kan sedang mengamankan daerah itu, ada yang ketembak, ada yang luka, itu bagian dari operasi, itu bisa setiap hari terjadi," kata Wiranto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
ADVERTISEMENT
Mantan Ketum Hanura ini hanya meminta agar persoalan itu tak diperbincangkan lagi. Dia mengingatkan semua pihak ikut mendoakan keselamatan aparat. Dan sebagai penghargaan atas perjuangannya, Hedar pun diberikan kenaikan pangkat.
"Saya berkali-kali [bilang], masalah operasi seperti itu enggak usah diperbincangkanlah, kita doakan supaya pasukan kita selamat, kita doakan ada kesadaran dari pelaku-pelaku yang disebut KKSB (kelompok kriminal separatis bersenjata) itu," jelas Wiranto.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan