Gerak-gerik Komnas HAM dalam Pecahkan Kasus Brigadir Yosua
·waktu baca 6 menit

Komnas HAM masih terus mengusut kasus kematian Brigadir Yosua. Belakangan terungkap, eks Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo terlibat dalam kasus ini.
Irjen Ferdy Sambo, telah ditetapkan sebagai tersangka. Ia terbukti memerintahkan Bharada E alias Richard untuk menembak Yosua hingga tewas.
Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto mengatakan, kini ada empat tersangka dalam kasus ini. Mereka adalah Bharada E, RR, KM dan Ferdi Sambo.
Para tersangka dijerat Pasal 340 Sub Pasal 338 Sub Pasal 56 KUHP. Mereka terancam hukuman mati atau penjara hukuman seumur hidup.
Meski Polri sudah menyampaikan perkembangan signifikan dalam kasus ini, Komnas HAM masih mengusut kematian Brigadir Yosua.
Komisioner Komnas HAM Choirul Anam mengatakan, mereka melanjutkan pemeriksaan siber tahap dua, Selasa (9/8). Pemeriksaan ini berfokus menggali lebih dalam jejak komunikasi terakhir yang terjadi sebelum kasus tewasnya Brigadir Yosua.
Sebelumnya, Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengatakan, mereka sudah mengindikasi adanya WhatsApp Grup yang diduga berisi perbincangan terakhir antara para ajudan sebelum Yosua tewas.
Namun, Taufan tidak merinci substansi keberadaan WhatsApp Grup ini. Ia hanya mengatakan grup tersebut berisi obrolan para ajudan, Yosua menjadi salah satu anggota grup tersebut.
Pencarian jejak digital kemudian menjadi fokus penggalian informasi Komnas HAM. Menurut Taufan peristiwa yang menewaskan Brigadir Yosua minim saksi mata dan hanya bergantung pada kesaksian orang per orang.
Sosok Bripka Matius Marey, Ajudan Nyentrik Irjen Ferdy Sambo
Irjen Ferdy Sambo memiliki 8 ajudan yang berasal dari berbagai satuan Polri. Jumlah ajudan tinggal 7 setelah Brigadir Yosua tewas pada 8 Juli 2022.
Tujuh ajudan yang tersisa menjadi sorotan, apalagi saat dipanggil Komnas HAM terkait kasus tewasnya Brigadir Yosua dan dua di antaranya oleh Bareskrim dijadikan tersangka.
Salah satu ajudan Ferdy Sambo adalah Bripka Matius Marey. Sosok Matius mulai menjadi sorotan publik saat foto Sambo bersama 8 ajudannya beredar beberapa hari setelah insiden penembakan Yosua.
Foto itu memperlihatkan Sambo bersama 8 ajudan berpakaian dinas. Salah satu ajudan tampil mencolok karena memiliki cambang lebat, sedangkan yang lain tampil kelimis. Ajudan bercambang itu adalah Matius Marey.
Matius kembali menjadi sorotan saat mendatangi pemanggilan Komnas HAM bersama 6 ajudan dan asisten rumah tangga (ART) di rumah Sambo pada 26 Juli 2022. Dia tampak memakai masker hitam dan kemeja panjang warna cokelat. Tampak tato menghiasi tangan kirinya.
Dia terlihat menguncir rambutnya dan tetap mempertahankan cambang/jenggot lebat.
Matius kembali muncul di depan publik pada saat mengawal Irjen Sambo memenuhi panggilan Bareskrim Polri pada 4 Agustus 2022.
Begitu mobil yang membawa Sambo tiba, Matius langsung keluar dari pintu depan kiri dan mengawal atasannya yang keluar dari pintu di belakangnya.
Matius tampak mencolok sebab saat itu Matius tampil nyentrik dengan memakai baju warna hitam, rambut dikuncir, dan di tangannya terlihat tato.
Dibandingkan saat muncul di Komnas HAM, penampilan Matius sedikit berubah saat mengawal ketat Sambo di Bareskrim Polri. Rambutnya dicukur nyaris habis, tersisa sedikit yang kemudian dikuncirnya.
Tersangka Ketiga Kasus Tewasnya Brigadir Yosua Sudah Diperiksa Komnas HAM
Ahmad Taufan Damanik mengungkap mereka telah memeriksa tersangka ketiga kasus tewasnya Brigadir Yosua.
Tersangka ketiga ini ialah sosok yang disebut Menkopolhukam Mahfud MD pada Senin (8/8) malam. Mahfud mengatakan tersangka ialah sopir istri Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi.
Namun Mahfud tidak menyebut nama tersangka itu. Ia hanya mengatakan inisialnya K.
Taufan mengungkapkan pemeriksaan Komnas HAM terhadap tersangka tersebut sudah dilakukan beberapa waktu lalu.
"Sudah (diperiksa) tempo hari," kata Taufan.
Taufan memastikan pria itu diperiksa saat Komnas HAM memanggil para ajudan Irjen Ferdy Sambo. Pemeriksaan terhadap ajudan itu dilakukan sebanyak dua kali. Namun, tak merinci pada sesi pertama atau kedua K diperiksa Komnas HAM.
Komnas HAM Akan Periksa Istri Irjen Ferdy Sambo Pekan Ini
Komnas HAM akan segera meminta keterangan istri Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi. Pemeriksaan terhadap Putri akan dilakukan minggu ini.
"(Jadwal pemeriksaan) sedang dalam fixasi. Tapi hampir fix. Insyaallah dalam minggu ini kita akan bertemu," kata Taufan.
Komnas HAM menggandeng Komnas Perempuan untuk memeriksa Putri. Istri Irjen Ferdy Sambo itu diduga menjadi korban pelecehan seksual dalam kasus tewasnya Brigadir Yosua.
Komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah Tardi mengatakan, ada teknis pemeriksaan yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah memastikan Putri Sambo diperiksa oleh penyelidik dengan gender yang sama.
“Iya (secara khusus). Dilakukan di ruangan khusus, atau di tempat yang nyaman atau aman bagi korban ya, dan juga dilakukan oleh berbagai pihak yang memiliki perspektif gender dan memiliki kompetensi untuk menangani kasus kekerasan, itu syarat utamanya,” kata Siti.
Nantinya pemeriksaan Putri Sambo akan dilakukan oleh Ketua Komnas Perempuan, Andy Yentriyani dan juga pihak Komnas HAM, Sandrayati Moniaga.
Komnas HAM Bicara soal Potensi Pelanggaran HAM di Kasus Brigadir Yosua
Ahmad Taufan Damanik kembali mengingatkan soal fair trail dalam kasus ini. Dikhawatirkan tersangka yang telah ditetapkan Polri pada kenyataannya tidak melakukan kesalahan, atau disanksi melebihi yang dilakukannya.
"Saya sangat tidak bisa menerima kalau ada seseorang yang kemudian katakanlah konstruksi sedemikian rupa sehingga dia menanggung beban terhadap peristiwa pembunuhan, padahal faktanya mungkin tidak begitu, itu pelanggaran terhadap HAM," kata Taufan.
Taufan ingin memastikan proses hukum yang berjalan tidak menyalahi HAM. Mulai dari penyelidikan hingga peradilan nanti.
"Jadi fair trail itu prinsipnya kita menjaga seluruh koridor proses tahapan-tahapan penyelidikan, penyidikan sampai proses peradilan nanti, supaya tidak didapatkan suatu hasil peradilan sesat di mana orang yang tidak bersalah misalnya kemudian dikatakan bersalah, atau orang dengan satu kesalahan tertentu tetapi kemudian dihukum melebihi proporsinya, karena kita tidak mendapatkan titik terang masalahnya," jelas Taufan.
Taufan tidak menerangkan siapa yang ia maksud. Namun saat disinggung soal Bharada Eliezer, ia menjawab diplomatis.
Irjen Ferdy Sambo Bakal Diperiksa Komnas HAM
Ahmad Taufan Damanik mengkonfirmasi akan memanggil Irjen Ferdy Sambo terkait tewasnya Brigadir Yosua. Pemeriksaan Sambo akan digelar pada Kamis (11/8).
Hari Kamis mungkin bisa pagi atau siang kami mengupayakan mencari jadwal fix untuk memeriksa Pak Sambo kurang lebih gitu," kata Taufan.
Terkait lokasi pemeriksaan, Taufan mengungkapkan akan berusaha memeriksa Sambo di Komnas HAM.
"Hari Kamis, kita sedang bernegosiasi, tapi kita minta sebisanya di sini (Komnas HAM)" kata Taufan.
Namun untuk materi pemeriksaannya, Taufan belum bisa membocorkan. Yang jelas masih terkait dengan kasus tewasnya Brigadir Yosua.
"(Apa yang digali) ya belum dong, nanti hari Kamis kita akan periksa, masa sekarang," kata Taufan.
Komnas HAM Buka Peluang Periksa Ulang Bharada E
Komnas HAM membuka kemungkinan untuk memeriksa ulang Bharada E atau Richard Eliezer terkait tewasnya Brigadir Nofriansyah Yosua.
Bharada E sudah diperiksa oleh Komnas HAM, namun belakangan keterangannya kepada penyidik Polri berubah.
"Sangat mungkin [diperiksa ulang]," kata Taufan.
Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara juga tak menampik akan memeriksa ulang Bharada E. Namun, saat ditanya kapan waktu pemeriksaan itu, Beka tak bisa memastikannya.
Menurut dia, pihaknya akan memeriksa eks Kadiv Propam Irjen Pol Ferdy Sambo pada Kamis (11/8) dan hasil uji balistik.
"Yang sudah ada besok itu balistik. Kamis Pak Ferdy Sambo. Yang belum Bu PC dan pertanyaan tadi sangat mungkin kita akan periksa ulang [Bharada E]," kata Beka.
