Gerindra Kritik Pernyataan Budi Arie soal 'Patahan Sejarah': Analisis Ahistoris

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wasekjen Gerindra Kawendra Lukistian. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Wasekjen Gerindra Kawendra Lukistian. Foto: Dok. Pribadi

Anggota DPR sekaligus Wasekjen Partai Gerindra Kawendra Lukistian menyoroti pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengenai kemungkinan percepatan dinamika politik sebelum Pemilu 2029.

Kawendra menilai penggunaan istilah “patahan sejarah” untuk menggambarkan kemungkinan perubahan tersebut merupakan analisis yang ahistoris.

Kawendra menegaskan, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini berjalan berdasarkan konstitusi dan mandat rakyat yang sah.

“Pemerintahan Presiden Prabowo berdiri di atas fondasi konstitusi dan mandat rakyat yang sah! Analogi ‘Patahan Sejarah’ yang mempercepat usianya pemerintahan adalah bentuk analisis latar yang ahistoris!” kata Kawendra dalam keterangannya, Rabu (26/8).

Kawendra mengatakan, Gerindra akan tetap fokus mendampingi Prabowo dalam menjalankan pemerintahan.

“Dan kami di Gerindra fokus mengawal Presiden Prabowo bekerja keras dengan segala daya upayanya, dan pasti akan terus membersamai beliau,” ujarnya.

Menurut Kawendra, dukungan terhadap Prabowo bukan baru diberikan setelah Prabowo berada di pemerintahan. Ia menyebut perjuangan mendukung Prabowo telah dilakukan sejak sebelum Prabowo memenangkan Pilpres 2024.

“Bukan baru sekarang, tapi sejak dulu! Ya, sejak kalah berkali-kali dan tetap terus bangkit lagi!” kata Kawendra.

Prabowo memberikan arahan di syukuran HUT ke-18 Gerindra Foto: Instagram @prabowo

Kawendra juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya keyakinan dalam menghadapi situasi yang tidak selalu dapat diprediksi.

“Keyakinan itu bukan tentang tahu cuaca esok, tapi tentang berdiri di tengah badai dengan jas hujan yang kau jahit sendiri,” ujarnya.

Sikap Kawendra tersebut sejalan dengan respons resmi Partai Gerindra terhadap pernyataan Budi Arie. Juru Bicara Gerindra Sugiat Santoso juga mengatakan partainya belum membahas Pemilu 2029.

Sugiat menyebut Gerindra saat ini masih berfokus pada program-program pemerintahan Prabowo. Karena itu, Gerindra tidak ingin terseret dalam wacana mengenai kemungkinan percepatan Pemilu yang disampaikan Budi Arie.

Budi Arie menemui Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) pada Lebaran kedua dikediamannya Jalan Kutai Utara 1, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Solo, Selasa (1/4/2025). Foto: kumparan

Budi Arie Singgung ‘Patahan Sejarah’

Pernyataan Budi Arie sebelumnya beredar melalui sebuah video di media sosial. Dalam video tersebut, Budi tampak duduk di sebelah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat menyampaikan pandangannya mengenai kemungkinan adanya perubahan situasi politik sebelum Pemilu 2029.

Budi menyebut, kondisi masyarakat saat ini menunjukkan adanya sejumlah anomali yang menurutnya perlu menjadi perhatian. Ia bahkan mengaku memiliki insting bahwa dinamika politik bisa bergerak lebih cepat dari perkiraan.

“ Tetapi saya ingin sampaikan, tadi saya sudah bisik ke Pak Jokowi. Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari ’29 Pak. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong pemilu ’29, pemilu ’29. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap nggak?” ucap Budi.

Budi kemudian menyebut adanya fenomena sosial yang menurutnya dapat menjadi tanda terjadinya “patahan sejarah”.

instagram embed

Berujung Minta Maaf

Setelah video itu viral, Budi Arie menyampaikan permohonan maaf. Ia menegaskan, pernyataan tersebut merupakan analisis pribadinya dan tidak berkaitan dengan Jokowi. Pernyataan yang dimaksud yakni soal ia menyebut pergantian kekuasaan bisa lebih cepat dari 2029.

Eks Menkop ini menyatakan siap bertanggung jawab atas pernyataan tersebut dan menerima konsekuensi yang muncul.