kumparan
12 Juli 2019 18:48

Gerindra: Pertemuan Jokowi - Prabowo Bisa Satukan Cebong dan Kampret

Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Rekonsiliasi antara dua kubu yang bertarung di Pilpres tengah digaungkan. Opsi ini dinilai dapat menjadi obat peredam atas polarisasi atau perpecahan yang terjadi di masyarakat akibat tensi kontestasi yang panas.
ADVERTISEMENT
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono mendukung adanya rekonsiliasi ini. Dia, di Internal partai, mengaku selalu mendorong ketua umumnya, Prabowo Subianto untuk bertemu dengan Jokowi.
"Saya pribadi sebagai seorang Gerindra ini selalu mendorong agar terjadinya silaturahmi Pak Jokowi dan Prabowo, walaupun hubungan mereka fine-fine saja, baik-baik saja," kata Arief di diskusi Kopi Politik Syndicate bertema 'rekonsiliasi Indonesia kerja menuju adil dan makmur' di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (12/7).
"Tapi ini penting ya akhirnya untuk memberikan gambaran ke masyarakat kalau pimpinan dua ini enggak ada masalah," sambungnya.
Ia pun menyebut bahwa apabila rekonsiliasi ini terjadi, bisa menurunkan tensi panas di masyarakat. Setidaknya akan ada 10 sampai 15 persen, kondisi perpecahan akan teratasi.
ADVERTISEMENT
"Kalau ada pertemuan dari Pak Jokowi dengan Pak Prabowo setidaknya menurunkan tensinya 15 persen sampai 10 persen perpecahan di masyarakat ini. Ini penting," ungkapnya.
Joko Widodo dan Prabowo Subianto di Hambalang. Foto: Dok. Biro Setpres
Ia juga menyebutkan bahwa kondisi masyarakat di bawah memang panas. Bahkan istilah di dua kubu baik 01 yang dikenal sebagai cebong dan 02 dikenal kampret, sangat melekat di masyarakat.
Arief menyebut hal ini sulit dan butuh waktu serta upaya untuk menghilangkan stigma yang terbangun di masyarakat.
"Mengenai masyarakat yang di bawah terpecah hari ini baik di medsos itu perang kampret cebong itu, nah ini jadi tugas kita bersama bagaimana menyatukan kampret cebong ini menjadi sebuah binatang yang lebih halus atau menjadi manusia," kata dia.
"Ini yang memang enggak gampang, memanusiakan cebong dan kampret jadi manusia. Menciptakan manusia dari cebong dan kampret ini sulit ilmu biologinya enggak ada. Nah inilah jadi tantangan kita bersama. Dibutuhkan silaturahmi dan rekonsiliasi," pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan