Godaan Punya Kendaraan Pribadi, Salah Satu Alasan Orang Ogah Naik Angkutan Umum
·waktu baca 2 menit

Kondisi Jakarta yang dibekap polusi udara sampai menuai sorotan dari publik dan luar negeri menjadi fokus pemerintah saat ini, termasuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Tingginya polusi dikaitkan dengan berbagai faktor, salah satunya asap kendaraan. Berdasarkan data Pemprov DKI Jakarta 2019, modal share angkutan umum di Jakarta saja hanya mencapai 21,7 persen. Cuma ada 5.735.712 penumpang yang melakukan perjalanan dengan angkutan umum.
Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DJTK), Haris Muhammadun, memaparkan alasan transportasi umum di Jabodetabek belum digunakan secara maksimal. Menurutnya, jangkauan angkutan umum belum sampai ke daerah mitra Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, serta integrasi antar moda yang seamless.
Ia menyebut masyarakat masih tergoda untuk memiliki kendaraan pribadi.
"Ada godaan kepemilikan kendaraan pribadi ini yang seolah banyak fasilitasi dan kemudahan lainnya," ujarnya kepada kumparan, Jumat (18/8).
Sehingga, imbuhnya, selama layanan angkutan umum belum bisa mengalahkan kendaraan pribadi, maka angkutan umum belum akan dipilih oleh masyarakat.
"Kebijakan push and pull policy juga sempat terhenti karena adanya penolakan ERP, Integrasi Tarif Angkutan Umum yang masih terbatas di angkutan umum Jakarta dan belum diperluas ke KRL," terangnya.
Selain itu, upaya lain yang bisa didorong dalam waktu dekat dan cepat oleh pemerintah setempat adalah memberlakukan kembali Work From Anywhere (WFA) atau Work From Home (WFH).
