Golkar Sepakat dengan Jokowi: Pilpres Bukan soal Baper, tapi Pertarungan Gagasan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua DPD Golkar Jabar, Ace Hasan Syadzili, di Kuningan pada Minggu (13/8/2023). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ketua DPD Golkar Jabar, Ace Hasan Syadzili, di Kuningan pada Minggu (13/8/2023). Foto: Dok. Istimewa

Ketua DPP Golkar, Ace Hasan Syadzily, menyebut partainya sepakat dengan kritikan Presiden Jokowi soal banyaknya "pertarungan perasaan" jelang Pilpres 2024. Menurut Ace, ini adalah salah satu cara Jokowi menunjukkan bahwa pilpres bukan kompetisi main-main.

"Presiden Jokowi ingin menekankan kepada kita semua bahwa pertarungan pemilihan presiden merupakan kompetisi antar-keluarga besar bangsa kita," kata Ace saat ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/11).

Karena itu, kata Ace, seharusnya yang dipertontonkan di depan masyarakat adalah pertarungan antar-gagasan. Bukan pertarungan yang dilatari oleh perasaan.

"Yang harus dikedepankan adalah tentu pertarungan gagasan dan ide, serta tawaran program-program kepada masyarakat, bukan karena misalnya, bawa perasaan atau baper," tegasnya.

Presiden Jokowi di HUT Golkar. Foto: Tangkapan Layar You Tube Partai Golkar

Dalam puncak perayaan HUT ke-59 Partai Golkar, Jokowi menyebut sudah terlalu banyak drama yang terlihat menjelang Pilpres 2024. Padahal, menurutnya, seharusnya pilpres diwarnai dengan adu gagasan, bukan perasaan.

“Karena saya lihat akhir-akhir ini yang kita lihat adalah terlalu banyak dramanya. Terlalu banyak drakornya. Terlalu banyak sinetronnya. Sinetron yang kita lihat," ucap Jokowi di puncak HUT ke-59 Golkar di DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Senin (6/11) malam.

“Mestinya kan pertarungan gagasan, pertarungan-pertarungan ide, bukan pertarungan perasaan. Kalau yang terjadi pertarungan perasaan, repot semua kita,” lanjutnya.

Jokowi melanjutkan, jika pertarungan perasaan ini terus berlarut, maka akan menimbulkan dampak yang besar. Konflik berkepanjangan antar pemilih contohnya.

“Jangan sampai kalau kita bawa perasaan tentu kan yang akan timbul adalah ya sakit hati yang berkepanjangan, sehingga usai pilpres pun antara satu pihak dengan pihak lain masih bersitegang dan konflik. Itu yang dihindari,” pungkasnya.