Gonjang-ganjing Harga Cabai Rawit Usai Soeharto Lengser

Harga cabai rawit kerap tidak terkendali dan terjadi kenaikan setiap tahun. Pada bulan tertentu, biasanya di awal dan akhir tahun, stok cabai rawit turun drastis yang memicu kenaikan harga. Sedangkan pada pertengahan tahun justru sebaliknya, stok melimpah dan harga anjlok.
Tetapi faktanya, produksi cabai rawit lebih besar dibandingkan kebutuhannya. Tengok saja data Kementerian Pertanian (Kementan), di mana produksi cabai rawit di tahun 2015 mencapai 796.676 ton sedangkan konsumsinya hanya 335.968 ton atau surplus 50.388 ton. Di tahun 2016, produksi cabai rawit mencapai 818.530 ton sedangkan konsumsi 350.183 ton atau surplus 46.771 ton.
Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia Dadi Sudiana mengungkapkan, fenomena naik turunnya harga cabai rawit mulai terjadi pasca lengsernya Soeharto di tahun 1998.
"Sejak 19 tahun yang lalu begitu terus (berulang tejadi)," ungkap Dadi kepada kumparan, Kamis (16/2).

Menurut Dadi, pola tanam yang dilakukan oleh para petani cabai rawit mulai berubah di tahun 2000-an. Sejak saat itu, petani cabai rawit mulai berlakukan masa tanam pada saat musim hujan. Padahal, menanam cabai rawit saat musim hujan punya risiko cukup besar seperti gagal panen. Sementara itu, petani justru enggan menanam cabai rawit saat musim kemarau.
Hal ini justru berbeda bila dibandingkan saat zaman Orde Baru di mana pola tanam cabai dilakukan hampir sepanjang tahun yang membuat harga relatif mendatar.
"Karena masalah suplai tidak ada kepastian terutama di musim kemarau itu jumlah tanam sedikit, musim hujan banyak tetapi sering kena penyakit," katanya.
Dadi meminta perlu adanya perbaikan terutama dari sisi hulu agar produksi cabai rawit bisa berkelanjutan. Selain itu, perbaikan di sektor hilir terutama tata niaga juga penting agar tidak terjadi disparitas harga yang cukup tinggi.
"Selama ini enggak ada perubahan di tata niaga dan on farm. Perlu ada perbaikan secepatnya bila tidak ingin terulang," sebutnya.
