GPCI Sebut Ada 7 WNI yang Ikut Misi GSF Kirim Bantuan ke Gaza via Libya

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perjalanan GSF dengan cara Land Convoy kirim bantuan kemanusiaan ke Gaza via Libya. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Perjalanan GSF dengan cara Land Convoy kirim bantuan kemanusiaan ke Gaza via Libya. Foto: Dok. Istimewa

Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) menyebut masih ada sejumlah WNI yang turut serta dalam penyaluran bantuan kemanusiaan dari Global Sumud Flotilla (GSF) ke Gaza. Ada 7 WNI yang terlibat, dan mereka mengirim bantuan lewat jalur darat.

Ini merupakan salah satu cara GSF untuk terus memberi bantuan ke Gaza. Anggota Dewan GPCI, Ahmad Juwaini, menjelaskan ada tiga cara dalam GSF untuk memberikan bantuan ke Gaza.

“Yang pertama adalah sea convoy atau konvoi laut, yang diikuti oleh 9 warga negara Indonesia. Kemudian yang kedua, kita mengikuti Land Convoy, yang diikuti oleh 7 orang relawan dari Indonesia. Terakhir kegiatan diplomasi kongres parlemen di Brussel,” ungkap Juwaini dalam konferensi pers di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Selasa (26/5).

Perjalanan Land Convoy tersebut dimulai dari Kota Tripoli, Libya Barat, pada Jumat (15/5). Ada sebanyak 250 partisipan dari 30 negara yang terlibat dalam gerakan ini.

Mereka melakukan perjalanan menggunakan 5 bus. Selain itu, terdapat juga mobil ambulans dan karavan yang membawa bantuan berupa kebutuhan pokok untuk warga Palestina.

“Kami berangkat tanggal 15 Mei 2026 naik bus, ada kurang lebih 250 partisipan dari 30-an negara. Ada 5 bus yang membawa seluruh partisipan dan 5 ambulans dan mobil panitia berikut 10 karavan bantuan yang akan dibawa ke Palestina,” tutur salah satu delegasi Indonesia, Imam Alfaruq, saat dihubungi kumparan.

Imam menceritakan bahwa perjalanan tersebut telah sampai di Kota Sirte, Libya Timur, dan sempat tertahan selama 7 hari. Mereka mendirikan tenda selama waktu tersebut.

Anggota Dewan Pengarah GPCI, Ahmad Juwaini saat memberikan keterangan mengenai WNI yang terlibat dalam misi kemanusiaan ke Gaza di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

“Kami tertahan dan bahkan 10 Delegasi Negosiator Land Convoy ditahan di Sirte. Kami bermalam mendirikan tenda dari tanggal 17 sampai tanggal 25 Mei 2026,” ujarnya.

Saat ini, Libya masih belum mereda dari perang sipil. Libya Barat dan Libya Timur masing-masing memiliki pemerintahan de facto yang berbeda. Imam menjelaskan, di Libya Timur sejumlah milisi masih beroperasi untuk menjaga keamanan.

“Alasannya tentara Libya Timur, Milisi Haftar akan mengerahkan pasukan militer untuk merespons tekanan dari Land Convoy Global Sumud Flotilla,” ungkapnya.

Atas kondisi ini, para delegasi pun dibawa kembali oleh tentara ke Kota Tripoli pada Senin (25/5). Sebagian besar dari delegasi pun telah tiba di Kota Tripoli pada pukul 05.00 waktu Libya, Selasa (26/5).

“10 delegasi masih ditahan oleh militer Libya Timur. Sebagian delegasi dari Turki, China, Tunisia, Aljazair. Sebagian besar lansia dan kaum rentan yang sudah sakit selama perjalanan diizinkan pulang duluan ke Tripoli dan Misrata untuk berobat atau pulang ke negara masing-masing,” tutur Imam.

Saat ini, masih ada 7 WNI yang tergabung di konvoi tersebut. 3 di antaranya masih bersama militer Libya Barat. Sementara 4 orang lainnya sudah tiba di Wisma Duta KBRI Tripoli.

Mereka akan pulang setelah bertemu lengkap dengan delegasi lainnya.

"Kami menunggu ketiga kawan-kawan kami dulu, setelah bertemu lengkap baru kami putuskan untuk pulang ke Tanah Air," kata Imam.

Berdasarkan informasi dari GPCI, berikut 7 WNI yang terlibat Land Convoy GSF:

1. Yahya Ayyash (Sharing Happines)

2. Ahmad Muzayyinul Chuluqil Astna (Better Youth)

3. Diki Taufik Sidik (Rumah Wakaf Indonesia)

4. Imam Alfaruq (Dompet Dhuafa)

5. Muhamad Rikar Tayusani (Rumah Zakat)

6. Hakam Ahmad Firas (Rumah Zakat)

7. Sukron Nurhadi (Bantu Teman Palestina)