Gubernur Aceh Heran Masih Ada Anak Muda Main PUBG meski Sudah Diharamkan
·waktu baca 2 menit

Gubernur Aceh Nova Iriansyah menyayangkan anak muda di Aceh masih dengan game online Playerunknown’s Battleground atau PUBG dan sejenisnya, kendati Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) telah fatwa haram terhadap permainan tersebut.
“Terkait PUBG, saya bersama MPU telah mengharamkan game ini, tapi di warung-warung anak-anak kita masih memainkan game ini dengan memanfaatkan jaringan wifi yang tersedia di warung tersebut,” kata Nova dalam keterangannya, Kamis (10/3).
Nova mengaku, kenapa game tersebut diharamkan di Aceh sebab menurutnya daya rusak yang diakibatkan oleh keranjingan game tersebut sama seperti narkoba.
“Daya rusak permainan ini sangat berbahaya,”ujarnya.
Dikatakan Nova, demi melindungi generasi muda dan masyarakat dirinya acapkali meminta Fatwa dan Taushiyah MPU. Sebagai daerah asimetris, dirinya selalu meminta pendapat ulama terhadap sejumlah kebijakan yang akan diambil Pemerintah Aceh.
“Pada akhir 2018, saya sempat tidak mengizinkan vaksin rubela sebelum ada fatwa atau minimal Taushiyah MPU Aceh. Selain itu, kami juga sudah meminta MPU untuk menerbitkan fatwa haram terhadap PUBG,” tuturnya.
Di sisi lain, Nova juga mengajak lembaga Majelis Adat Aceh (MAA) untuk merangkul generasi milenial dan generasi Z. Di era digital saat ini, perkembangan teknologi sangat pesat, sebagai lembaga adat, Nova melihat penting peran MAA membentuk kelompok generasi ini agar tidak salah langkah.
Akhir-akhir ini yang menonjol di Aceh adalah kasus kekerasan dan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak, narkoba dan game online. Ini menjadi tugas besar yang harus menjadi perhatian bersama.
“Kekerasan terhadap perempuan dan anak, narkoba dan game online menjadi ujian di dunia modern saat ini, terutama game online dan narkoba. Nah, untuk memberantas ini kita harus merangkul generasi milenial dan generasi Z,” imbuhnya.
Lebih lanjut Nova menuturkan, gadget yang dikuasai anak-anak akan masuk ke ranah privat mereka dan tanpa kontrol, hal itu akan sangat berbahaya.
“Gadget yang anak-anak kita kuasai akan masuk ke ruang pribadi mereka. Ke kamar, ke kamar mandinya dan yang paling bahaya adalah semua itu di luar kontrol. Namun, melarang anak-anak kita menggunakan gadget juga tidak mungkin karena banyak juga hal positif dari gadget tersebut,” ucapnya.
Karena itu, Nova mengajak MAA untuk membentuk dan membina komunitas yang tidak hanya bernuansa masa lalu tetapi bernuansa masa kini dan masa depan.
