Gubernur Bali Tantang Senator Australia: Tunjukkan Lokasi Penuh Kotoran

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Bali Wayan Koster. Foto: Pemprov Bali
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Bali Wayan Koster. Foto: Pemprov Bali

Gubernur Bali, Wayan Koster, mempertanyakan klaim Senator Australia, Pauline Hanson, yang menuduh bahwa Bali dipenuhi kotoran ternak.

Wayan menegaskan, Bali memiliki pengelolaan limbah yang baik. Kotoran dan sampah mungkin terbawa saat musim hujan sehingga menyebabkan penumpukan di TPA Suwung.

Namun, pihaknya telah mengatasi skenario semacam itu. Otoritas bahkan tengah membangun tiga unit Tempat Pengolahan Sampah Terpadu baru di Denpasar.

Inisiatif itu akan rampung pada September. Dengan demikian, TPA Suwung pun akan segera ditutup pada Oktober. Wayan lantas meminta Hanson membuktikan klaim-klaimnya.

"Saya minta tunjukkan di mana lokasi penuh kotoran dan sampah. Kalo di musim hujan, ada sampah kiriman dari luar Bali ke Pantai Kuta. Tetapi, yang ada sampai saat ini hanya penumpukan sampah di TPA Suwung," terang Wayan kepada kumparan pada Sabtu (6/8).

"Saya mempertanyakan pernyataan senator itu," lanjut dia.

Senator Pauline Hanson di Senat di Gedung Parlemen di Canberra , Australia, pada 18 Maret 2021. Foto: Sam Mooy/Getty Images

Hanson membuat komentar kontroversial itu saat berpidato di Senat Australia pada Kamis (4/8). Pemimpin partai sayap kanan itu mengatakan, sapi berkeliaran dengan bebas di Bali.

Akibatnya, menurut Hanson, kotoran ternak berceceran di pulau tersebut. Para pelancong yang berlibur lantas berisiko membawa Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) ketika berpulang ke Australia.

"Bali berbeda dengan negara lain, karena sapi bebas berjalan di mana-mana. Kotoran sapi dan orang berjalan di atasnya dan terbawa di pakaiannya dan orang itu kembali ke negara ini," ujar Hanson.

Komentar itu merupakan bagian dari kritik Hanson terhadap kebijakan Australia. Sejak PMK mewabah di Indonesia, Canberra menggencarkan berbagai pencegahan. Sebab, PMK berisiko menelan biaya ekonomi hingga AUD 80 miliar (Rp 832 triliun) bagi Australia.

Pemerintah lantas meluncurkan satgas biosekuriti, mengirimkan alat sanitasi alat kaki ke bandara internasional, menggunakan anjing biosekuriti, dan menerapkan penyaringan warga yang kembali dari Indonesia.

Petugas memberikan vaksin penyakit mulut dan kaki (PMK) kepada seekor sapi di sebuah kandang di Lhoong, Aceh, Selasa (26/7/2022). Foto: Chaideer Mahyuddin/AFP

Kendati demikian, Australia menolak menutup perbatasan dengan Indonesia. Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, tengah memprioritaskan kemitraan dengan Indonesia.

Albanese menekankan komitmennya untuk memperdalam relasi itu sejak awal kampanye pemilu. Dia kemudian memilih Indonesia sebagai tujuan kunjungan diplomatik pertamanya.

Pasalnya, Indonesia merupakan pengimpor ternak hidup terbesar bagi Australia. Arus pelancong yang hilir mudik antara kedua negara juga tidak kunjung mereda.