Guguran Lava Pijar Merapi Jadi Objek Wisata Malam di Sleman

Seringnya Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar ternyata menjadi berkah bagi penyedia jasa wisata Jip Lava Tour Merapi. Tidak hanya beroperasi siang hari, pada malam hari dibuka wisata minat khusus menikmati langsung guguran lava pijar.
Ketua Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM) Wilayah Barat, Dardiri, mengatakan prinsipnya 700 lebih jip yang berada di bawah asosiasinya tetap taat pada imbauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) yaitu raidus 3 km dari puncak Gunung Merapi harus steril.
“Kita sudah koordinasi dengan dinas terkait dan BPPTKG artinya saat ini letak bahaya di mana, apa yang harus saya hindari karena kita menawarkan wisata lava tour,” kata Dardiri di lokasi, Rabu (20/2).
“Ini (wisata) tidak jadi masalah, justru menjadi daya tarik sendiri untuk lava pijar. Pas ada guguran lava pijar kita agak menjauh dari Kali Gendol,” kata dia.
Wisata minat khusus ini diakui sudah mulai dilirik wisatawan. Tapi, memang tidak banyak seperti lava tour di siang hari. Dalam sehari terkadang hanya dua jip yang beroperasi dengan jumlah wisatawan tujuh orang.
“Peminatnya juga belum banyak sekali. Lava pijar kan di malam hari kalau siang kan enggak mungkin (terlihat) ya. Malam hari ada cuma tidak signifikan ramai sekali, tidak. Karena ini untung-untungan karena alam kalau pas nasibnya apik kita bisa melihat (lava pijar) kalau enggak ada (lava pihar) ya kita tidak bisa melihat,” ujarnya.
Tarif satu paket wisata minat khusus ini dipatok Rp 700 ribu. Wisatawan akan terlebih dahulu diajak keliling lereng Merapi menggunakan jip. Sensasi keliling malam hari ini juga diakui memberikan pengalaman sendiri.
Setelah puas berkeliling nantinya wisatawan akan menuju Kopi Merapi untuk menikmati kopi beserta aneka kudapan sedap lainnya. Di titik itulah wisatawan menunggu lava pijar muncul sembari mendengar penjelasan pemandu tentang sejarah dan karakter Gunung Merapi.
“Rp 700 ribu itu sudah sama minum, snack, dan di Kopi Merapi. Keliling malam hari, spot terakhir di Kopi Merapi itu. Karena kalau ke bungke Kali Adem kan enggak mungkin (terlalu dekat). Di situ memang spesial menunggu datangnya lava pijar. Aman jarak terjangkau. Keselamatan juga jauh dari Kali Gendol (dikhawatirkan banjir bila puncak hujan),” kata dia.
“Kesannya juga mereka (wisatawan) pada senang bisa menikmati sejuknya lereng Merapi, menikmati alam, menikmati telo (singkong) goreng,” ujar dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Sudarningsih mengatakan dari pengamatannya, kondisi Merapi aman untuk dikunjungi dengan sejumlah ketentuan. Seperti radius 3 km dari puncak Merapi harus steril dan menyediakan masker perlindung pernapasan.
“Yang juga penting adalah tetap waspada memperhatikan kondisi merapi dan mematuhi instruksi petugas pos. Dan kami menganjurkan wisatawan melihat merapi di 12 pos titik pantau untuk lebih memberikan keamanan terhadap wisatawan,” kata Ning saat dihubungi kumparan, (20/2).
Ke-12 titik lokasi pos yang bisa digunakan masyarakat antara lain dua pos di Kecamatan Turi ada di Dusun Tunggularum dan Ngandong Desa Wonokerto.
Kemudian tujuh titik di Kecamatan Pakem masing-masing Dusun Turgo, Tritis, dan Kemiri di Desa Purwobinangun. Kemudian di Desa Hargobinangun ada di Dusun Boyong, Kaliurang, Kaliurang Timur dan Selatan.
“Di Kecamatan Cangkringan ada tiga lokasi. Masing-masing di Desa Kepuharjo dan Dusun Kalitengah Desa Glagaharjo dan Pangun Desa Umbulharjo.
"Pada pos pantau tersebut terdapat petugas jaga yang memantau perkembangan Merapi,” ujar dia.
Sementara itu, dari data BPPTKG laporan aktivitas Gunung Merapi periode (20/2) pukul 00.00 hingga 12.00 WIB tercatat 6 guguran. Guguran lava pijar samar teramati ke arah tenggara hulu Kali Gendol dengan jarak luncur 650 meter.
