Gunung Limbah Kerang Hijau Setinggi 5 Meter di Pesisir Cilincing

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga beraktivitas di tumpukan limbah kulit kerang hijau yang menggunung melebihi tanggul laut setinggi 5 meter di kawasan pesisir Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (28/5). Foto: Thomas Bosco/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Warga beraktivitas di tumpukan limbah kulit kerang hijau yang menggunung melebihi tanggul laut setinggi 5 meter di kawasan pesisir Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (28/5). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Tumpukan kulit kerang setinggi 5 meter telihat menggunung di balik tanggul laut pesisir Cilincing, Jakarta Utara. Saat dilihat dari balik tanggul, tumpukan limbah kerang itu seolah mengisi ruang kosong dan membentuk dataran baru.

Warga sekitar bahkan menjadikan tumpukan kerang itu sebagai nama jalan di ujung Jakarta tersebut. Warga setempat menyebutnya Jalan Kerang Hijau, jalan tak beraspal yang membentang di sepanjang pesisir bertanggul, berdekatan dengan Jalan Kalibaru, Cilincing.

Sementara titik limbah kerang itu berada di sekitar RT 11 dan RT 10/rw 01.

Tumpukan kerang itu membantu pijakan bagi para nelayan yang baru datang usai melaut. Nelayan turun dari kapal-kapal kayunya, merapatkan kapal di dermaga sederhana dari bambu, lalu melompat turun, diiring bunyi cangkang kerang yang pecah terinjak.

Warga beraktivitas di tumpukan limbah kulit kerang hijau yang menggunung melebihi tanggul laut setinggi 5 meter di kawasan pesisir Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (28/5). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Jelang sore, tumpukan kerang itu berubah jadi arena favorit anak-anak sekitar untuk bermain layangan. Ketinggiannya terus bertambah—kerang hijau yang ditangkap pagi hari telah menjadi limbah di sore harinya.

Saban hari, tumpukan kerang itu kian tinggi. Sebab, nelayan selalu membuang kulit kerang di atas tumpukan limbah itu.

Dari Laut ke Darat, dari Dapur ke Tumpukan

Gunungan limbah kerang itu bukan tanpa sebab. Setiap hari, ribuan karung hasil panenan kerang hijau diangkut dari tambak-tambak nelayan yang berada sekitar 30 menit perjalanan laut dari titik tanggul. Tambak-tambak itu terletak di perairan dengan kedalaman sekitar sepuluh meter.

Setibanya di darat, kerang langsung diproses—ada yang dikupas, ada pula yang direbus—di tempat pengolahan yang berdiri tepat di sisi daratan balik tanggul. Dagingnya dijual ke pasar ikan Muara Baru. Sementara kulitnya—keras, tajam, dan tak bernilai jual—langsung dibuang begitu saja.

Warga beraktivitas di tumpukan limbah kulit kerang hijau yang menggunung melebihi tanggul laut setinggi 5 meter di kawasan pesisir Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (28/5). Foto: Thomas Bosco/kumparan

"Biasanya kalau sudah musim awal tahun, ombak bawa balik [kulit kerang] ke laut," jawab seorang nelayan di lokasi bernama Sumadi (57), soal alasan warga buang kulit kerang ke sana.

Menurut warga, hanya dibutuhkan waktu singkat hingga gunungan itu terbentuk kembali setelah dibersihkan alami oleh ombak.

“Tiga bulan cukup,” ujar Ayu (36), pemilik warung di balik tanggul.

Solusi yang Tak Bertahan

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah berupaya mengatasi tumpukan limbah ini. Pada 2015, mereka pernah membangun sebuah bak penampungan limbah kulit kerang dengan tinggi 3 meter dan luas 20 meter persegi di sana.

Kulit kerang yang dibuang di bak penampungan itu bakal dikosongkan 2 hari sekali. Tapi, solusi itu tak cukup menampung kulit kerang yang dibuang per harinya.

Sebab, warga bisa membuang 2 ribu karung kulit kerang setiap hari.

"Akhirnya ya numpuk, numpuk, numpuk. Nyerah. Baknya hilang, sekarang jadi sudah dibangun rumah orang," ungkap Hajat (60), nelayan kerang setempat.

Kini, gunung kulit kerang hijau itu tetap bertahan, bahkan makin tinggi. Ia jadi pertanda antara laut yang memberi makan dan pemerintah yang kewalahan mengelola limpahan kekayaan.