Gunung Semeru Erupsi, Tak Ada Bandara yang Ditutup
·waktu baca 3 menit

Gunung Semeru erupsi pada Rabu (19/11) menyemburkan awan panas dan guguran awan. Beruntung, tidak ada aktivitas bandara yang terdampak erupsi Gunung Semeru.
EVP of Corporate Secretary AirNav Indonesia, Hermana Soegijantoro mengatakan, ruang udara penerbangan masih berjalan normal meski ada erupsi Gunung Semeru. Sehingga semua bandara masih beroperasi normal.
"Bandara-bandara di sekitarnya, seperti Malang, Banyuwangi, Surabaya, dan Yogyakarta, semuanya masih beroperasi normal. Tidak ada bandara yang ditutup dan sejauh ini tidak ada penerbangan yang dibatalkan,” jelas Hermana dalam keterangannya, Kamis (20/11).
Hermana mengatakan, AirNav akan terus memantau rute penerbangan yang berpotensi terdampak. Informasi ini secara berkala akan diperbaharui melalui penerbitan ASHTAM.
“Update terakhir adalah ASHTAM nomor VAWR6038 yang kami rilis melalui International NOTAM Office AirNav Indonesia pada 20 November 2025, pukul 02:00 UTC (09.00 WIB),” imbuh Hermana.
Dalam laporan itu disebutkan, status Gunung Semeru ditetapkan dengan status ”Red Code”, yang berarti aktivitas letusan cukup signifikan dan berpotensi mengganggu jalur penerbangan.
Abu vulkanik terpantau berada pada dua ketinggian berbeda. Pada level rendah, sebaran abu berada pada permukaan hingga sekitar FL150 (±4.500 meter), bergerak ke tenggara dengan kecepatan angin sekitar 5 knot.
Kemudian sebaran abu pada level tinggi, berada pada permukaan hingga sekitar FL450 (±13.500 meter), bergerak ke barat daya dengan kecepatan sekitar 15 knot.
ASHTAM yang berisi informasi teknis tersebut menjadi acuan penting bagi seluruh pemangku kepentingan penerbangan dalam pengambilan keputusan terkait mitigasi, penyesuaian rute penerbangan, serta pengaturan lalu lintas udara. Dokumen ini diterbitkan sebagai peringatan keselamatan penerbangan karena Semeru terpantau masih mengeluarkan abu vulkanik.
Informasi ini dikumpulkan NOTAM Office AirNav Indonesia dari pelbagai sumber. Antara lain citra satelit Himawari-8, kamera pemantau (webcam), serta data dari Pusat Vulkanologi (PVMBG).
Pada pengamatan terakhir sebelum ASHTAM dirilis, abu pada ketinggian tinggi sudah sulit terlihat karena tertutup awan cuaca, namun model pergerakan menunjukkan abu tersebut akan melemah dalam beberapa jam ke depan. Sementara itu, abu pada ketinggian rendah masih terpantau jelas dan terus bergerak ke arah tenggara.
“Namun trennya saat ini, sebaran abu vulkanik semakin bergerak menjauh dari bandara-bandara sekitar dan rute penerbangan yang berpotensi terdampak," tutur dia.
"Hari ini, kami juga menghimpun data dari hasil paper test yang dilakukan PT Angkasa Pura Indonesia maupun Kantor Otoritas bandara (Otban) pada bandara-bandara terdekat, seperti Bandara Abdurrahman Saleh (Malang), Bandara YIA dan Adi Sucipto (Yogjakarta) dan Bandara Adi Sumarmo (Solo). Alhamdulillah, semua hasilnya negatif,” ungkap Hermana.
AirNav Indonesia secara berkala terus memperbarui informasi ini secara real-time kepada pilot dan maskapai untuk memastikan keselamatan penerbangan tetap terjaga. Pemutakhiran jalur penerbangan dilakukan apabila diperlukan, sesuai perkembangan terbaru dari pusat informasi vulkanik dan satelit cuaca.
