Guru Besar UGM: Pelatihan Dokter Umum Jadi Obgyn Paling Tidak 6 Bulan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Guru Besar FKKMK UGM, Prof dr Laksono Trisnantoro, Kamis (15/5/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Guru Besar FKKMK UGM, Prof dr Laksono Trisnantoro, Kamis (15/5/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof dr Laksono Trisnantoro, turut angkat bicara soal rencana Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melatih dokter umum menjadi obgyn di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) atau DTPK (Daerah Terpencil Perbatasan Kepulauan).

Dia meminta masyarakat tak berpikir sempit soal rencana itu. Dokter umum itu nantinya akan mendapatkan pelatihan dengan kurun waktu 6 bulan atau bahkan lebih.

"Itu harus diusulkan pemda setempat, ya. Dilatih mungkin 6 bulan atau 1 tahun. Ya sesuai dengan kompetensi yang tadi sectio caesarea (SC)," kata Laksono ditemui usai diskusi "Pemberian Kompetensi Tertentu (Taskshifting) dari Dokter Spesialis ke Dokter Umum" di FKKMK UGM, Kamis (15/5).

"Kalau bisa 6 bulan, kenapa enggak bisa 6 bulan, dipercepat," tegasnya.

Materi pelatihan itu nanti sesuai dengan Konsil Kesehatan Indonesia dan Kolegium Kesehatan Indonesia.

Dia juga mengatakan program ini tidak untuk semua tempat di Indonesia. Tetapi hanya daerah yang membutuhkan sesuai usulan pemerintah daerah setempat.

"Makanya ini, kita tuh perlu meluruskan betul. Ini kebutuhan dari terpencil itu ada. Dari NTT kan udah bilang, mereka setuju dengan saya," jelasnya.

Pelatihan ini juga untuk memastikan para dokter umum yang ditugaskan dan dilatih obgyn ini memiliki perlindungan hukum.

"Supaya dokter umumnya punya perlindungan hukum juga," terangnya.

Melalui pelatihan ini pula, para dokter umum juga akan mendapatkan penghasilan tambahan saat menangani caesar melalui klaim BPJS..

"Misal gini, dokter umum sebulan dapat Rp 10 juta, misalnya. Mereka dapat tambahan seperti itu, kompetensi tambahan. Dia dapat Rp 15 juta. Lumayan. Dapat Rp 5 juta atau dapat Rp 7 juta, lumayan," terangnya.