Guru Besar UGM Ungkap Dampak Positif Anak Main Lato-lato, Apa Itu?

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Permainan tradisional lato-lato. Foto: tangguhpro/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Permainan tradisional lato-lato. Foto: tangguhpro/Shutterstock

Guru Besar UGM memberikan tanggapan terhadap fenomena lato-lato yang sedang marak dimainkan oleh anak-anak di Indonesia. Ternyata ada dampak positif dari permainan yang juga pernah ngetren puluhan tahun lalu itu.

Guru Besar Psikologi UGM, Prof Koentjoro PhD, mengatakan sisi positif dari permainan lato-lato adalah mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget.

"Segi positifnya ketergantungan anak pada handphone (HP) jadi berkurang. Dulunya waktu untuk main HP sekarang ke lato-lato," kata Koentjoro dalam keterangan tertulisnya, Selasa (10/1).

Dosen Psikologi UGM Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D (dok UGM) Foto: Dok. UGM

Selain itu, bermain lato-lato mampu melatih konsentrasi, ketangkasan fisik, sosialisasi hingga kepercayaan diri anak. Harga lato-lato relatif murah.

"Belajar konsentrasi secara murah," ucap Koentjoro.

Meski permainan jadul itu kembali booming, namun tidak lepas dari keluhan seperti suaranya yang mengganggu. Selain itu, ada laporan anak yang terluka akibat lato-lato.

Menyikapi itu, Koentjoro menjelaskan perlu kehadiran orang tua untuk mengedukasi anak-anak soal cara dan aturan bermain lato-lato agar bahaya dari permainan tersebut bisa dihindari.

Termasuk mengatur jam kapan bermain lato-lato agar tak mengganggu lingkungan.

"Peran orang tua harus ada, bermain dengan aman harus diajarkan kepada anak. Aturan kapan main juga dijelaskan seperti saat memakai HP, agar tidak mengganggu lingkungan," bebernya.

Kurang Setuju Larangan Lato-lato di Sekolah

Koentjoro mengaku kurang setuju apabila ada pelarangan bermain lato-lato di sekolah.

Sekolah di Aceh dan Bandung sudah melarang anak-anak membawa dan memainkan lato-lato di lingkungan sekolah.

Sekolah seharusnya menjadi fasilitator pada anak. Selain itu, sekolah diharapkan memberikan pengertian soal aturan dan cara bermain lato-lato yang aman dan tidak mengganggu lingkungan.

"Bukan hanya sekadar melarang karena berbahaya atau membiarkan saja. Namun, anak-anak diingatkan bahaya lato-lato bagi diri sendiri dan orang lain serta kapan bisa bermain biar peka terhadap lingkungan," kata Koentjoro.

Permainan tradisional lato-lato. Foto: tangguhpro/Shutterstock