Gus Ipul Minta Wali Asuh-Asrama Jadi Ortu & Teladan Siswa Sekolah Rakyat

Suara yel-yel siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 4 Padang menyambut kedatangan Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Padang, Sumatera Barat, Rabu (7/10/2026).
Mengenakan seragam PDL hijau army, para siswa berdiri berbaris menyambut dengan nyanyian dan yel-yel Sekolah Rakyat. Penyambutan dilanjutkan dengan tari pasambahan dan iringan marching band hingga Gus Ipul memasuki aula.
Di dalam aula, sebanyak 179 wali asuh dan wali asrama se-Sumatera tengah mengikuti Pelatihan Pengasuhan dan Pengelolaan Asrama Sekolah Rakyat. Mereka terdiri atas 158 wali asuh dan 21 wali asrama yang didampingi 10 fasilitator.
Kegiatan serupa dilaksanakan di balai-balai besar Kemensos di berbagai wilayah Indonesia. Sejumlah peserta dari balai lain, termasuk Yogyakarta, Banjarmasin, dan Jayapura, juga mengikuti arahan Gus Ipul dari Zoom Meeting.
Di hadapan para peserta pelatihan, Gus Ipul menekankan bahwa keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya ditentukan oleh proses belajar di ruang kelas. Sebagai sekolah berasrama, kehidupan siswa setelah jam sekolah menjadi bagian penting dari pembentukan karakter mereka.
“Keberhasilan penyelenggaraan Sekolah Rakyat salah satunya ditentukan oleh seberapa jauh wali asrama bekerja, melakukan pendampingan, bimbingan, pengasuhan kepada siswa-siswa Sekolah Rakyat,” kata Gus Ipul.
“Saudara-saudaralah yang bertemu setiap hari siswa-siswa Sekolah Rakyat. Saudara-saudaralah yang tiap hari mengetahui perkembangan siswa Sekolah Rakyat,” lanjutnya.
Karena itu, Gus Ipul meminta wali asuh dan wali asrama bekerja dengan empati. Anak-anak yang mereka dampingi datang dengan latar belakang yang beragam. Sebagian sebelumnya putus sekolah, terancam putus sekolah, bahkan menghadapi persoalan kesehatan, psikososial, maupun persoalan di lingkungan keluarga.
Menurut Gus Ipul, wali asuh dan wali asrama tidak cukup hanya menjalankan rutinitas asrama. Mereka harus menjadi pembimbing, teladan, sekaligus orang tua bagi anak-anak selama berada di Sekolah Rakyat.
“Jadilah kompas moral, jadilah teladan, jadi pembimbing, jadi orang tua dari siswa-siswa Sekolah Rakyat yang sebagian punya masalah besar, sebagian lagi perlu bimbingan,” kata Gus Ipul.
Ia pun meminta para peserta pulang dari pelatihan dengan membawa tanggung jawab tersebut ke tempat tugas masing-masing.
“Saya berharap pulang dari sini bekerja secara sungguh-sungguh, totalitas, dengan empati, dengan hati, penuh tanggung jawab. Disiplin, saling mengingatkan, saling mengawasi,” katanya.
Di tengah arahannya, Gus Ipul kemudian mengajak dua siswa SRMP 4 Padang naik ke panggung. Ia mengajak keduanya berbincang tentang keluarga, pengalaman sebelum masuk Sekolah Rakyat, kehidupan di asrama hingga cita-cita mereka.
Siswa pertama, Muhammad Habib Munthe, berasal dari Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Ayahnya bekerja sebagai buruh harian lepas dan ibunya merupakan ibu rumah tangga. Bersama keluarganya, Habib masih menumpang di rumah milik teman orang tuanya.
Setahun berada di Sekolah Rakyat membuat Habib merasa lebih percaya diri. Di atas panggung, ia menjawab pertanyaan Gus Ipul dengan lancar dan mengatakan ingin menjadi diplomat.
“Kalau sebelumnya masuk di Sekolah Rakyat sih, Bapak, cuma dengan bimbingan guru-guru serta tenaga kependidikan yang di SRMP 4 Padang, saya lebih percaya diri untuk tampil ke depannya,” kata Habib.
Ketika ditanya hal yang paling berkesan selama bersekolah, Habib justru menyebut dukungan yang diterimanya dari guru dan tenaga kependidikan.
“Yang berkesan bagi saya adalah support dari guru-guru banget ini. Karena kan kami awalnya berasal dari keluarga yang kurang mampu, kurangnya perhatian, itu yang membuat saya lebih percaya diri,” katanya.
Siswa berikutnya, Erziza Febriani Chaniago, berasal dari Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang. Ayahnya juga bekerja sebagai buruh harian lepas, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga.
Erziza mengaku sempat ragu apakah dirinya bisa melanjutkan sekolah. Kini, selain belajar, ia aktif menari dan mengikuti cabang olahraga atletik. Berat badannya juga bertambah dari 45 menjadi 49 kilogram sejak mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.
“Awalnya itu saya merasa tidak percaya diri dan saya tidak merasa akan bisa lanjut sekolah. Jadi, saya ragu atas apakah saya bisa lanjut sekolah, apakah saya bisa menjadi orang ke depannya,” kata Erziza.
“Dan atas program Bapak Presiden Prabowo ini, saya sangat senang atas Sekolah Rakyat karena saya bisa berprestasi, berkreasi di sini,” lanjutnya.
Percakapan dengan kedua siswa itu kemudian dibawa Gus Ipul kembali kepada para peserta pelatihan. Ia menunjukkan bahwa perubahan pada anak tidak terjadi hanya karena fasilitas sekolah, tetapi juga melalui pendampingan orang-orang yang setiap hari berada bersama mereka.
Gus Ipul menegaskan tiga hal yang tidak boleh terjadi di lingkungan Sekolah Rakyat, yakni perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi.
“Jangan lakukan tiga hal. Ini dosa besar di dunia pendidikan. Jangan lakukan perundungan, bullying. Jangan lakukan kekerasan fisik maupun seksual. Dan yang ketiga, jangan lakukan intoleransi,” kata Gus Ipul.
Ia meminta seluruh unsur Sekolah Rakyat saling mengawasi dan menggunakan mekanisme pelaporan apabila menemukan indikasi pelanggaran. Identitas pelapor, kata Gus Ipul, akan dilindungi.
“Saya tidak ingin menandatangani untuk memberhentikan para tenaga kependidikan Sekolah Rakyat. Tapi justru sebaliknya, saya ingin menandatangani prestasi-prestasi yang ditorehkan oleh seluruh pemangku kepentingan Sekolah Rakyat,” katanya.
Arahan sore itu berlangsung dua arah. Gus Ipul membuka kesempatan kepada para peserta untuk menyampaikan pengalaman maupun persoalan yang mereka temui selama mendampingi siswa.
Ayub Saputra, wali asuh SRT 3 Provinsi Bengkulu yang telah sekitar enam bulan bertugas, maju menyampaikan pengalamannya. Ketika ditanya Gus Ipul apakah betah menjadi wali asuh, Ayub menjawab mantap, “Betah.”
Ia bercerita melihat perubahan karakter anak berlangsung sedikit demi sedikit, mulai dari kebiasaan bangun pagi hingga kedisiplinan sehari-hari. Pelatihan juga memberinya kesempatan bertukar pengalaman dengan wali asuh dan wali asrama dari daerah lain serta mempelajari cara berkomunikasi dan memberikan pelayanan kepada anak.
Ayub kemudian menyampaikan banyak siswa yang didampinginya bercita-cita menjadi anggota TNI maupun Polri. Ia menanyakan kemungkinan dukungan lebih lanjut agar anak-anak dapat mempersiapkan diri mengejar cita-cita tersebut.
Gus Ipul mengatakan TNI dan Polri selama ini telah membantu penguatan kedisiplinan siswa. Anak-anak yang memiliki cita-cita tersebut, menurutnya, harus dibimbing agar kemampuan fisik, kedisiplinan, dan akademiknya memenuhi persyaratan.
“Anak-anak yang ingin jadi TNI Polri kita dukung. Kita kuatkan kedisiplinannya, fisiknya kita kuatin, akademiknya juga dikuatin supaya mereka memenuhi syarat. Bukan masuk karena diafirmasi,” kata Gus Ipul.
Namun, ia mengingatkan wali asuh dan wali asrama untuk tetap memahami minat dan bakat setiap anak. Pendampingan tidak boleh memaksakan satu pilihan masa depan kepada siswa.
Dalam kesempatan itu, Gus Ipul juga menjelaskan Sekolah Rakyat saat ini telah menjangkau sekitar 44 ribu siswa di 182 titik di seluruh Indonesia. Sebagai sekolah berasrama, proses pembelajaran tidak berhenti ketika kegiatan akademik selesai.
“Sekolah ini adalah sekolah berasrama, boarding school. Jadi ada sekolahnya, ada pendidikan karakternya. Pada saat sekolah dibimbing oleh guru, pada saat di asrama dia dibimbing oleh wali asuh dan wali asrama untuk pendidikan karakternya,” kata Gus Ipul saat ditemui usai kegiatan.
Menurutnya, karakteristik siswa Sekolah Rakyat memang beragam karena penerimaan tidak menggunakan tes akademik. Anak dijangkau berdasarkan kondisi sosial ekonomi keluarga, kemudian dilakukan ground check serta verifikasi dan validasi.
Perbedaan latar belakang tersebut membuat peran guru, wali asuh dan wali asrama semakin penting untuk membantu anak menyesuaikan diri dan mengikuti pembelajaran.
“Secara umum kita lihat anaknya di sini, siswa Sekolah Rakyat yang sudah lebih dari satu tahun memperoleh pembelajaran sudah nampak lebih bugar, pertumbuhan fisiknya bagus, pertumbuhan mentalnya bagus, lebih percaya diri, optimis menghadapi masa depan,” kata Gus Ipul.
Usai memberi arahan Gus Ipul meninjau pameran karya siswa Sekolah Rakyat yang tertata di lokasi acara. Beragam karya dipamerkan, mulai dari lukisan, crochet hingga gantungan kunci buatan para siswa.
Suasana sore semakin semarak ketika siswa SRMP 4 Padang kembali menunjukkan kebolehan mereka. Marching band membawakan lagu “Maju Tak Gentar”, disusul penampilan tari piring dan taekwondo. Gus Ipul menyaksikan satu per satu penampilan tersebut sebelum meninggalkan lokasi.
Turut hadir Senior Eksekutif Universitas Negeri Padang Ganefri, Staf Ahli Gubernur Bidang Pembangunan, Kemasyarakatan, dan SDM Pemerintah Provinsi Sumatera Barat Nizam Ul Muluk, Kepala BBPPKS Padang Wildan Humaedi, Kepala SRMP 4 Padang Azizah Batubara, serta jajaran Staf Khusus Menteri dan Tenaga Ahli Menteri Sosial.
