Gus Ipul: Rais Aam Minta Muktamar NU 17 Desember, PBNU Sedang Tak Baik-baik Saja

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peresmian Rumah Gus Ipul Puti. Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono
zoom-in-whitePerbesar
Peresmian Rumah Gus Ipul Puti. Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Ketua PBNU Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul mengungkapkan Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, telah menerbitkan surat perintah agar segera mengambil langkah terukur untuk menyelenggarakan Muktamar pada 17 Desember 2021.

"Surat perintah ini ada latar belakangnya. Tidak ujug-ujug. Itulah kenapa saya bilang "bahwa PBNU itu sedang tidak baik-baik saja," kata Gus Ipul dalam keterangannya, Jumat (26/11).

Gus Ipul menjelaskan surat perintah ini menjadi dasar dan pijakan bagi PBNU lewat panitia pengarah dan panitia pelaksana untuk mempercepat pelaksanaan Muktamar dari tanggal yang ditetapkan sebelumnya.

Sebagaimana diketahui, Kombes dan Munas telah menyepakati Muktamar ke-34 NU akan diselenggarakan tanggap 23-25 Desember 2021 di Lampung.

Dia bercerita sebelum surat perintah itu dibuat, telah ada jadwal rapat untuk menyikapi status PPKM level 3 pada periode 24 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022 secara nasional.

Dia menjelaskan, peserta rapat adalah Rais Aam, Katib Aam, Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal. Rapat disepakati dilakukan hari Rabu tanggal 24 November 2021. Karena rapat deadlock, kata Gus Ipul, maka Sekjen meminta agar rapat ditunda dan dapat dilanjutkan pada hari Kamis tanggal 25 Desember 2021.

"Jadi, Rabu sudah rapat. Rupanya tidak ditemukan kata sepakat untuk memajukan muktamar. Alasanya soal kesiapan panitia. Untuk mendapat laporan soal kesiapan, lalu rapat mencoba menghubungi Panitia. Ternyata Pak Nuh selaku Ketua Panitia Pengarah sedang di lapangan, di Lampung. Sementara Ketua Panitia Pelaksana, Pak Imam Aziz, hari Rabu itu tidak bisa dihubungi," kata Gus Ipul.

"Lalu Saudara Sekjen minta rapat ditunda. Keempatnya sepakat bertemu lagi hari Kamis kemarin itu, dan mengundang Panitia Muktamar," jelasnya.

Setelah itu, Gus Ipul menjelaskan Rais Aam dan Katib Aam datang kembali untuk melanjutkan rapat yang tertunda. Hingga sore hari, ujar Gus Ipul, Ketua Panitia, Ketua Umum dan Sekjen tidak muncul.

Karena tidak ada kejelasan soal kehadiran Ketua Umum, Sekjen dan Ketua Panitia itulah, lanjut Gus Ipul, maka Rais Aam memutuskan untuk menerbitkan Surat Perintah tersebut.

"Rapat Kamis itu, harusnya dimulai ba'da dzuhur. Tapi, jangankan Ketua Panitia, bahkan Ketua Umum dan Sekjen saja tidak muncul. Ini yang saya katakan bahwa PBNU itu tidak sedang baik-baik saja," jelas Gus Ipul.

Ia menambahkan ketidakhadiran ketum panitia,ketum.hingga sekjen dalam rapat sebagai bukti bahwa tak ada komitmen untuk mengadakan rapat. Karena itu, ia berharap surat perintah Rais Aam dapat dijalankan.

"Ketidakhadiran Ketua Panitia, Ketua Umum dan Sekjen di hari kedua rapat, menjadi petunjuk bahwa di sini terlihat tak ada komitmen menjakankan hasil rapat. Semua pihak harus mematuhi keputusan Rais Aam, sebagai pemegang komando tertinggi PBNU," tandas Gus Ipul.