Gus Ipul Soal Konflik PBNU: Sabar, Serahkan ke Rais Aam
·waktu baca 3 menit

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, meminta publik tetap tenang terkait polemik pemakzulan KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dari posisi Ketum PBNU. Gus Ipul mengingatkan agar semua patuh kepada pemilik otoritas, yakni Rais Aam PBNU.
"Yang penting bahwa kita serahkan kepada mereka yang memiliki otoritas sesuai dengan AD/ART. Yang memiliki otoritas itu adalah jajaran syuriyah PBNU yang dipimpin oleh Rais Aam dan dua wakil Rais Aam,” ujar Gus Ipul di Pusdiklatbangprof Margaguna, Gandaria, Jakarta Selatan, Senin (24/11).
Gus Ipul meminta semua warga NU untuk bersabar sampai ada penjelasan lengkap dari jajaran Syuriah NU yang memiliki otoritas atas permasalahan ini. Nantinya, para ulama akan duduk bersama dan menentukan arah ke depan di tengah konflik ini.
"Tentu kita harapkan semua ikut bersabar, tidak terjebak dalam spekulasi-spekulasi, tunggu pengumuman resmi. Karena namanya Nahdlatul Ulama maka yang memimpin adalah para ulama," tutur dia.
"Para ulama akan mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan nilai-nilai agama dan sesuai dengan seluruh ketentuan yang ada. Nah untuk itu saya berharap yang semuanya bersabar dan tidak beropini," ucap dia.
Menteri Sosial itu tak mau berkomentar lebih jauh lagi terkait konflik ini. Akan lebih baik menunggu penjelasan lengkap yang akan disampaikan para ulama yang dipimpin Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.
"Semuanya kita mengikuti, saya juga tidak bisa komentar terlalu banyak. Yang penting inti masalahnya bisa dikemukakan nanti dengan baik, dijawab dengan baik. Nah dengan begitu publik tidak akan terbawa oleh informasi-informasi yang mungkin tidak sesuai dengan dasar-dasar bagi pengambilan keputusan di tingkat jajaran syuriah itu. Itu aja dulu ya," ucap dia.
Sebelumnya, beredar surat yang menyebut Gus Yahya diminta mundur dari posisi Ketum PBNU. Surat itu ditandatangani Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, pada 20 November 2025, berdasarkan musyawarah antara Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam.
Gus Yahya didesak mundur dari jabatan Ketum PBNU karena mengundang akademisi pro-Zionis {Peter Berkowitz] pada kegiatan Akademi Kepemimpinan NU (AKN) pada Agustus lalu serta adanya masalah tata keuangan di organisasi.
Dalam surat tersebut diputuskan:
• KH Yahya Cholil Staquf harus mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam waktu 3 (tiga) hari terhitung sejak diterimanya keputusan Rapat Harian Syuriyah PBNU.
• Jika dalam waktu 3 (tiga) hari tidak mengundurkan diri, Rapat Harian Syuriyah PBNU memutuskan memberhentikan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Gus Yahya juga sudah memberikan pernyataan terkait surat ini. Gus Yahya lalu menggelar rapat bersama para ulama NU di Kantor PBNU pada Minggu (23/11) malam. Hasilnya, tidak ada pemakzulan atau pengunduran diri.
"Sepakat kepengurusan PBNU harus selesai sampai satu periode yang muktamarnya kurang lebih satu tahun lagi. Semuanya, tidak ada pemakzulan, tidak ada pengunduran diri, semua sepakat begitu. Semua gembleng 100 persen ini," kata Katib Aam Ahmad Said Asrori usai rapat bersama dengan Gus Yahya.
Dalam kesempatan yang sama, Gus Yahya menjelaskan rapat malam ini dihadiri oleh sekitar 50 orang kiai dari berbagai daerah.
"Dalam kesempatan pertemuan malam ini yang dihadiri kira-kira sekitar 50 orang kiai dari berbagai daerah dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan ini ada Syekh Ali Akbar Marbun dari Medan, Sumatera Utara," ucapnya.
"Tadi juga ada sejumlah kiai yang mengikuti secara Zoom karena terlalu sepuh atau terlalu jauh sehingga mengalami kesulitan untuk bisa sampai di sini dan ada kira-kira sekitar 50-60 kiai yang ikut serta dalam pertemuan kali ini," sambungnya, tanpa mendetailkan siapa saja yang ikut dalam rapat tersebut.
