Gus Yahya Respons Tabayyun Rais Aam: Tolak Keputusan, Ajak Islah

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketum PBNU, Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dalam konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (3/12/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketum PBNU, Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dalam konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (3/12/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya memberikan tanggapan resmi atas pernyataan tabayyun Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar yang sebelumnya disampaikan ke publik.

Dalam pernyataannya, Gus Yahya menolak keputusan Rapat Harian Syuriyah pada 20 November 2025 beserta seluruh turunannya, namun tetap mengajak semua pihak untuk menempuh jalan islah.

Pernyataan itu dibacakan Gus Yahya dalam konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (24/12), dalam bentuk surat resmi PBNU bernomor 4937/PB.23/A.II.07.08/99/12/2025.

“Keputusan Rapat Harian Syuriyah di Hotel Aston pada 20 November 2025 dan seluruh keputusan turunannya, hingga klaim penetapan Pejabat Ketua Umum, adalah tindakan yang tidak memiliki dasar, bahkan bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), dan dengan sendirinya batal demi hukum,” ujar Gus Yahya membacakan pernyataannya.

Gus Yahya menegaskan, penolakan tersebut bukan didasari kepentingan pribadi, melainkan sebagai tanggung jawab menjaga konstitusi organisasi.

“Oleh karena itu, sebagai mandataris utama yang bertanggung jawab untuk menjaga konstitusi jama’iyyah, saya menolak keputusan tersebut dan seluruh produk lanjutannya, bukan karena kepentingan pribadi, melainkan demi menjaga marwah dan tatanan organisasi yang kita warisi dari para muassis,” katanya.

Meski menolak keputusan tersebut, Gus Yahya menegaskan tidak ingin konflik internal NU berlarut-larut. Ia mengajak semua pihak membuka ruang rekonsiliasi dan persaudaraan.

Ilustrasi Nahdlatul Ulama (NU). Foto: Supri/REUTERS

“Saya tidak ingin perpecahan ini berlarut-larut dan merusak rumah besar kita, Nahdlatul Ulama. Energi kita terlalu berharga untuk dihabiskan dalam perselisihan,” ucapnya.

Ia pun mengajak seluruh pihak untuk menyiapkan Muktamar yang sah dan konstitusional sebagai jalan keluar bersama.

“Mari kita bersama-sama dalam semangat musyawarah menyiapkan Muktamar yang legitimate dan sesuai dengan AD/ART Nahdlatul Ulama sebagai jalan keluar yang terhormat dan konstitusional,” lanjutnya.

Dalam penjelasan tambahan, Gus Yahya menekankan bahwa islah yang ia maksud sejak awal adalah islah yang dibangun di atas kebenaran.

“Islah yang saya maksudkan adalah islah bina’an ‘alal haq. Islah yang dibangun di atas kebenaran. Bukan islah bina’an ‘alal bathil,” tegasnya.

Menurut Gus Yahya, kesalahan pribadi dan ketegangan emosional masih bisa diselesaikan dengan saling memaafkan, namun tatanan organisasi harus dikembalikan pada prinsip yang benar.

“Mari kita kembali kepada persaudaraan di antara kita semua. Untuk selanjutnya bersama-sama kita menyiapkan muktamar bersama-sama,” katanya.

Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa Muktamar adalah satu-satunya jalan bermartabat dan konstitusional untuk mengakhiri polemik.

“Ini adalah jalan yang terbaik dan juga jalan satu-satunya, jalan satu-satunya yang sungguh bermartabat dan konstitusional,” pungkas Gus Yahya.