Gusti Purbaya Mengukuhkan Diri Jadi Raja Solo PB XIV di Hadapan Jenazah PB XIII
·waktu baca 3 menit

Kanjeng Gusti Pangéran Adipati Anom (KGPAA) Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram atau Gusti Purbaya mengukuhkan diri sebagai Pakubuwono (PB) XIV saat membacakan sambutan sabda di hadapan jenazah PB XIII dan pelayat
Pengukuhan dilakukan sebelum jenazah PB XIII diberangkatkan ke Imogiri untuk dimakamkan, Rabu (5/11).
Purbaya merupakan anak PB XIII sekaligus Putra Mahkota Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau populer disebut Kraton Solo. Dengan pengukuhan dirinya itu, maka Purbaya menjadi Raja Solo yang baru, meneruskan takhta ayahnya.
“Rebo Legi, patbelas Jumadilawal tahun dal sèwu sangangatus sèket sanga, utawa kaping lima Nopèmber rong èwu selawé, hanglintir kaprabon Dalem minangka SRI SUSUHUNAN Karaton Surakarta Hadiningrat, kanthi sesebutan sampeyan dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono Patbelas,” ujar Purbaya dalam bahasa Jawa.
Purbaya genap berusia 23 tahun pada September lalu.
Penghormatan pada Leluhur
Anak pertama PB XIII, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, memberikan pernyataan resmi mewakili keluarga besar Kraton Solo.
Ia menegaskan bahwa langkah sang adik untuk mengambil sumpah di hadapan jenazah ayahanda adalah bentuk penghormatan dan pelestarian adat yang sudah berjalan sejak zaman leluhur.
“Apa yang dilakukan Adipati Anom, Kanjeng Gusti Pangéran Adipati Anom Hamangkunegoro, adalah sesuai dengan adat Kasunanan. Dulu juga pernah terjadi di era para leluhur raja sebelumnya. Sumpah di hadapan jenazah ayahanda adalah simbol kesetiaan, bukan pelanggaran adat,” kata Gusti Timoer dalam siaran pers Humas Kraton Solo.
Gusti Timoer mengatakan, dengan ini tidak ada kekosongan kekuasaan. Segala prosesi adat dan tanggung jawab pemerintahan Kraton Solo tetap berjalan sebagaimana mestinya, di bawah pimpinan raja baru, PB XIV.
Kraton Solo juga menyatakan, "Prosesi sakral ini menjadi momentum penting bagi masyarakat Surakarta, khususnya para abdi dalem dan pecinta budaya Jawa. Banyak yang menilai bahwa jumenengan Pakoe Boewono XIV menjadi babak baru bagi pemulihan marwah Karaton yang sempat diguncang berbagai polemik di masa lalu."
Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Kraton Solo berdiri pada tahun 1745 dan telah melahirkan 13 raja sebelum kini memasuki masa kepemimpinan PB XIV.
Polemik Kraton Solo di Masa Lalu
Menyoal "berbagai polemik di masa lalu", salah satu polemik yang sempat mencuat adalah Kraton Solo pernah mengalami periode 'raja kembar' akibat konflik internal bertahun-tahun.
Konflik dimulai setelah Raja Solo Pakubuwono XII mangkat pada Juni 2004 tanpa menunjuk pewaris (putra mahkota) resmi dan tidak memiliki permaisuri (ratu) yang sah. Hal ini menciptakan kekosongan kepemimpinan.
Dua putra PB XII dari ibu berbeda, KGPH Hangabehi dan KGPH Tedjowulan, sama-sama mengeklaim berhak atas takhta Pakubuwono XIII. Mereka sama-sama menyatakan sebagai Raja Solo yang sah.
Perseteruan yang memecah keluarga besar Kraton Solo ini bisa ditengahi pada 2012 berkat campur tangan pemerintah dan legislatif. Wali Kota Solo Joko Widodo (Jokowi) kala itu juga terlibat memediasi.
Hangabehi kemudian diakui sebagai Pakubuwono XIII dan Tedjowulan mendapat jabatan sebagai Maha Menteri.
PB XIII lalu mengangkat anaknya, Gusti Purbaya, sebagai Putra Mahkota tahun 2023 saat Purbaya berusia 21 tahun.
PB XIII mangkat pada 2 November 2025 dan dimakamkan hari ini di kompleks pemakaman raja Jawa di Imogiri, Bantul, DIY. Jokowi turut melepas jenazah dari Loji Gandrung (kantor Wali Kota Solo).
