Haedar: Buzzer Merasa Aman karena UU ITE Belum Kuat dan Kadang Tebang Pilih

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir. Foto: muhammadiyah.or.id
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir. Foto: muhammadiyah.or.id

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengkritik fenomena buzzer dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Haedar menyebut, buzzer menjadi musuh terbesar dunia pers karena mereka minim tanggung jawab kebangsaan dan etika cover both sides.

"Musuh terbesar dunia pers saat ini, khususnya pers online melalui jalur media sosial, ialah para buzzer yang minim tanggung jawab kebangsaan, etika cover both sides, dan keadaban mulia," kata Haedar dalam pesan singkat, Rabu (10/2).

Haedar menjelaskan, media memiliki mekanisme kontrol. Meski ada subjektivitas, namun tetap ada tuntutan objektivitas dalam alur cover both sides sehingga selalu ada koridor keseimbangan.

"Berbeda dengan para buzzer di media online. Dirinya sangat leluasa untuk beropini dan menyebar informasi, atau mempromosikan sesuatu secara bebas. Apalagi kalau membawa pesan tertentu," tuturnya.

Ilustrasi Buzzer Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Ia juga menilai para buzzer merasa dirinya bisa leluasa dan aman karena penerapan UU ITE di Indonesia masih belum kuat. Sehingga para buzzer tidak bisa ditindak.

"Di saat penegakan hukum UU ITE masih belum kuat penerapannya dan kadang tebang pilih, sehingga para buzzer yang tidak bertanggung jawab itu seolah merasa aman dan nyaman di ruang publik dengan berbagai sajiannya yang kontroversial, panas, dan memicu pertentangan sosial," jelasnya.

Namun, kata dia, kehadiran buzzer juga menjadi tantangan tersendiri bagi industri media. Dunia pers ditantang untuk tetap menjaga fungsi utamanya sebagai kekuatan pencerdas dan kontrol sosial yang objektif.

"Fungsi media yang objektif seperti itu sangat diperlukan agar kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak terbawa pada suasana yang kontroversial dan menjurus ke konflik sosial antarsesama anak bangsa akibat banyak informasi dan opini sepihak yang disebarluaskan oleh para pihak yang tidak bertanggung jawab," pungkasnya.

***

Saksikan video menarik di bawah ini.