Haedar Sebut Metode Hisab Beri Kepastian: Orang Salat Tak Perlu Lihat Matahari

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
101
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir di UIN Sunan Kalijaga, Senin (13/2/2023). Foto: Arfiansyah Panji/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir di UIN Sunan Kalijaga, Senin (13/2/2023). Foto: Arfiansyah Panji/kumparan

Penetapan 1 Syawal dalam kalender Islam, jadi program tahunan pemerintah dengan sidang penetapan (isbat) yang mengundang para ahli dan stakeholder. Begitu juga penetapan 1 Ramadhan.

Padahal, ada 12 bulan dalam kalender hijriah yang tidak pernah disidangkan penetapan 10 bulan lain selain Ramadhan dan Syawal. Apalagi dengan seratusan titik pemantauan awal bulan (hilal).

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir meyakini metode hisab yaitu perhitungan astronomis, akan digunakan secara umum oleh umat Islam di Indonesia, bahkan seluruh dunia.

Seperti penggunaan jam sebagai penanda waktu salat, Haedar meyakini umat Islam seluruh dunia akan menerapkan metode hisab wujudul hilal sebagai landasan dalam menentukan waktu-waktu penting ibadah yang lain umat Islam.

“Sekarang kita bisa mudah sekali untuk salat zuhur dan segala macam tanpa harus melihat matahari,” kata Haedar dikutip dari website Muhammadiyah, Kamis (20/4).

Keyakinan Haedar berkaca pada sejarah KH. Ahmad Dahlan yang menentukan arah kiblat masjid di Indonesia memakai perhitungan ilmu falak. Meski awalnya ditentang begitu rupa, namun yang dilakukan oleh Kiai Dahlan saat ini diikuti oleh bahkan seluruh umat Islam di Indonesia.

“Tapi sekarang alhamdulillah, bahkan Kementerian Agama membikin sertifikasi, bahwa setiap masjid harus dapat sertifikat arah kiblat yang benar. Bahwa perubahan untuk memakai kalender Islam global itu memerlukan waktu satu abad lagi,” imbuhnya.

Suasana salat Idul Fitri di Jakarta International Stadium (JIS), Senin (2/5). Foto: Haya Syahira

Penggunaan metode hisab hakiki wujudul hilal, imbuh Haedar, merupakan landasan yang bisa digunakan oleh generasi mendatang supaya hidup menjadi praktis. Islam harus menjawab tantangan yang ada di masyarakat modern yang memerlukan kepastian.

“Kepastian transaksi, kepastian tentang hari dan tanggal dan lain sebagainya. Yang tidak pasti dalam terawangan kita kan kematian dan ajal,” ucapnya.

“Dan benda-benda langit itu juga beredar dengan kepastian. Apa ada bulan itu demi toleransi mundur dulu?, bulan itu mau datang ya datang, matahari mau terbenam ya terbenam,” ungkap Haedar.

Menurutnya, dalam menentukan waktu salat, di negara mana pun memakai jadwal yang sudah pasti. Namun demikian, hal itu membutuhkan waktu yang tidak pendek, bahkan bisa jadi membutuhkan waktu satu abad.

Oleh karena itu, saat ini ketika masih terjadi perbedaan penentuan, umat Islam tidak perlu saling menuding dan caci maki.

“Kami pun menghargai bagi saudara-saudara, maupun negara yang masih menganut sistem dan metode lain," pungkasnya.