Haji, Ibadah Sosial, dan Ujian Kesabaran
ยทwaktu baca 4 menit

Haji merupakan ibadah segala bentuk. Fisik, mental, spiritual, berpadu jadi satu. Banyak hal yang bisa diambil dari perjalanan haji.
Memang jemaah haji Indonesia khususnya, sudah melalui berbagai perjuangan mulai mengumpulkan uang, menunggu belasan hingga puluhan tahun untuk bisa berangkat melaksanakan rukun Islam kelima itu.
Sebagian jemaah atau keluarga mengira perjalanan ibadah haji akan dibalut dengan berbagai kemewahan. Mungkin karena sudah bayar mahal dan waktu tunggu tak tidak sebentar itu.
Namun, ibadah haji sesungguhnya banyak mengajarkan arti kehidupan. Tidak ada yang benar-benar nyaman secara zohir ketika melaksanakan ibadah haji.
Semua prosesi dilaksanakan dengan fisik yang harus prima. Belum lagi mengendalikan perasaan dan menyadarkan diri bahwa ibadah haji juga ibadah sosial.
Berada di tengah 1,9 juta jemaah haji dunia, atau 229 ribu jemaah haji lainnya dari tanah air, menunjukkan ibadah haji bukanlah semata ibadah pribadi.
Belum lagi keadaan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, yang penuh sesak. Bahkan, para penyair Arab mengibaratkan Mina sebagai rahim perempuan. Diisi satu bayi, 2 bayi, 3 bayi, bahkan kembar 5 pun muat.
Tentu dengan tingkat kenyamanan yang berbeda. Dan nyatanya, bayi-bayi itu bisa lahir dengan selamat.
Setidaknya hal itu dirasakan oleh Moh Makhruz (75), jemaah haji asal Tulungagung, Jawa Timur. Sambil menunggu bus yang mengantarnya ke Madinah tiba, Makhruz duduk salah satu kursi lobi hotel tempatnya menginap di kawasan Raudhah, Makkah.
"Menyangkut orang banyak, tidak kegiatan pribadi ya anggap melatih kesabaran," kata Makhruz.
Dia berangkat haji bersama istrinya. Segala persiapan sudah dilakukan. Sebagai petani, Makhruz tahu betul bagaimana harus menjaga fisik juga mengatur waktu istirahat.
Hal ini membuat ibadahnya selama di tanah suci berjalan lancar. Semua rukun haji bisa dijalaninya dengan sukses.
"Alhamdulillahnya segala kegiatan rukun haji sukses ada keluhan keluhan pasti ada, memang menyangkut orang banyak tapi saya juga merasa puas karena semua rangkaian rukun haji itu alhamdulilah bisa saya laksanakan dengan sukses dengan istri saya," tutur dia.
Kini, dia hanya bisa berdoa agar ibadah haji yang dijalannya juga bisa dilakukan kelak oleh anak cucunya. Menjadi tamu Allah di tanah suci.
Dari sepanjang pelaksanaan rangkaian ibadah haji, prosesi puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, memang yang paling berat. Jemaah diuji dengan berbagai hal. Fisik sudah ditempa sejak 8 Zulhijah, wukuf di tanggal 9 Zulhijah, dan dilanjutkan ibadah lainnya termasuk mabit di Muzdalifah, Mina, dan melempar jumrah hingga tanggal 12 dan 13 Zulhijah.
Semua ini membutuhkan modal fisik yang prima. Apalagi di Mina. Kondisi wilayah Mina yang segitu-gitu saja.
Arab Saudi saja sulit menambah tenda padahal jumlah jemaah terus bertambah setiap tahunnya. Alhasil, ada saja jemaah haji tak harus berhimpitan di dalam tenda bahkan tidur di luar tenda.
Namun, kondisi berat ini tetap punya kenikmatan tersendiri di hati jemaah. Kalau mau dicari kekurangan pasti ada saja, tapi suasana hati yang membuat segala kekurangan menjadi bagian dari cobaan.
"Berkesan di Mina. Kalau di Mina sangat enggak enak tapi untuk saya nikmat sekali, nyaman di hati enggak ada keluhan apa-apa," kata Imam Ikhwanuddin, seorang jemaah dari kloter SUB 38.
Imam sampai tak bisa menjabarkan apa yang membuat hatinya tetap nyaman dan tenang meski menghadapi kondisi terbatas di Mina.
Kini, dia hanya ingin menyelesaikan rangkaian haji selama di Arab Saudi. Termasuk melaksanakan Salat Arbain di Masjid Nabawi Madinah.
Rindu pada keluarga tampaknya sudah tak terbendung. Sejumlah persiapkan kepulangan juga sudah ada, meski dia baru terbang ke tanah air pada 19 Juli 2023.
"Ini mau ke Madinah ya setelah itu ketemu keluarga. Sudah sangat rindu dengan keluarga," tutur dia.
"Sudah beli mainan untuk cucu, tasbih. Di sana nanti buat syukuran, tapi enggak mau diarak," ucap dia.
Mabrur Sebelum Berhaji
Kasektor 6 Abdul Haris mengatakan, dirinya sangat bersyukur banyak jemaah haji yang juga menjadi relawan untuk membantu jemaah lansia yang membutuhkan perhatian khusus.
Misalnya, di kloter SUB 38, ada 17 jemaah yang harus menggunakan kursi roda.
Mereka dibantu oleh jemaah lain sesama kloter SUB 38. Ini sudah mulai dipupuk sejak di embarkasi sebelum berangkat ke Tanah Suci. Mereka juga sudah lapang dada membantu sampai kembali lagi ke tanah air.
"Kita sudah koordinasi dengan jemaah untuk koordinasikan, ada relawan dari jemaah untuk mendorong. Ini yang kita sebut sebagai jemaah mabrur sebelum berhaji, memberikan bantuan ke jemaah lain," ucap dia.
