Hamas Respons Proposal Perdamaian Trump, Siap Bebaskan Sandera Israel
·waktu baca 2 menit

Hamas mengumumkan bahwa mereka menyetujui pembebasan semua sandera Israel, pemulangan jenazah, dan pengalihan pemerintahan Gaza ke badan Palestina yang independen.
Hal ini merupakan bagian dari respons Hamas terhadap proposal gencatan senjata yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump.
Dikutip dari Saudi Gazette, Sabtu (4/10), dalam sebuah pernyataan di Telegram, Hamas mengatakan isu-isu lain dalam rencana Trump “mengenai masa depan Jalur Gaza dan hak-hak sah rakyat Palestina terkait dengan posisi nasional yang bersatu berdasarkan hukum dan resolusi internasional yang relevan.”
Hamas telah menyampaikan tanggapannya kepada mediator dan meminta klarifikasi pada beberapa klausul. Kelompok tersebut mengatakan pihaknya mengadakan konsultasi dengan faksi-faksi Palestina, mediator, dan mitra internasional sebelum menyelesaikan pendiriannya.
Hamas mengatakan pihaknya setuju untuk membebaskan semua sandera Israel, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
"Sesuai dengan formula pertukaran yang termasuk dalam proposal Presiden Trump, dan dengan kondisi yang diperlukan untuk melakukan pertukaran tersebut.”
Israel memperkirakan 48 tawanan masih berada di Gaza, termasuk 20 orang masih hidup. Sementara sekitar 11.100 warga Palestina ditahan di penjara Israel.
Kelompok ini juga menegaskan kesediaannya untuk menyerahkan pemerintahan Gaza kepada badan teknokratis Palestina “berdasarkan konsensus nasional dan didukung oleh sokongan negara Arab dan Islam.”
Trump sebelumnya memberi waktu kepada Hamas hingga Minggu pukul 18.00 waktu Washington untuk menyetujui rencana tersebut.
Pada tanggal 29 September, Gedung Putih meluncurkan 20 poin proposal yang menyerukan gencatan senjata segera di Gaza, upaya rekonstruksi, dan reorganisasi struktur politik dan keamanan di wilayah tersebut.
Rencana tersebut bertujuan untuk melucuti senjata Hamas, membebaskan semua tawanan dalam waktu 72 jam, dan secara bertahap menarik pasukan Israel sambil membentuk otoritas teknokratis transisi di bawah pengawasan internasional yang dipimpin oleh Trump.
Israel telah memberlakukan blokade terhadap 2,4 juta penduduk Gaza selama hampir 18 tahun, dan memperketatnya lebih lanjut pada bulan Maret dengan memblokir pengiriman makanan dan obat-obatan.
Sejak Oktober 2023, pemboman Israel telah menewaskan hampir 66.300 warga Palestina, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak, menurut laporan Palestina dan internasional.
Akibat gempuran Israel itu, PBB memperingatkan bahwa kondisi Gaza semakin memburuk, kelaparan dan penyakit menyebar dengan cepat.
