Harap Cemas Warga Gaza soal Gencatan Senjata Israel dan Gerakan Jihad Islam

8 Agustus 2022 11:21
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Warga Palestina melihat sebuah rumah yang terkena serangan udara Israel, di Kota Gaza, Sabtu (6/8/2022). Foto: Mohammed Salem/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Warga Palestina melihat sebuah rumah yang terkena serangan udara Israel, di Kota Gaza, Sabtu (6/8/2022). Foto: Mohammed Salem/REUTERS
ADVERTISEMENT
Israel dan Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ) menyepakati perjanjian gencatan senjata di Gaza pada Minggu (7/8). Inisiatif ini diapresiasi oleh banyak pihak, tetapi juga masih menyisakan kekhawatiran.
ADVERTISEMENT
Bagi warga yang ada di Jalur Gaza, berita soal gencatan senjata ini sudah sangat ditunggu-tunggu. Begitu kabar tersebut menyeruak, puluhan warga turun ke jalanan dan merayakannya dengan rasa syukur.
Seorang warga setempat, Nour Abu Sultan, mengaku ia sudah menanti deklarasi gencatan senjata dengan harap-harap cemas. Kepada AFP, pria berusia 29 tahun itu menceritakan kengerian yang ia alami sejak Israel menyerang Jalur Gaza pada Sabtu (6/8) lalu.
"Kami tidak tidur selama berhari-hari akibat udara panas, penembakan, dan roket, suara pesawat terbang yang melayang-layang di atas kami. Sangat menakutkan," tutur Sultan.
Kerusakan permukiman warga  di Jabalia, Jalur Gaza, Minggu (7/8/2022). Foto: Mahmud Hams/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Kerusakan permukiman warga di Jabalia, Jalur Gaza, Minggu (7/8/2022). Foto: Mahmud Hams/AFP
Serangan pada Sabtu bermula ketika Israel menghujani Gaza dengan roket dan menargetkan komandan tinggi PIJ, Taysir al-Jabari alias Abu Mahmoud.
ADVERTISEMENT
Sosok komandan Brigade Al-Quds di wilayah utara Jalur Gaza ditemukan tewas dalam serangan Israel itu.
Menanggapi serangan Israel, pihak PIJ menyebut aksi Israel sebagai deklarasi perang. Mereka kemudian melakukan serangan balasan dengan menembakkan 100 roket ke wilayah Israel.
Menurut laporan teranyar dari Kementerian Kesehatan Palestina, selama tiga hari terakhir, setidaknya 44 orang tewas dan sekitar 350 warga sipil lainnya luka-luka. 15 di antara korban terdiri dari anak-anak.
Gencatan Senjata Sudah Lama Dinantikan, Namun Masih Rapuh
Sehari usai serangan itu, pihak Mesir mengambil inisiatif untuk menjadi mediator guna meraih kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan PIJ. Kedua belah pihak pun menyetujuinya.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Amerika Serikat (AS) dan PBB menyambut baik gencatan senjata tersebut. Presiden AS Joe Biden pun berterima kasih kepada Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi, serta menyerukan penyelidikan atas korban sipil untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab.
Kerusakan permukiman warga  di Jabalia, Jalur Gaza, Minggu (7/8/2022). Foto: Mahmud Hams/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Kerusakan permukiman warga di Jabalia, Jalur Gaza, Minggu (7/8/2022). Foto: Mahmud Hams/AFP
Meskipun inisiatif ini disambut baik oleh banyak pihak, namun masih ada kekhawatiran yang tersirat terkait kesepakatan ini. Sebab, kesepakatan gencatan senjata ini dinilai masih cenderung rapuh oleh para pengamat.
ADVERTISEMENT
Utusan PBB di Timur Tengah Tor Wennesland dalam sebuah cuitannya di Twitter turut menyampaikan kekhawatirannya soal kesepakatan tersebut.
"Situasinya masih sangat rapuh," kata Wennesland. "Saya mendesak semua pihak untuk mematuhi gencatan senjata," sambung dia.
Pernyataan Wennesland ini pun didukung oleh Direktur The Electronic Intifada, Ali Abunimah. The Electronic Intifada adalah sebuah situs web yang berfokus pada pendataan dan informasi terkait warga Palestina di bawah penjajahan Israel.
Meski pertempuran sudah berhenti, namun masih ada rasa kengerian dan trauma yang menyelimuti warga Palestina di Jalur Gaza.
Mereka sudah tidak dapat lagi hidup dengan normal akibat pengepungan dan pendudukan Israel yang sudah berlangsung selama 15 tahun.
Warga Palestina memeriksa bangunan yang terkena serangan udara Israel, di Kota Gaza, Sabtu (6/8/2022). Foto: Mohammed Salem/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Warga Palestina memeriksa bangunan yang terkena serangan udara Israel, di Kota Gaza, Sabtu (6/8/2022). Foto: Mohammed Salem/REUTERS
"Orang-orang di Gaza tidak bisa kembali ke keadaan normal karena mereka masih hidup di bawah pengepungan Israel yang merupakan bentuk kekerasan diam-diam terhadap setiap pria, wanita, dan anak-anak di Gaza, 24 jam sehari, 365 hari setahun, selama 15 tahun," kata Abunimah, dikutip dari Al Jazeera.
ADVERTISEMENT
"Jadi sayangnya, ini rapuh. Ini akan terjadi lagi. Saya tidak bisa mengatakan kepada Anda apakah itu akan terjadi dalam sehari, atau seminggu, sebulan atau setahun. Tapi itu akan terus terjadi karena Israel menikmati impunitas total atas kejahatannya terhadap rakyat Palestina, dan bukan hanya impunitas, tetapi dukungan penuh dan aktif. Ingatlah bahwa Israel mengebom Gaza dengan senjata yang disediakan oleh AS, Uni Eropa dan Kanada, yang semuanya mendukung Israel," beber Abunimah.
"Dan ini adalah negara-negara yang sama yang mengirim miliaran dolar ke Ukraina yang seharusnya untuk melawan pendudukan dan invasi, tetapi di sini mereka membantu Israel melakukan pendudukan, invasi, dan teror terhadap penduduk sipil," tegasnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020