Harga Saham BUMI Meroket 333 Persen dalam 8 Bulan

Harga saham emiten tambang PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tercatat melambung 536 persen dari harga Rp 50 per saham (saham gocapan) hingga Rp 300-an per saham hanya dalam waktu 5 bulan.
Harga saham BUMI naik pertama kali pada Juni 2016, setelah proses restrukturisasi utang perseroan yang mencapai Rp 4,2 miliar dolar AS (Rp 55 triliun) mulai menunjukkan progres.
Untuk diketahui, perusahaan sudah mengajukan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) sejak 6 April 2016. Pada 9 Juni, Pengadilan Niaga memutuskan mengubah status PKPU Sementara menjadi PKPU Permanen.
Harga saham BUMI mulai meninggalkan posisi tidur di level Rp 50-an per saham sejak 13 Juni 2016. Dari Rp 83 per saham, saham BUMI terus menanjak dan pertama kali menyentuh level Rp 300-an pada 10 November 2016 di Rp 318 per saham.
Sejak itu, saham perusahaan yang terafiliasi dengan Grup Bakrie ini terus menanjak dan sempat menyentuh level tertinggi di Rp 505 per saham pada 27 Januari 2017.
Hingga hari ini, saham BUMI masih di level Rp 300-an. Pada Kamis (23/2), saham BUMI dibuka pada level Rp 372 per saham, naik 1,08 persen dari harga penutupan kemarin Rp 368 per saham.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga penutupan perdagangan hari ini, saham BUMI ditutup melemah 8 poin (2,17 persen) ke Rp 360. Adapun dari 13 Juni 2017 (sejak BUMI mulai bangkit) hingga hari ini atau sekitar 8 bulan, saham BUMI sudah meroket 333,73 persen.
Kenaikan tersebut memang memunculkan banyak tanda tanya, terutama dari pelaku pasar. Pasalnya, harga saham biasanya mencerminkan fundamental perusahaan, sementara BUMI sudah mengalami rugi dan utang yang menumpuk. Apalagi, pada Januari 2017, saham BUMI diumumkan Bursa Efek Indonesia (BEI) masuk jajaran saham LQ45 atau daftar saham paling likuid.

Analis Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada menilai, wajar jika saham BUMI masuk jajaran paling likuid, karena terhitung Juni 2016 sampai Januari 2017, atau dalam periode 5 bulan, tentunya BEI sudah melihat bagaimana pergerakan signifikan dari BUMI.
Menurut Reza, pola kenaikan saham BUMI selama ini cenderung sideways, atau naik-turun, namun secara konsolidasi memang terus naik sejak restrukturisasi utang mencuat.
"Pelaku pasar memanfaatkan sentimen-sentimen seperti RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, untuk meminta persetujuan rights issue). Namun, bukan untuk beli, tapi jual atau profit taking. Karena itu, menjelang berita-berita yang positif dari perusahaan, bisa kita lihat sahamnya bergerak naik. Namun, usai RUPSLB (7 Februari 2017), sahamnya malah turun, karena banyak yang ambil untung dari kenaikan sebelumnya," jelas Reza.
Setelah RUPSLB tersebut, memang saham BUMI terus turun hingga menyentuh level terendah sepanjang satu bulan, yaitu Rp 290 pada 27 Februari 2017.
Ia mencontohkan, hari ini saham BUMI yang dibuka pada level Rp 372 per saham, bergerak naik menjelang rehat siang, karena ada berita soal paparan publik yang digelar hari ini. Namun, usai rehat, sahamnya terus turun sampai ditutup pada level Rp 358 per saham.
"Saat ini, saham BUMI akan bergerak konsolidasi. Kira-kira sampai sentimen selanjutnya (persetujuan OJK untuk rights issue pada April 2017), sahamnya akan bergerak di kisaran Rp 300-390 per saham," jelas Reza.
Ia menilai, dari sisi fundamental, BUMI sendiri akan positif karena perbaikan kinerja, seperti raihan laba hingga 100,9 juta dolar AS sepanjang 2016 (dari rugi 1,9 miliar dolar pada 2015) dan restrukturisasi utang dari 4,2 miliar dolar AS menjadi 1,6 miliar dolar AS.
Sebagai informasi, sebelumnya BUMI mengumumkan telah mendapatkan persetujuan pemegang saham untuk melakukan penerbitan saham baru (rights issue) dengan nilai mencapai sekitar Rp 35 triliun, untuk restrukturisasi utangnya.
Menurut Reza, ada potensi saham BUMI bisa melampaui level tertingginya pada Rp 505 per saham, menjelang realisasi rights issue pada Juni mendatang.
"Potensinya ada, tapi belum dalam waktu dekat ini," pungkas Reza.
