News
·
8 September 2020 19:05

Hari Aksara Internasional, Seberapa Merdeka Rakyat Indonesia dari Buta Huruf?

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Hari Aksara Internasional, Seberapa Merdeka Rakyat Indonesia dari Buta Huruf? (33399)
Nurma, pahlawan buta huruf di Pedalaman Aceh. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
Hari ini, 8 September 2020 bertepatan dengan Hari Aksara Internasional atau International Literacy Day ke-55. Peringatan yang diusung UNESCO sejak tahun 1966 mengingatkan komunitas internasional tentang pentingnya melek huruf dalam literasi.
ADVERTISEMENT
Di Indonesia, peringatan Hari Aksara Internasional ini mengusung tema Pembelajaran Literasi di Masa COVID-19: Momentum Perubahan Paradigma Pendidikan.
Pada momentum tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menegaskan pemerintah terus mengupayakan agar masyarakat merdeka dari permasalahan buta aksara. Berbagai strategi penuntasan buta aksara pun dilakukan.
Hari Aksara Internasional, Seberapa Merdeka Rakyat Indonesia dari Buta Huruf? (33400)
Mendikbud Nadiem Makarim saat rapat kerja bersama Komisi X DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (27/8). Foto: Puspa Perwitasari/ANTARA FOTO
"Di antaranya memutakhirkan data buta aksara, memperluas layanan program pendidikan keaksaraan, mengembangkan sinergi dalam upaya penuntasan buta aksara, dan pemeliharaan kemampuan keberaksaraan warga masyarakat," tutur Nadiem di YouTube Kemendikbud, Selasa (8/9).
Nadiem menyebut pemerintah juga telah mengakselerasi inovasi layanan program pada daerah buta aksara. Lantas dengan berbagai program ini apakah Indonesia sudah bebas dari buta aksara?
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai Persentase Penduduk Buta Huruf menurut Kelompok Umur, 2011-2019, masyarakat yang buta huruf masih ada di Indonesia pada 2019.
ADVERTISEMENT
Dalam data tersebut, BPS mengklasifikasikan 3 kelompok umur yakni 15+, 15-44, dan 45+. Jika persentase buta huruf di ketiga kelompok umur dirata-ratakan, maka tampak adanya ketimpangan buta huruf di sejumlah provinsi Indonesia.
Provinsi dengan persentase terendah buta huruf ternyata bukan di Ibu Kota. Posisi tersebut justru diduduki oleh Sulawesi Utara yang memiliki rata-rata penduduk dengan buta huruf sebesar 0,22 persen. Sementara DKI Jakarta menyusul di posisi kedua dengan 0,34 persen.
Adapun provinsi dengan persentase tertinggi buta huruf nasional berdasarkan olah data BPS adalah Papua yakni 23,11 persen. Provinsi di ujung timur Indonesia ini satu-satunya yang memiliki persentase buta huruf di atas 20 persen.
Selain itu, sebanyak 11 provinsi memiliki persentase buta huruf di atas rata-rata nasional pada 2019. Di antaranya provinsi DIY, Bali, Sultra, Jateng, dan Sulbar. Berikut data selengkapnya:
ADVERTISEMENT
No.
Buta Huruf per Provinsi (2019)
Umur 15+
Umur 15-44
Umur 45+
Rataan
1
SULAWESI UTARA
0,20%
0,08%
0,39%
0,22%
2
DKI JAKARTA
0,26%
0,05%
0,71%
0,34%
3
MALUKU
0,61%
0,55%
0,74%
0,63%
4
SUMATERA BARAT
0,83%
0,10%
2,10%
1,01%
5
KALIMANTAN TENGAH
0,78%
0,11%
2,34%
1,07%
6
SUMATERA UTARA
0,85%
0,18%
2,19%
1,07%
7
RIAU
0,79%
0,10%
2,46%
1,12%
8
KALIMANTAN TIMUR
0,97%
0,18%
2,69%
1,28%
9
KEP. RIAU
1,00%
0,12%
3,36%
1,49%
10
GORONTALO
1,25%
0,31%
3,12%
1,56%
1-10 dari 34 baris

Data Pergerakan Persentase Buta Huruf Indonesia

Meski masih belum merdeka dari buta huruf dan terjadi ketimpangan buta huruf di beberapa provinsi, Indonesia mencatatkan persentase buta huruf yang menurun dari tahun ke tahun.
Berdasarkan olah data BPS, pada 2011, Indonesia mencatatkan 9,34 persen warga di seluruh provinsi mengalami buta huruf. Teranyar, pada 2019 angka itu turun menjadi 4,9 persen.
Nadiem menyebut era pandemi corona saat ini harus dapat diambil hikmahnya. Termasuk, agar setelahnya Indonesia dapat mengentaskan diri dari buta aksara.
"Saat pandemi selesai, kita harus yakin akan keluar sebagai pemenang, yang terus memiliki harapan dan cita-cita untuk mengentaskan buta aksara dari negara kita tercinta," ujar Nadiem.