Hari Batik Nasional, KBRI Ottawa Pamerkan 12 Kain Pusaka Nusantara di Kanada

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
KBRI Ottawa menggelar acara resepsi bertema Batik: From Indonesia to the World di Aula Caraka Nusantara KBRI Ottawa, Kanada. Foto:  KBRI Ottawa
zoom-in-whitePerbesar
KBRI Ottawa menggelar acara resepsi bertema Batik: From Indonesia to the World di Aula Caraka Nusantara KBRI Ottawa, Kanada. Foto: KBRI Ottawa

KBRI Ottawa menggelar peragaan busana batik untuk memperingati Hari Batik Nasional sekaligus merayakan 17 tahun pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.

Peragaan busana itu menjadi bagian dari kegiatan bertema ‘Batik: From Indonesia to the World’ yang digelar di Aula Caraka Nusantara KBRI Ottawa, Kanada, Jumat (2/10). Sekitar 150 undangan hadir, mulai dari anggota Parlemen Kanada, korps diplomatik ASEAN dan negara sahabat, pengusaha, hingga pemangku kepentingan di Kanada.

Aula KBRI Ottawa disulap menjadi galeri sekaligus catwalk batik. Para tamu disambut alunan gamelan Jawa dan sejumlah di antaranya datang mengenakan pakaian batik.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan kelompok angklung Indonesia Canadian Angklung Society (ICAS). Mereka membawakan dua lagu, salah satunya It’s Now or Never milik Elvis Presley. Setelah penampilan gamelan dan angklung, para tamu menyaksikan film pendek produksi KBRI Ottawa berjudul Batik: From Indonesia to the World.

Dalam sambutannya, Duta Besar RI untuk Kanada Muhsin Syihab menegaskan batik memiliki akar yang tidak terpisahkan dari Indonesia. Ia menyebut hal tersebut terlihat dari nama hingga teknik pembuatan batik yang diwariskan secara turun-temurun.

“Izinkan saya menyampaikannya secara lugas: Batik adalah Indonesia. Indonesia dalam namanya, yang berasal dari bahasa Jawa, dan Indonesia dalam tekniknya, seni malam dan pewarnaan yang tekun, diwariskan dari generasi ke generasi selama berabad-abad,” tegasnya.

Menurut Muhsin, batik bukan sekadar benda yang disimpan di museum. Batik, kata dia, menjadi bagian dari berbagai tahapan kehidupan masyarakat Indonesia, mulai dari kelahiran hingga pernikahan dan perpisahan.

Batik juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di sekolah, kantor, dan ruang pemerintahan. Selain menjadi warisan budaya, batik turut menjadi sumber penghidupan bagi hampir 200 ribu warga Indonesia yang bekerja di puluhan ribu bengkel kecil dan usaha keluarga, yang sebagian besar di antaranya dijalankan perempuan.

Muhsin juga menyebut batik sebagai salah satu bentuk diplomasi Indonesia. Ia mengingatkan bahwa batik pernah dikenakan oleh Perdana Menteri Kanada Jean Chrétien bersama para pemimpin Asia-Pasifik dalam KTT APEC di Bogor pada 1994. Begitu pula Perdana Menteri Justin Trudeau ketika menghadiri KTT ASEAN di Jakarta pada 2023.

KBRI Ottawa menggelar acara resepsi bertema Batik: From Indonesia to the World di Aula Caraka Nusantara KBRI Ottawa, Kanada. Foto: KBRI Ottawa

“Setiap kali, batik menyampaikan sesuatu yang tak mampu diungkapkan komunike mana pun: bahwa persahabatan dapat dikenakan, tidak hanya dituliskan,” tuturnya.

Memasuki peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Kanada pada 2027, Muhsin mengajak masyarakat kedua negara untuk memaknai filosofi yang dimiliki para perajin batik.

“Hal-hal yang langgeng dibuat titik demi titik, garis demi garis — dengan kesabaran, ketelitian, dan komitmen dari kedua belah pihak,” katanya.

Batik Sebagai Pintu Indah untuk Mengenal Indonesia

Anggota Parlemen Kanada sekaligus Ketua Bersama Kelompok Persahabatan Parlemen Kanada-Indonesia, Sameer Zuberi, turut hadir sebagai tamu kehormatan.

Ia menilai peringatan Hari Batik Nasional yang digelar KBRI Ottawa penting untuk memperkenalkan dan memperdalam pemahaman masyarakat Kanada mengenai Indonesia.

“Batik, yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan, adalah pintu yang indah untuk mengenal Indonesia, yang bukan hanya sebagai mitra ekonomi bagi Kanada, tetapi juga sebagai bangsa dengan kekayaan budaya yang luar biasa,” ujarnya.

Zuberi juga menyinggung hubungan Indonesia dan Kanada yang dinilainya terus menguat. Salah satunya melalui Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Kanada atau ICA-CEPA yang ditandatangani di Ottawa pada 24 September 2025.

“ICA-CEPA membuka babak baru kemitraan kita. Perayaan budaya seperti sore ini memastikan kemitraan tersebut berakar pada saling pengertian antarmasyarakat,” tuturnya.

Kekaguman terhadap batik juga disampaikan salah satu tamu, Helena Skarcic, istri Duta Besar Kroasia untuk Kanada sekaligus Ketua Asosiasi Para Pendamping Duta Besar di Kanada.

“Saya sangat senang bisa hadir di acara Batik Indonesia yang diselenggarakan KBRI Ottawa. Sebelumnya saya tidak tahu bagaimana batik dibuat dan saya sungguh kagum. Saya sangat terkesan melihat bagaimana anak-anak begitu gembira dan bersenang-senang saat mengenakan batik Anda. Hal yang mengejutkan saya adalah, apa yang semula saya kira sekadar pakaian tradisional biasa ternyata sangat luar biasa dan istimewa untuk dikenakan di berbagai acara,” ucapnya.

KBRI Ottawa menggelar acara resepsi bertema Batik: From Indonesia to the World di Aula Caraka Nusantara KBRI Ottawa, Kanada. Foto: KBRI Ottawa

Pamerkan Kain Pusaka Nusantara di Catwalk

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan peragaan busana batik setelah sesi foto bersama. Catwalk diawali dengan tari kontemporer Indonesia yang dibawakan keluarga besar KBRI Ottawa dan diaspora Indonesia.

Peragaan bertajuk 'The Ageless Runway: Batik Across Generations’ itu dibuka melalui sesi ‘The Living Museum: Timeless Artifact’. Sesi tersebut menampilkan 12 kain pusaka dalam tiga babak yang membawa para tamu mengenal beragam tradisi batik dari sejumlah daerah di Indonesia.

Babak pertama menampilkan kain-kain dari lingkungan Keraton Yogyakarta dan Surakarta, seperti Udan Liris, Parang Rusak Klitik, Semen bermotif Sawat/Gurda, Sidomukti, dan Peksi Kurung. Sejumlah motif tersebut merupakan motif yang penggunaannya pernah diatur oleh keraton sejak akhir abad ke-18.

Selanjutnya, babak kedua membawa hadirin ke Banyumas melalui kain Jahean, Semen Sawat polikrom, dan Burung Hong. Motif-motif tersebut menunjukkan perjumpaan batik dengan pengaruh Eropa dan Tionghoa.

Sementara babak ketiga menampilkan batik dari wilayah pesisir dan sejumlah daerah lainnya. Di antaranya Mega Mendung dari Cirebon, Lunglungan dari Lasem, Tar-poteh Kembang Cengkeh dari tradisi Gentongan Tanjung Bumi, Madura, hingga batik bercorak Asmat dari Papua.

Peragaan kemudian dilanjutkan dengan penampilan tiga kelompok berdasarkan generasi. Anak-anak usia 6-12 tahun, remaja berusia 13-18 tahun, serta kelompok perempuan tampil mengenakan batik dalam berbagai busana keseharian. Perayaan ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya paling bermakna ketika ia dikenakan, dipahami, dan diteruskan, dari Indonesia, untuk dunia.