Hari Keluarga Nasional, Momentum Indonesia Cegah Stunting

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
BKKBN ajak masyarakat Indonesia bersama-sama cegah stunting. Foto: Dok. BKKBN
zoom-in-whitePerbesar
BKKBN ajak masyarakat Indonesia bersama-sama cegah stunting. Foto: Dok. BKKBN

Semua keluarga indonesia berisiko memiliki anggota keluarga yang stunting atau kondisi terganggunya pertumbuhan anak, baik secara fisik maupun perkembangan intelektualnya. Saat ini satu dari empat anak yang lahir di Indonesia mengalami stunting. Di tingkat dunia, Indonesia berada pada posisi ke-5 sebagai negara yang memiliki kasus stunting terbanyak.

Stunting ini bisa disebabkan karena kekurangan gizi kronis yang terjadi selama periode paling awal tumbuh kembang anak, yang menyebabkan anak kesulitan bermain dan belajar, serta mempengaruhi kualitas kesehatan di masa depan. Bila tidak ditangani, dapat berdampak pada generasi penerus bangsa di masa depan anak.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pun melakukan penajaman target sasaran intervensi demi percepatan penurunan kasus stunting di Indonesia, mulai dari intervensi terhadap calon pengantin, janin dan bayi di 1.000 hari pertama kehidupan pada masa ibu hamil, dan masa pasca-persalinan.

Selain itu, BKKBN melalui seluruh tenaga penyuluh dan kader di lapangan bekerja sama lintas sektor terkait, organisasi masyarakat dan pemerintah daerah untuk mewujudkan keluarga berkualitas dengan lahirnya generasi yang sehat bebas stunting.

Caranya dengan membuat 10 pokok perubahan program kerja untuk mengawal ibu hamil dan mendampingi keluarga Indonesia dalam setiap aspek kehidupan. BKKBN juga melakukan pendataan dan penapisan, pendampingan, pemantauan serta audit kasus.

Sepuluh pokok perubahan tersebut meliputi:

1. Pendataan keluarga berisiko tinggi stunting melalui pendataan keluarga dan di-update dengan Sistem Informasi Keluarga (SIGA).

2. Pendampingan semua keluarga berisiko tinggi stunting oleh kader KB, PPKBD dan Sub PPKBD.

3. Penapisan keluarga terhadap penggunaan dan kepemilikan sarana jamban dan air bersih.

4. Penapisan keluarga terhadap penggunaan dan kepemilikan sarana Rumah sehat.

5. Pendampingan dan penapisan keluarga terhadap ketersediaan pangan, pola makan dan asupan gizi. Di antaranya oleh oleh kader sehat, PPKBD sub PPKBD, PKK dan dasa wisma.

6. Pendampingan dan penapisan kesehatan reproduksi semua remaja/pemuda 3 bulan pra nikah melalui pendataan oleh BKKBN dan KUA, camat dan desa; serta pemeriksaan dan terapi oleh Puskesmas.

7. Penapisan, pendampingan semua PUS/ keluarga dengan ibu hamil yang dilakukan oleh Bidan, serta dibantu kader sehat, PPKBD, Sub PPKBD, PKK, dan dasa wisma.

8. Pendampingan, penapisan keluarga dengan PUS pasca persalinan untuk pemberian ASI eksklusif dan KB PP oleh kader sehat, serta PPKBD di bawah bidan.

9. Penapisan, pendampingan keluarga dengan 1000 HPK: pemantauan tumbuh kembang dan penggunaan Kontrasepsi yang dilakukan oleh bidan, dibantu kader sehat, PPKBD, Sub PPKBD, PKK, dan dasa wisma

10. Adanya Komponen pendukung audit kejadian stunting di tingkat kecamatan dengan pembangunan sistem IT/IOT/aplikasi baru pendukung rencana aksi oleh camat, dibantu PKB, PLKB, Pimpinan Puskesmas, Pakar.

BKKBN ajak masyarakat cegah stunting di masa pandemi

Hari Keluarga ke-28 yang jatuh pada tanggal 29 Juni 2021 ini pun menjadi momentum untuk mengingatkan seluruh keluarga Indonesia akan pentingnya arti keluarga dan mengajak bersama-sama menyelamatkan anak-anak dari ancaman stunting.

Oleh karena itu, beberapa kegiatan dilaksanakan untuk mendukung Hari Keluarga Nasional seperti “Gerakan Bulan Pemantauan Tumbuh Kembang Balita” di Posyandu untuk meningkatkan gerakan keluarga dan masyarakat dalam Posyandu Holistik Integratif sebagai wadah yang mampu mengintegrasikan program dan kegiatan lintas sektor sebagai lembaga masyarakat di tingkat desa.

Ada juga “Pelayanan KB Serentak Sejuta Akseptor” yang dilaksanakan pada hari Kamis, 24 Juni 2021 dan mendapatkan akseptor sebanyak 1.213.066 akseptor di seluruh Indonesia, serta Penghargaan Program Bangga Kencana dan Penghargaan dalam Penurunan Stunting. Seluruh kegiatan ini diselenggarakan dengan tetap memperhatikan kualitas pelayanan, kondisi zona wilayah dan protokol kesehatan pada masa pandemi COVID-19.

Baru-baru ini BKKBN juga diberi tanggung jawab dalam penanganan COVID-19 pada ibu hamil, ibu menyusui, anak usia 12-17 tahun. Kepala BKKBN DR. (H.C), Dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) mengatakan dalam laporannya di Puncak Peringatan Hari Keluarga Nasional Ke 28 Tahun 2021, bahwa BKKBN akan melaksanakan launching vaksinasi COVID-19 bagi anak usia 12-17 tahun.

“Sedangkan untuk ibu hamil, masih dalam kajian, dalam waktu dekat semoga bisa dilaksanakan secepatnya. Namun untuk ibu nifas atau ibu menyusui dapat dilakukan hari ini,” jelas Hasto.

Kegiatan vaksinasi tersebut akan dilaksanakan di 3 Provinsi dan 4 titik yaitu, yaitu Provinsi Jawa Barat di Kabupaten Sumedang, Kecamatan Sumedang Utara, Desa Margamukti, Kampung KB Adipura; Kota Bogor di Kecamatan Bogor Barat, Kelurahan Pasir Jaya, Kampung KB Muara Kidul; Provinsi Sulawesi Selatan yaitu di Kota Makassar, Kecamatan Tallo, Kelurahan Panampu, Kampung KB Nusa Indah; dan Provinsi Bangka Belitung di Kota Pangkal Pinang, Kecamatan Pangkal Balam, Kelurahan Ketapang, dan Kampung KB Mentari.

BKKBN berharap momentum ini bisa menjadi upaya preventif menghadapi COVID-19, serta dapat kembali menumbuhkan kesadaran untuk membentuk generasi penerus bangsa yang sehat dan berkualitas “Wujudkan keluarga berkualitas bebas stunting untuk mendukung tercapainya indonesia maju,”

Artikel ini merupakan bentuk kerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)