Hari Pertama Sekolah dan Perjuangan Seorang Ayah yang Jalankan Peran Ibu

Jarum jam belum menunjukkan pukul 05.00 WIB ketika Satiri Ahmad sudah berdiri di dapur rumahnya. Senin (13/7) pagi itu bukan pagi biasa. Putri bungsunya, Deli Saputri, akan menjalani hari pertama masuk kelas 1 SD di SDN Kalibaru III, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Tak ada lagi sosok istri yang biasanya membantu menyiapkan seragam, memandikan anak, atau menyiapkan sarapan. Semua pekerjaan itu kini dilakukan Satiri seorang diri sejak sang istri meninggal dunia sekitar setahun lalu.
"Saya bangun jam setengah lima. Saya buru-buru masak, ngurusin anak mandi, ngurusin seragamnya, semuanya. Memang pertama kali masuk sekolah masih sibuk banget," ujar Satiri kepada kumparan saat ditemui di SDN Kalibaru III.
Deli menjadi salah satu murid baru yang mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) hari pertama. Sesuai arahan sekolah, ia masih mengenakan seragam taman kanak-kanak (TK).
Bagi sebagian keluarga, hari pertama sekolah identik dengan ibu yang sibuk menyiapkan kebutuhan anak. Namun, pemandangan berbeda terlihat pada keluarga Satiri. Seorang ayah mengambil seluruh peran itu seorang diri.
Satiri mengaku telah terbiasa mengurus anak-anaknya sejak sang istri meninggal. Meski demikian, hari pertama sekolah tetap menjadi momen yang membutuhkan perhatian lebih.
"Yang pertama, memang istri saya sudah nggak ada, udah meninggal. Jadi saya ngurusin anak kan dua, ini yang bontot," jelasnya sambil menatap Deli.
Beruntung, Deli tidak menyulitkannya. Putrinya sudah terbiasa bangun pagi sehingga tidak perlu dibujuk lama. "Kalau saya bangun setengah lima, anak bangun setengah enam. Sudah mandi, terus berangkat," kata Satiri.
"Anak saya sudah emang sudah terbiasa bangun pagi ya. Jadi, enggak susah lah kalau dibangunin gitu," tambahnya.
Satiri juga berusaha menyiapkan mental Deli sebelum memasuki lingkungan sekolah yang baru. Ia tak ingin putrinya merasa takut seperti sebagian anak lain yang baru pertama kali berpisah dengan orang tua.
"Saya bilang, 'Dede sekarang sudah masuk SD, jangan takut, pokoknya biasa aja' saya kasih tahu gitulah, saya ajari semua," tuturnya.
Nasihat itu rupanya cukup ampuh. Deli datang ke sekolah dengan lebih tenang karena mengetahui ada teman yang dikenalnya. Saat proses pendaftaran di SDN Kalibaru II, ia sempat berkenalan dengan seorang anak bernama Abiba. Keduanya sama-sama akhirnya diterima di SDN Kalibaru III.
"Masuk sini juga. Akhirnya bareng, jadi satu bangku," kata Satiri.
Perjalanan Deli menuju SDN Kalibaru III sendiri sempat berubah. Awalnya ia mendaftar ke SDN Kalibaru II. Namun karena usianya masih kurang satu bulan dari ketentuan, ia akhirnya dialihkan dan diterima di SDN Kalibaru III.
Di tengah kesibukan mengurus anak, Satiri juga harus menyesuaikan diri dengan sistem komunikasi sekolah yang kini menggunakan grup WhatsApp dan barcode.
Bagi Satiri, tantangan terbesar bukanlah barcode yang sulit dipindai atau kesibukan menyiapkan perlengkapan sekolah. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan Deli tetap tumbuh percaya diri meski harus menjalani masa kecil tanpa kehadiran seorang ibu.
Sejak istrinya meninggal ketika Deli masih duduk di bangku taman kanak-kanak, sang ayah berusaha membiasakan putrinya menjadi anak yang mandiri. Karena itu, hari pertama sekolah yang sering kali diwarnai tangis dan rasa takut justru dilalui Deli dengan lebih tenang.
Di balik langkah kecil Deli memasuki gerbang sekolah, ada perjuangan seorang ayah yang setiap pagi memulai hari lebih awal, mengambil peran ganda sebagai ayah sekaligus ibu agar putrinya dapat memulai babak baru pendidikannya dengan penuh semangat.
