Hashim Soroti Banyaknya Kasus TBC di Indonesia, Dipicu Permukiman Kumuh

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani, Ketua Satgas Perumahan Hashim Djojohadikusumo, Menteri PKP Maruarar Sirait, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menghadiri groundbreaking rumah susun bersubsidi di Cikarang, Jawa Barat, Minggu (8/3/2026). Foto: Widya Islamiati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani, Ketua Satgas Perumahan Hashim Djojohadikusumo, Menteri PKP Maruarar Sirait, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menghadiri groundbreaking rumah susun bersubsidi di Cikarang, Jawa Barat, Minggu (8/3/2026). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Ketua Satuan Tugas Percepatan Pembangunan Perumahan, Hashim Djojohadikusumo, menyoroti masalah kesehatan di Indonesia. Bahkan, menurutnya, Indonesia menjadi negara kedua dengan kasus terbanyak TBC.

Hal tersebut disampaikan Hashim dalam acara Pencanangan Pembangunan Hunian untuk Mendukung Program 3 Juta rumah di kawasan Manggarai, Jakarta, Senin (16/3).

Awalnya, Hashim menyebut, hunian yang layak menjadi salah satu penentu tingkat kesehatan masyarakat.

"Kita sudah tahu bahwa di Indonesia ini, kita negara Indonesia nomor dua terjelek dalam bidang kesehatan terutama TBC," ujar Hashim.

Hashim bilang, dari segi jumlah penderita TBC, Indonesia posisinya berada di bawah India. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya pemukiman kumuh.

"Itu diakibatkan apa? Diakibatkan perumahan yang berdekatan, di tempat kumuh. Slum-slum-nya di India, slum di Indonesia, itu menyebabkan anak-anak kita banyak mengidap TBC," bebernya.

Karenanya, salah satu upaya untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memperbaiki masalah pemukiman. Kini, pemerintah memang tengah melakukan program 3 juta rumah bagi masyarakat.

"Kita sudah tahu kenapa anak-anak kita yang seharusnya dan sebetulnya dalam intinya mereka pintar dan cerdas, tapi karena ada hambatan dari lingkungan, hambatan kesehatan dan sebagainya, skor atau pencapaian akademis sekolah rata-rata rendah. Karena kesehatan dan lingkungan," jelas Hashim.