Hasil Konkret Jadi Pembeda Presidensi Indonesia pada G20

22 September 2022 18:02
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Logo Presidensi G20 Indonesia 2022 di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (21/1/2022). Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Logo Presidensi G20 Indonesia 2022 di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (21/1/2022). Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Presidensi Indonesia pada G20 akan segera mencapai puncak. Pada 15 sampai 16 November 2022 Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 bakal digelar di Bali.
ADVERTISEMENT
Sepanjang kepemimpinan Indonesia pada organisasi negara-negara perekonomian terbesar di dunia, ada satu perbedaan yang dilakukan oleh Indonesia. Hasil konkret akan dipilih sebagai outcome dibanding rekomendasi kebijakan.
Staf Khusus Program Prioritas Kementerian Luar Negeri sekaligus Co-Sherpa G20, Dian Triansyah Djani, menjelaskan yang dimaksud dengan concrete deliverables atau hasil konkret berbentuk proyek yang akan dilakukan oleh negara anggota G20.
Dian Triansyah Djani (tengah) dalam pertemuan DK PBB di New York. Foto: Dok. PTRI New York
zoom-in-whitePerbesar
Dian Triansyah Djani (tengah) dalam pertemuan DK PBB di New York. Foto: Dok. PTRI New York
“Inilah yang berbeda dengan presidensi G20 di tahun sebelumnya, Indonesia akan berfokus pada concrete deliverables. Saat ini kami sudah menerima lebih dari 300 proyek yang sedang kami kurasi,” ucap Dian dalam press briefing Kemlu Kamis (22/9).
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Dian tidak mengungkap proyek-proyek apa saja yang tengah dikurasi demi menjadi hasil konkret G20.
Sehari sebelum, di sela Sidang Majelis Umum PBB di New York Menlu Retno Marsudi turut menyampaikan mengenai tujuan presidensi Indonesia pada G20 ialah mencapai hasil konkret.
ADVERTISEMENT
Retno percaya dengan adanya hasil konkret maka manfaat G20 bakal dirasakan secara luas oleh masyarakat dunia.
“Ini adalah kali pertama di mana concrete deliverables G20 difokuskan tidak hanya untuk anggotanya, tapi semua negara. Terdapat 243 proposal dari negara-negara dan 43 proposal dari organisasi internasional, yang akan menguntungkan semua, khususnya negara-negara berkembang," kata Menlu Retno.
Penulis: Thalitha Yuristiana.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020