Hasil Muktamar Muhammadiyah: Musyawarah 5 Menit Setujui Haedar Nashir Ketum

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam Pidato Iftitah di Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah, Edutorium UMS, Surakarta, Sabtu (19/11). Foto: PP Muhammadiyah
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam Pidato Iftitah di Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah, Edutorium UMS, Surakarta, Sabtu (19/11). Foto: PP Muhammadiyah

Muktamar ke-48 Muhammadiyah menetapkan Haedar Nashir menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2022-2027. Selain itu, Abdul Mu'ti ditetapkan sebagai Sekretaris Umum.

Penetapan Ketum dan Sekum PP Muhammadiyah berlangsung lebih cepat 3 jam dari rangkaian acara yang telah ditetapkan.

"Rapat memutuskan Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2022 2027 adalah Bapak Prof dr Haedar Nashir," ucap Ketua Panitia Pemilihan, Dahlan Rais, di lokasi Muktamar, Edutorium UMS, Surakarta, Solo, Minggu (20/22)

"Memutuskan Sekretaris Umum adalah Prof dr Abdul Mu'ti," imbuhnya.

Penetapan Haedar Nashir dan Abdul Mu'ti senagai Ketum dan Sekum PP Muhammadiyah 2022-2027. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Haedar Nashir Kembali Pimpin Muhammadiyah

Dalam sambutannya, Haedar Nashir menuturkan kepemimpinan yang dianut Muhammadiyah prinsipnya adalah kolektif kolegial.

"Saya selaku ketua umum, posisi saya hanya sejengkal didepankan dan seinci ditinggikan. Tapi prinsip kepemimpinan [Muhammadiyah] adalah kolektif kolegial," kata Haedar Nashir di Edutorium UMS, Surakarta, Minggu (20/11).

Haedar menyampaikan, ke depannya kepemimpinan terpilih akan menjalankan program yang arahnya lebih transformatif baik untuk program secara umum maupun bidang-bidang yang arahnya pada Islam Berkemajuan.

"Kami mengemban tugas untuk mensosialisasikan serta menjadikan pandangan Islam Berkemajuan dalam Risalah Islam Berkemajuan yang telah ditetapkan untuk mendialogkan kepada berbagai kalangan di dalam dan luar negeri, agar menjadi alam pikiran yang semakin luas dan terintegrasi dengan baik di persyarikatan," ucapnya.

"Islam yang membawa damai, Islam yang menyatukan, Islam yang membangun optimisme, tetapi juga Islam yang menghadirkan kemajuan hidup seluruh masyarakat bangsa negara dan seluruh kemanusiaan global," beber Haedar.

Haedar juga mengungkap, setelah Muktamar, PP Muhammadiyah akan fokus untuk menyelesaikan permusyawaratan di tingkat provinsi (PWM), PDM (kabupaten/kota), PCM (kecamatan), PRM (kelurahan/desa).

"Kita jadwalkan sedemikian rupa 3 bulan ke depan semua permusyawaratan sudah selesai," pungkasnya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam Pidato Iftitah di Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah, Edutorium UMS, Surakarta, Sabtu (19/11). Foto: PP Muhammadiyah

Profil Haedar Nashir

Haedar Nashir kembali dipercaya untuk mengemban jabatan sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah untuk periode 2022-2027. Penetapan Haedar sebagai Ketum dilakukan melalui musyawarah 13 Anggota PP Muhammadiyah 2022-2027.

Lantas, bagaimanakah sosok Haedar Nashir yang kini menjabat di periode kedua?

Cendekiawan muslim kelahiran Bandung, 25 Februari 1958 ini menempuh pendidikan Sarjana di STPMD Yogyakarta dengan mengambil Program Studi Ilmu Sosiatri.

Haedar muda melanjutkan pendidikannya ke tingkat S2/master di Prodi Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sementara untuk pendidikan S3, Haedar memilih prodi yang sama yakni Sosiologi di UGM.

Haedar pertama bergabung dengan organisasi Muhammadiyah sejak tahun 1983 dengan nomor anggota 545549. Saat itu, dia dipercaya untuk menduduki posisi Ketua I Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Lalu pada tahun 1985-1990, karier Haedar di Muhammadiyah makin mengkilap saat dipercaya menduduki posisi Ketua Departemen Kader PP Pemuda Muhammadiyah, hingga menjadi Ketua Badan Pendidikan Kader (BPK), dan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah.

Karier Haedar di Muhammadiyah pun terus meroket seiring intelektualitas dan keilmuannya yang makin mumpuni. Hal itu terbukti dari diamanahkannya posisi sebagai Sekretaris ketika Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii) menjabat ketua umum PP Muhammadiyah. Setelahnya, Haedar pernah menjadi salah satu Ketua PP Muhammadiyah.

Puncaknya, pada Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar, Jumat, 7 Agustus 2015, Haedar Nashir memperoleh suara terbanyak 1.987 suara dan ditetapkan sebagai ketua umum berdasarkan musyawarah 13 orang.

Dalam pemilihan itu ada Yunahar Ilyas (alm) mendapat 1.928 suara, Abdul Mu'ti sebanyak 1.802 suara, Dahlan Rais sebanyak 1.827 suara, dan Busyro Muqoddas sebanyak 1.881 suara.

Di Muktamar Makassar Haedar ditetapkan sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2015-2020. Namun karena pandemi, muktamar mundur 2 tahun dan baru terlaksana saat ini di Solo.

Selain aktif di Muhammadiyah, Haedar juga tercatat sebagai Guru Besar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ia dipercaya untuk mengajar di Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Yogyakarta.

Di samping itu, Haedar juga tergabung dalam sejumlah organisasi seperti Asosiasi Dosen Ilmu Pemerintahan Seluruh Indonesia (ADIPSI) sejak 2011 hingga sekarang; Asosiasi Ilmu Pemerintahan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (AIPPTM) 2016-2021; serta ASPA sejak 2013 hingga sekarang.

Haedar Nashir dan Abdul Mu'ti kembali menjadi Ketua Umum dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah periode 2022-2027. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Anwar Abbas Ungkap Musyawarah Pilih Ketum Muhammadiyah

Anwar Abbas yang juga terpilih sebagai Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2022-2027 mengatakan musyawarah 13 anggota PP Muhammadiyah ini berlangsung kolektif kolegial.

Muhammadiyah memang tidak menerapkan voting untuk memilih ketua umum dan sekum, tapi lewat musyawarah oleh 13 orang yang dipilih peserta Muktamar.

Anwar menceritakan, proses musyawarah 13 formatur menentukan ketum dan sekum berlangsung sangat cepat, sehingga penetapan sudah bisa dilakukan pada siang harinya.

"Ini tadi semua acara sudah dilakukan, cuma acaranya cepet semuanya. Bukan karena dipercepat, tapi memang cepat selesainya. Karena itu kan bahan sudah dikasih sebelumnya ya dan enggak masalah," katanya.

Menurutnya, sebenarnya rapat formatur itu bisa diselesaikan dalam waktu 5 menit saja. 12 formatur satu suara setuju Haedar Nashir sebagai ketum.

"Sebenarnya rapat formatur 5 menit selesai itu, kalau sebenarnya, kalau mau dipercepat ya," katanya.

Tidak ada perdebatan sama sekali dari formatur pada rapat tadi. Anwar Abbas pun menegaskan dia sangat-sangat setuju Haedar Nashir kembali jadi ketum.