Hasto Beri Kuliah Umum di UBK, Bicara Pemikiran Geopolitik Sukarno
ยทwaktu baca 4 menit

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan sekaligus Dosen Tetap Universitas Bung Karno (UBK), Hasto Kristiyanto, memberikan kuliah umum bertajuk "Pemikiran Geopolitik Bung Karno" dalam rangka ulang tahun ke-27 UBK di Aula Ir. Soekarno, Kampus UBK, Jakarta, Kamis (11/6) siang.
Dalam kuliah umum tersebut, Hasto memaparkan relevansi pemikiran geopolitik Presiden pertama RI tersebut dalam menghadapi dinamika hubungan internasional dan berbagai tantangan global saat ini.
Menurut Hasto, Bung Karno memiliki kerangka berpikir geopolitik yang sistematis dan dapat menjadi rujukan dalam memahami hubungan antarnegara maupun penyelesaian berbagai konflik internasional.
Ia menjelaskan bahwa pemikiran geopolitik Bung Karno diawali dengan perumusan kepentingan nasional atau national interest sebagai fondasi utama kebijakan luar negeri. Setelah itu, Indonesia perlu membangun keterlibatan global melalui diplomasi dan kerja sama internasional, yang kemudian diperkuat melalui diplomasi pertahanan.
"Tradisi intelektual Soekarno ini adalah sebagai suatu cara untuk merumuskan suatu national interest kita atas dasar pertarungan geopolitik dunia," kata Hasto.
Menurut dia, siklus geopolitik tersebut memungkinkan Indonesia memainkan peran yang lebih aktif dalam menciptakan perdamaian dunia sekaligus tetap memperjuangkan kepentingan nasional.
Hasto menilai, pendekatan tersebut tidak hanya relevan untuk merespons konflik di Timur Tengah, tetapi juga berbagai ketegangan geopolitik lainnya, termasuk di Semenanjung Korea maupun Selat Taiwan.
"Kita mau menyelesaikan konflik di Semenanjung Korea, Korea Utara, Korea Selatan, kita bisa menggunakan siklus ini. Kita mau menyelesaikan apa yang terjadi di Taiwan, kita bisa menggunakan siklus ini di dalam diplomasi luar negeri dan pertahanan kita yang didorong oleh national interest kita," ujar Hasto.
Dalam kesempatan itu, Hasto juga menyinggung pentingnya diplomasi yang dirancang secara matang sebagaimana dilakukan Bung Karno saat mempersiapkan Konferensi Asia-Afrika (KAA) tahun 1955.
Menurutnya, keberhasilan diplomasi tidak hanya ditentukan oleh substansi perundingan, tetapi juga oleh kemampuan mengelola hubungan antarpemimpin dan antardelegasi melalui perencanaan yang rinci.
"Ini sebagaimana Indonesia, Bung Karno merencanakan secara detail Konferensi Asia-Afrika itu sampai mahasiswa-mahasiswi direkrut. Ini adalah the art of diplomacy," kata Hasto.
Selain membahas geopolitik, Hasto menekankan pentingnya perguruan tinggi untuk terus menghidupkan dan mengkaji pemikiran para pendiri bangsa melalui ruang-ruang akademik.
Ia mengatakan, Universitas Bung Karno memiliki tanggung jawab untuk menjadi pusat pengembangan pemikiran Bung Karno sekaligus mendorong lahirnya gagasan-gagasan kebangsaan yang relevan dengan tantangan masa kini.
"UBK harus menggelorakan tekad dan semangat untuk menggali kembali seluruh pemikiran-pemikiran para pendiri bangsa di dalam langkah kita. Saya ingat dari definisi ini adalah salah menempatkan. Nanti saya sudah mengkaji," ujarnya.
Dalam kuliah umum tersebut turut hadir Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Puti Guntur Soekarno, Romy Soekarno, Once Mekel, Sofyan Tan, Ketua Yayasan Pendidikan Soekarno, Muhammad Marhaendra Putra, serta sivitas akademika Universitas Bung Karno.
Sisi Humanis Sukarno
Dalam kesempatan yang sama, Hasto menyinggung perhatian besar Sukarno terhadap masa depan anak-anak Indonesia. Menurut Hasto, Bung Karno memandang pembangunan bangsa harus dimulai dari upaya menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.
"Kita berpikir tentang masa depan itu dari anak-anak kita. Bung Karno sudah memikirkan bagaimana anak-anak Indonesia itu sehat jasmani dan rohani," kata Hasto.
Hasto menjelaskan, kepedulian Bung Karno terhadap kualitas generasi penerus bangsa tercermin melalui penyelenggaraan Konferensi Dokter Anak Asia-Afrika. Dalam kesempatan tersebut, Hasto bahkan sempat memberikan kuis kepada mahasiswa mengenai alasan di balik penyelenggaraan konferensi tersebut.
Menurutnya, forum internasional itu digagas untuk membahas berbagai pendekatan ilmiah dalam menciptakan generasi muda yang sehat dan cerdas di kawasan Asia dan Afrika.
Hasto mengatakan Bung Karno memahami bahwa kecerdasan anak-anak tidak dapat dipisahkan dari pemenuhan kebutuhan gizi sejak usia dini.
"Menindaklanjuti Konferensi Dokter Anak Asia-Afrika agar anak-anak Indonesia cerdas, maka harus ditopang dengan makanan yang bergizi," ujar politisi asal Yogyakarta itu.
Dari pemikiran tersebut, Bung Karno kemudian menggagas lahirnya buku Mustika Rasa yang tidak hanya berisi kumpulan resep masakan Nusantara, tetapi juga menjadi bagian dari strategi membangun kedaulatan pangan nasional.
Hasto menjelaskan, buku setebal lebih dari seribu halaman itu mendokumentasikan kekayaan kuliner Indonesia dari berbagai daerah dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang bernilai gizi tinggi.
"Maka kemudian dalam kepemimpinan beliau, ada buku Mustika Rasa. Ini memuat suatu rahasia bagaimana Indonesia dengan kekayaan kuliner yang luar biasa, dengan bumbu-bumbuan yang bercita rasa surga," ungkap Hasto sembari menunjukkan replika buku tersebut.
Buku Mustika Rasa memuat beragam bahan pangan lokal, mulai dari jagung, petai, cabai, kacang-kacangan, tempe, hingga tahu. Menurut Hasto, seluruh resep yang dihimpun dalam buku tersebut dirancang agar masyarakat Indonesia memperoleh asupan gizi yang baik tanpa bergantung pada bahan pangan impor.
